Pagi hari itu, aku terlambat bangun karena libur sekolah. Di sekolahku, kami hanya belajar sampai hari Jumat saja karena kami sudah full day school. Ibu kemudian membangunkanku untuk sarapan terlebih dahulu. Tak lupa, ibu pun mengamanahkanku untuk memberikan makan kepada Cio. “Cio adalah nama burung kenariku.”

Setelah aku sarapan, aku pun ke belakang rumah untuk memberikan makan kepada Cio, burung kenariku yang memiliki suara yang khas dan goyangan yang menggemaskan. Tiba-tiba, ada suara yang memanggilku. Ternyata itu suara ayah. Aku pun bertanya, “Ada apa, Ayah?” Ayah kemudian bertanya, “Apa kamu sudah kasih makan burung kenari di belakang rumah?” Aku pun menjawab, “Sudah, Ayah.”

Kemudian aku baru mau keluar karena hari ini aku ada janji bersama temanku. Tapi, tiba-tiba aku mendengar suara ibu dari kamar. Ternyata ibu melihat kamarku yang masih berantakan. Ibu kemudian berkata, “Bersihkan dulu tempat tidurmu, baru kamu keluar main.” Dengan perasaan tak sabar, aku membersihkan tempat tidurku.

Tak lama, teman-temanku datang dan mengajakku keluar untuk bermain. Aku pun pamit kepada mamaku. Berhubung tugas yang menjadi rutinitasku setiap hari sudah selesai, maka ibu pun memberikan izin kepadaku untuk keluar bermain bersama teman-temanku.

Aku dengan perasaan gembira berangkat bersama teman-temanku bermain. Karena keseruan kami bermain, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12. Aku harus pulang ke rumah untuk melaksanakan salat Zuhur. Aku kemudian pamit pulang kepada teman-temanku karena takut kalau terlambat, nanti ibuku marah.

Setelah sampai di rumah, ternyata ibu telah menungguku di depan pintu. Aku pun langsung mengambil air wudu untuk menunaikan salat. Setelah salat, aku mendengar suara ayah dari belakang rumah. Suara yang begitu keras. Aku pun langsung bergegas ke belakang. Ternyata, di sana aku melihat Cio yang ada dalam sangkar telah mati.

Ayah kemudian bertanya kepadaku, “Apa benar tadi kamu sudah kasih makan Cio?” Aku menjawab, “Iya, Ayah, tadi saya sudah kasih makan.” Aku jadi kebingungan, berpikir dalam hati. Apakah Cio mati karena aku yang memberikan makan dan tanganku masih bau ikan tadi…? Ayah pun lanjut berbicara, “Kalau begitu, ambil kain di dalam, kita kubur Cio.” Dengan perasaan sedih, aku bergegas mengambil kain dalam rumah dan memberikannya kepada ayah. Aku pun tak mau melewatkan hari terakhirku bersama Cio. Dengan perasaan bersalah kepada Cio, akhirnya aku memilih untuk menyaksikan Cio dikubur di belakang rumahku.

(Visited 23 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *