Sebuah rumah megah yang memadukan keindahan arsitektur Inggris dan Jepang berdiri di tengah pekarangan hijau yang luas. Taman rimbun mengelilinginya, dihiasi pepohonan tinggi serta tanaman bonsai yang tertata indah. Keluarga Fujiwara Daichi telah menempati rumah itu sejak anak mereka berusia sembilan tahun. Kini, Fujiwara Maiya telah beranjak remaja dan duduk di bangku sekolah menengah.

Teman-teman sebayanya menganggap Maiya sebagai sosok yang kesepian karena jarang berinteraksi. Namun, Maiya sendiri merasa bahagia, meski benar ia sedikit kesepian. Hari itu, ia sedang berbincang dengan ayahnya dan Menoto, pelayan yang telah lama dipercaya keluarga di ruang kerja. Sekolah diliburkan secara mendadak setelah kebakaran melahap habis bangunan sekolahnya, Tenmine. Butuh waktu lama untuk menunggu Tenmine stabil. Menoto pun menyarankan agar Maiya bersekolah sementara di Hakumei.

“Tidak perlu. Kita bisa memanggil guru ke rumah. Aku tidak yakin Hakumei dapat memberikan yang terbaik untuk anakku,” ujar Daichi, ayah Maiya, sambil melepas kacamatanya.

“Aku mau. Sepertinya akan membosankan jika terus berada di rumah,” ujar Maiya.

Keputusan akhirnya membawa Fujiwara Maiya bersekolah di Hakumei. Hari pertama di Hakumei tak berjalan mulus. Maiya justru sekelas dengan Haru, seorang anak tengil yang dikenal sebagai perundung. Tak satu pun di sekolah itu yang tahu identitas asli Maiya.

Dengan sikapnya yang anggun dan tenang, Maiya tampak berbeda dari Haru, yang sering mencoba mencari perhatian dengan cara-cara kasar. Riasan tebal yang dipakai Haru hanya menambah kesan badut di wajahnya. Maiya tahu, ia harus bersabar menghadapi semua ini.

Sementara itu, di rumah keluarga Fujiwara, Takara, ibu Maiya, menyadari sesuatu yang menggelisahkan hatinya. Koleksi aksesorisnya telah dicuri. Bersama Menoto, ia mencoba menebak siapa pelakunya.

“Hari itu aku mencari-cari gelangku. Pantas saja gak ada! Ada yang maling!” ujar Takara, resah.

Menoto menyebut beberapa nama yang mencurigakan, tetapi tanpa bukti, dugaan hanya berujung pada kebingungan. Keesokan harinya, saat baru tiba di kelas, Maiya dicegat Haru yang menatapnya dengan licik.

“Kau tahu harga jam ini?” tanya Haru, memperlihatkan jam tangan mewahnya.

Maiya menatap jam itu. Ia mengenalinya. Kalau tidak salah, ibunya memiliki beberapa yang serupa di ruang aksesoris.

“Kau dapat dari mana?” tanyanya. Haru mendengus.

“Ini dibeli, bukan asal dapat! Orang sepertimu tahu apa?”

“Orang seperti apa kau memangnya?” Maiya balik bertanya. Haru tak sempat menjawab.

Guru sudah datang, menandakan kelas akan dimulai. Sementara itu, Haru mulai merasa gelisah. Ia takut Maiya akan mengungkit pertanyaan tadi, karena sebenarnya, ia bukan siapa-siapa selain anak seorang pelayan rumah.

Malam itu, hujan mengguyur kediaman Fujiwara. Maiya belum tidur meski sudah larut. Ia asyik merajut boneka lalu tiba-tiba terdengar keributan dari kamar ibunya. Dengan hati-hati, Maiya turun dari ranjang dan mengintip dari celah pintu. Ia melihat Menoto berlutut, memohon ampun kepada ibunya.

“Berapa lama kau sudah bekerja di sini?” suara ibunya terdengar dingin.

“Aku sangat percaya padamu, tapi kenapa kau tega?” Menoto hanya bisa menangis dan mengulang-ulang kata, “Ampuni saya… ampuni saya…”

“Besok, kembalikan semua yang kau ambil. Kalau tidak, aku akan melaporkanmu ke polisi. Kau tahu kan? Tak ada lagi yang bisa menafkahi anakmu kalau kau mendekam di penjara.”

Keesokan paginya, Maiya berangkat sekolah lebih awal. Saat Haru tiba, wajahnya tampak gelisah. Maiya memperhatikan bahwa Haru tak lagi mengenakan jam tangan mewahnya.

“Kemana jam tangan mu?” tanya Maiya ketika ia menghampiri bangku Haru.

“Itu urusanku! Memangnya kenapa?” suara Haru terdengar tajam, seolah berusaha menyembunyikan sesuatu.

“Aku ingin menyewanya. 80 yen cukup?” Haru menelan ludah.

Dengan uang sebanyak itu, ia bisa membeli sepatu, tas, atau alat tulis baru. Malamnya, Haru membujuk ibunya untuk mencuri kembali jam tangan di rumah tempat ibunya bekerja. Setelah berusaha, akhirnya ia berhasil membujuknya, dan ibunya pun kembali mengulang kesalahan yang sama.

Hujan kembali turun di kediaman Fujiwara. Dengan langkah hati-hati, Maiya menyelinap ke ruang aksesoris ibunya. Ia menemukan Menoto di sana, tengah membuka laci kaca. Saat lampu dinyalakan, Menoto mematung, ketakutan.

“Saya… saya mohon…” suara Menoto bergetar. Maiya menarik napas panjang.

“Aku tidak akan memberitahu siapa pun. Tapi ada syarat.” Menoto menatapnya, bingung sekaligus berharap. Keesokan harinya, Haru mengetahui sebuah fakta yang membuatnya nyaris pingsan, hatinya tidak bisa tenang. Jantungnya terus berdebar, tubuhnya merinding, mengetahui bahwa Fujiwara Maiya adalah putri dari keluarga tempat ibunya bekerja.

Saat Maiya masuk kelas, ia berhenti karna tali sepatunya terlepas, tentu disengaja. Haru, yang melihatnya, tanpa berpikir panjang langsung berlutut untuk mengikatnya. Maiya menatapnya. Awalnya, ia mengira akan merasa puas melihat Haru tunduk padanya. Tapi saat melihat Haru menyentuh lantai dengan wajah ketakutan, perasaan itu lenyap.

“Tak perlu,” ucap Maiya singkat, lalu berjalan menuju bangkunya.

Kasihan. Selalu saja karena kasihan. Ia selalu saja merasa kasihan, dan itu membuatnya kesal. Maiya duduk menatap keluar jendela. Haru muncul di sampingnya, diam, hanya suara napasnya yang terdengar.

“Aku benar-benar minta maaf,” ucap Haru, suaranya lirih. “Aku tulus. Aku menyesal.”

Maiya menoleh. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Hanya senyum tipis yang nampak di wajahnya. Ia merogoh saku, lalu mengulurkan sebatang permen tusuk kepada Haru. Permen itu bukan sekadar permen. Itu adalah tanda bahwa ia menerima permintaan maafnya. Pada akhirnya, Maiya menyadari sesuatu, balas dendam bukanlah yang ia butuhkan. Yang ia butuhkan hanyalah satu kata, maaf.

(Visited 42 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *