Keesokan harinya…

“Pagi Non Amira! Nih mbo bikinin nasi goreng kesukaan non” safa si mbo.

“Pagi mbo, wah pasti enak. Oh iya mbo, Kak Zahra belum pulang ya?” Tanya Amira.

“Semalam Non Zahra udah pulang, tetapi tadi subuh dia pergi lagi katanya mau ke luar kota.”

“Ke luar kota? Kok gak bilang sama Amira sih?” Raut wajah Amira berubah, dia sedih karena kakaknya sudah barjanji akan pulang dan menemuinya.

 “Semalam non Zahra ke kamar non Amira, tetapi non udah tidur pulas. Tadi juga mau pamit, tetapi non Amira belum bangun. Dia gak mau bangunin non, takut ganggu katanya” jelas si mbo.

Terdengar dering ponsel Amira berbunyi.

“Halo kak” safa Amira.

“Halo dek, maafin kakak ya, hari ini kakak harus ke luar kota lagi karena ada urusan kantor, tadi pagi kakak gak sempat pamit sama kamu.”

“Iya kak mbo udah jelasin semuanya, gak papa kok.”

“Makasih ya dek. Udah dulu ya soalnya kakak masih di jalan.”

“Iya kak kalau udah sampai kabarin Amira yah” Amira menutup teleponnya.

“Dari Non Zahra ya?” Tanya si mbo.

” Iya mbo.” jawab Amira.

“Oh iya non, mbo hampir lupa hari ini Pak Joko gak masuk kerja. Anaknya masuk Rumah sakit, kemarin keserempet motor.”

“Innalillahi, terus gimana kondisi anaknya?”

“Kurang tahu juga sih non, tetapi nanti mbo mau izin ke rumah sakit jenguk anak Pak Joko.”

“Hmm gimana kalau mbo pergi setelah Amira pulang sekolah, aku juga mau ikut.”

“Iya non, terus Non Amira ke sekolahnya di antar siapa? Mau mbo antar? Tetapi naik angkot, hehe.”

“Gak usah mbo, Amira pesan taksi online aja.” Amira menolak ajakan mbo.

Sudah setengah jam Amira menunggu taksi online, namun belum datang juga. Tak lama kemudian ponselnya berdering, Amira bergegas membukanya.

“Loh kok di cancel sih? Gimana nih aku harus naik apa?” Amira panik, sesekali dia melirik ke kanan dan ke kiri menunggu angkot yang lewat.

Pip pip pip

Dari arah kanan ada motor yang berhenti tepat di depan Amira. Seorang pemuda turun dari motor matic berwarna merah dan menghampiri Amira.

Pemuda itu bernama Raka, dia siswa baru pindahan dari Bandung. Raka anak yang jahil dan humoris, tetapi memiliki sifat yang baik dan peduli. Sejak pertama bertemu Amira, Raka telah menaruh hati pada gadis berparas cantik tersebut, sifat pendiam dan cuek yang dimiliki Amira membuatnya tertarik.

“Apa kabar nona Amira? Ada yang bisa saya bantu?” Safa Raka.

” Ngapain kamu di sini?”

“Saya ingin menawarkan bantuan, mungkin ada yang bisa saya bantu?”

“Gak usah, mendingan kamu pergi dari sini.”

“Ayolah Amira aku tau kamu pasti butuh tumpangan kan? Sopir kamu mana? Kamu gak diantar ke Sekolah?” Tanya Raka dengan penasaran.

“Itu bukan urusan anda.” Amira meninggalkan Raka.

Dari arah kanan ada mobil yang berjalan dengan kecepatan tinggi dan hampir saja menabrak Amira.

Pip pip pip

“Aaaaa” dengan sigap Raka menangkap tubuh Amira.

“Amira kamu gak papa kan?” Tanya Raka panik.

“Lepasin aku” Amira melepaskan pelukan Raka.

Wajar saja Amira tidak terbiasa pergi sendiri, setiap ingin keluar selalu diantar sama pak Joko sopir pribadinya yang telah mengabdi selama 12 tahun.

“Udahlah Amira mendingan bersama aku, ini juga udah jam berapa nanti telat loh, mau sampai kapan kamu nunggu angkot di sini?” Bujuk Raka.

“Gimana ya? Kalau aku tetap nolak ajakan Raka nanti aku telat gimana? Mau pesan taksi juga udah keburu telat,” batin Amira.

“Jadi gimana tetap nolak nih?”

Continue to the next part…

(Visited 30 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *