Oleh: Andi Annisa Nayla Rafeyfa
Ingin rasanya aku kembali pada 21 Mei 2022, hari di mana aku mengenalnya, dan dia mengenalku sebagai perempuan yang sangat menyukai warna merah muda, memiliki suara yang unik dan khas, serta berperilaku sangat humoris. Sampai pada suatu ketika, 2 Maret 2023, aku dan dia menjadi satu. Mengukir berbagai kenangan yang hanya dapat diabadikan dalam ingatan dan hati.
Satu hal yang sangat membingungkan: aku bisa mencintainya tanpa pernah berhadapan langsung dengannya, bahkan tanpa sekalipun bertemu dengannya. Dia selalu menanyakan alasan mengapa aku mencintainya, dan setiap kali pertanyaan itu muncul, suaraku mendadak hilang, seolah memberi sinyal bahwa aku tak mampu menjawabnya. Namun, satu hal yang harus dia tahu kalau aku mencintainya tanpa alasan. Menurutku, cinta tak perlu dijelaskan dengan alasan mengapa ia hadir dalam hati seseorang. Cinta yang awalnya ku kira akan selamanya, ternyata harus berakhir begitu saja.
Seorang lelaki dua tahun lebih tua dariku, yang memiliki mata dan suara begitu indah, bernama Yudha. Dialah cinta pertamaku saat usiaku 16 tahun. Aku tak tahu persis seperti apa postur tubuhnya secara keseluruhan, bagaimana sifat aslinya jika tak bersamaku, dan masih banyak hal lain yang belum aku ketahui tentangnya. Namun, ada beberapa hal yang pasti tentang dia: Yudha adalah lelaki yang sangat pekerja keras dan mandiri.
Bagaimana tidak? Setelah lulus sekolah menengah atas, dia memilih bekerja untuk membantu keuangan keluarganya. Di sisi lain, aku adalah gadis yang sangat menyukai warna merah muda. Berbeda dengan Yudha yang sejak kecil hidup dalam kesederhanaan, aku justru dibesarkan dalam kecukupan dan kasih sayang yang melimpah. Orang tuaku memperlakukanku seperti ratu. Semua yang kuinginkan akan selalu dituruti.
Aku dan Yudha terpaut usia dua tahun. Kami saling mengenal melalui salah satu game online. Awalnya, kami hanya bermain bersama dalam game itu dan berkomunikasi melalui mikrofon yang tersedia. Sampai akhirnya, rasa nyaman mulai tumbuh di antara kami. Kami pun memutuskan untuk mengenal lebih jauh melalui aplikasi WhatsApp. Tak jarang dia meneleponku saat beristirahat di tempat kerjanya. Suaranya membuatku tenggelam dalam rasa yang begitu dalam.
Hari demi hari, bulan demi bulan, aku lalui dengan Yudha yang menemani hari-hariku. Setiap malam aku mendengar suaranya yang lelah. Tak jarang aku menangis saat mendengar curahan hatinya.
Tiga tahun setelah mengenalnya pun berlalu, hingga pada 8 Maret 2025 kami memutuskan untuk saling melepas dan melupakan. Jarak di antara kami terasa seperti duri dalam daging. Setiap hari, kami memikirkan bagaimana nasib hubungan ini di kemudian hari. “Apakah cinta ini bisa selamanya?” “Apakah aku dan kamu bisa bersatu?” Pertanyaan-pertanyaan itu selalu menghantui aku dan Yudha.
Kami sama-sama sibuk mengejar tujuan hidup masing-masing. Kesempatan untuk bertemu sangat kecil. Hari demi hari, hubungan kami semakin tidak sehat. Kami sering memperdebatkan hal-hal kecil. Waktu terus berlalu tanpa kabar. Kami saling menyakiti.
Awalnya, aku ingin mempertahankan hubungan ini. Namun, rasanya sungguh menyakitkan. Siap tidak siap, kami harus bisa saling melepaskan dan melupakan.
Segala tentangnya masih tersimpan rapi dalam pikiranku. Hati yang awalnya berwarna-warni karena kehadirannya, kini berubah menjadi keruh karena kepergiannya. Tiga tahun bukan waktu yang singkat untuk melupakan semuanya. Bahkan ketika tak lagi mendengar kabarnya, aku masih bisa mencintainya.
Tak peduli sekeras apa aku berusaha melupakannya, bayang-bayangnya selalu hadir dalam mimpiku. “Yudha”, satu nama yang sangat sulit untuk aku hapus dari ingatan dan hatiku. Apakah mungkin rasa ini akan abadi? Apakah mungkin tak ada orang lain selain Yudha yang bisa mendapatkan cintaku?
Aku tak bisa memprediksi bagaimana perasaanku ke depannya. Satu hal yang kupelajari dari cinta: bahwa mengikhlaskan juga merupakan bagian dari mencintai.
Watansoppeng, 12 April 2025
