Reynal berjalan di koridor menuju ke arah ruang kepala sekolah, diikuti Reski dan gengnya dan Fiki berjalan di sampingnya.
Sesampainya di depan ruangan kepala sekolah, Reynal membuka pintu lalu berjalan masuk ke dalam ruangan.
“Fiki, kenapa kamu ada di sini? Kamu ikut berkelahi juga?” ucap Pak Joan, kepala sekolah, saat melihat Fiki memasuki ruangan.
“Saya gak ikutan. Pak. Tapi, abang saya yang terlibat. Saya gak enak, makanya saya ikut dia,” jelas Fiki menunjuk Reynal.
“Lah, kamu siapa? Kok bapak baru liat kamu?” tanya pak Joan.
“Saya Reynal, Pak. Baru masuk tadi pagi. Baru mau ke sekolah, bosen di rumah” ucap Reynal.
“Oh, Reynal. Kok baru masuk buat masalah?” tanya Pak Joan sedikit mengubah sikapnya menjadi sedikit lembut kepada Reynal.
“Dia duluan, Pak. Masa si Reski ngehajar adek saya di belakang sekolah. Gak terima dong saya. Ya saya hajar balik. Udah dikasih peringatan eh malah bawa gengnya ke kantin. Mainnya keroyokan pada babak belur juga. Dasar preman sekolah, belum ketemu preman jalanan ya?” ucap Reynal dengan nada sedikit menghina Reski dan gengnya
“Kamu ini… Ya sudah, kalian kembali ke kelas masing-masing. Jangan membuat masalah lagi,” ucap Pak Joan.
“Gak di hukum, Pak?” tanya Reynal.
“Kamu mau di hukum ya?” balas Pak Joan pada Reynal.
“Ya… enggak, Pak!” jawab Reynal.
“Ya udah sana… Bentar lagi bel masuk,” ucap Pak Joan.
Setelah itu, mereka pun meninggalkan ruang kepala sekolah. Saat berjalan, Reski dan gengnya hanya menunduk, tak berani menatap ke arah Reynal
“Gua ingetin sama kalian… Kalau kalian ganggu Fiki lagi, habis kalian!” Ancam Reynal pada Reski dan gengnya di sela perjalanan.
Reski dan gengnya hanya menunduk dan tak berani bersuara. Reynal dan Fiki meninggalkan Reski dan gengnya menuju ke arah kantin.
Reynal dan Fiki masuk ke dalam kantin, lalu duduk di salah satu sudut kantin.
“Kak, mau pesen?” tanya Fiki.
Pelayan kantin pun datang menghampirinya.
“Iya dek, mau pesan apa? Eh, kan kalian baru selesai makan tadi. Kok mesen lagi?” ucap kakak pelayan yang cantik itu.
“Yaelah, Kak… kami kan laper, Kak. Belum puas tadi eh malah ada yang ngeganggu,” oceh Reynal.
“Kak, gak baik lho nolak rezeki” canda Fiki.
“Ya udah.. Mau mesen apa?” ucap kakak pelayan itu.
“Oh iya, Kak, mau nanya nama kakak siapa?” tanya Reynal.
“Nama kakak Dinda, memangnya kenapa?” balas Dinda.
“Enggak… cuma mau tau aja,” jawab Reynal.
“Eh iya, mau mesen apa lagi nih?” ucap Dinda.
“Bakso, martabak, sama tahu goreng, Kak. Elu Rey?” ucap Fiki.
“Samain aja,” ucap Reynal.
“Jadi baksonya dua porsi, martabaknya dua, lah terus tahu gorengnya?” konfirmasi Dinda.
“Martabaknya lima belas ribu, Kak. Terus tahu gorengnya sepuluh ribu aja,” ucap Fiki.
“Buset… banyak amat?” Reynal kaget.
“Biarin… gua laper!” timpal Fiki.
“Tunggu ya?” Dinda merapikan kertas pesanan.
“Iya, kakak yang cantik…” ucap Reynal tersenyum pada Dinda.
Melihat senyum itu, Dinda tidak memperhatikan meja di depannya.
Bruukh!!!
“Kak, kakak gak papa, kan?” ucap penghuni meja yang di tabrak Dinda
“Iya kakak gak papa. Maaf ya, kakak gak sengaja…” Dinda tampak kikuk.
“Iya, kak gak papa kok” ucap Lena, salah satu penghuni meja yang ditabrak Dinda.
Dinda pun kembali ke kantin menyerahkan pesanan itu pada ibu kantin. Tak lama, pesanan mereka pun sampai.
“Selamat menikmati” Dinda pun meninggalkan tempat mereka.
“Wah, ngiler… Selamat makan!” Fiki langsung menyantap baksonya hingga ludes tak tersisa. Bahkan, kuahnya dia minum.
“Dasar bocah, makannya pelan-pelan aja!” ucap Reynal sambil membersihkan mulut Fiki menggunakan sapu tangan kesayangannya.
“Gua bukan bocah dan juga gua bisa bersihin sendiri,” ucap Fiki merampas sapu tangan itu.
“Terserah lu deh!” Reynal pun kembali menikmati bakso pesanannya.
Fiki membuka bungkus martabaknya, lalu mengambil sepotong dan memasukkannya ke mulut.
“Emm.. martabak di sini emang enak!” ucap Fiki.
“Ah masa sih? coba…” Reynal menggeser mangkuk baksonya yang sudah kosong.
Reynal mengambil sepotong lalu memakannya.
“Wah bener, enak banget! Kemaren gua cuma beli bakwan aja,” ucap Reynal.
“Ya udah, makan… Entar gua habisin nih!” ancam Fiki.
Layaknya bocil, mereka berdua berebut martabak hingga habis. Melihat tingkah lucu mereka, Dinda menahan tawanya.
“Hah… kenyang juga!” ucap Reynal.
“Masih ada tahu goreng nih,” seru Fiki.
“Buat lu aja deh, gua dah gak kuat!” timpal Reynal.
“Pokoknya lu harus cobain. Buka mulut, aaa…” Fiki mengambil satu tahu goreng lalu menyuapi Reynal.
“Gua udah gak kuat, Fik. Lu mau gua mati kekenyangan?” ucap Reynal.
“Biarin, dari pada mati kelaparan. Aaa…” ucap Fiki. Dengan terpaksa, Reynal memakan tahu goreng itu dari tangan Fiki.
Melihat Fiki yang begitu dekat dengan Reynal, para siswi di dalam kantin sangat iri. Fiki dengan bebas berbicara dan juga menyuapi Reynal.
“Kak Dinda, mau bayar!” panggil Reynal.
“Iya!” Dinda pun berjalan menghampiri meja Reynal dan Fiki.
“Semuanya berapa, Kak?” tanya Reynal.
“Semua totalnya yang tadi itu nasi gorengnya dua puluh ribu. Es tehnya sepuluh ribu. Udah tiga puluh ribu. Terus sekarang martabaknya lima belas ribu, baksonya dua puluh ribu, tahunya sepuluh ribu. Jadi empat puluh lima ribu. Totalnya tujuh puluh lima ribu.” jelas Dinda.
“Wah buset banyak amat ini, Kak?” ucap Reynal sambil mengeluarkan selembar uang seratus ribu.
“Nih kembaliannya,” ucap Dinda
“Kak Dinda sigap bener…” sela Fiki.
“Ya udah, Kak, Makasih, kami pergi dulu” Reynal pamit.
Mereka berdua berjalan ke luar kantin. Di pintu kantin, mereka dihentikan oleh seorang gadis.
“K…kak Reynal, aku menyukaimu…” ucap gadis itu memberi Reynal sebuah surat dan sebatang coklat
“Wah sumpah, ditembak langsung…” goda Fiki.
“Nama kamu siapa?” tanya Reynal.
“Amira, Kak” jawab Amira.
“Ya udah Amira, maaf ya… Saya gak bisa… Saya lebih menyukai adik saya… Lebih baik Amira sekolahnya yang rajin,” ucap Reynal sambil merangkul Fiki.
“Ih, apaan sih? jangan buat orang lain salah paham deh!” protes Fiki sambil melepas rangkulan Reynal.
“Ya udah, Kak. Makasih…” ucap Amira lalu meninggalkan mereka berdua.
“Jahat bener lu, Rey. Kasian tuh anak orang lu tolak?” ucap Fiki sambil berjalan menuju kelasnya bersama Reynal.
Reynal berhenti lalu menyudutkan Fiki ke tembok yang tidak jauh dari mereka.
“Rey, lu apa-apa sih? Kalau ada yang liat gimana entar mereka salah paham lagi!” ucap Fiki mendorong Reynal.
“Fik, apa gua jahat?” ucap Reynal.
“Ya, bagi gua lu gak jahat” ucap Fiki.
“Apakah lu masih bilang gua baik setelah lu tau gua udah bunuh orang?” ucap Reynal.
Deg… Mendengar hal itu, Fiki seketika merasakan sesuatu yang aneh.
“Walaupun lu pernah bunuh orang, tapi lu selalu nolongin gua. Lu itu pahlawan gua sekaligus abang gua,” ucap Fiki yang dibalas pelukan oleh Reynal.
“Makasih, Fik. Gua lega denger lu ngomong gitu,” ucap Reynal sambil melepaskan pelukannya. lalu berjalan ke arah kelasnya.
