Oleh: Aisyah Shafira Yunus

Antara Masjid dan Gereja
Antara Salat Lima Waktu dengan Ibadah Pagi
Antara Al-Qur’an dengan Alkitab
Antara Tasbih dan Rosario
Antara Air Wudu dan Air Baptis

Mencintai seseorang yang terhalang tembok tinggi memang menyakitkan. Tapi aku benar-benar mencintainya. Namanya Grace, teman sekelasku. Saat kami baru saling kenal, aku mulai menyukainya. Setiap hari aku memperhatikannya, karena dia sangat cantik.

Beberapa bulan berlalu, aku memberanikan diri mengungkapkan perasaanku. Ternyata, dia juga menyukaiku. Kami pun menjalin hubungan. Setelah dua tahun dan kami lulus SMA, kami melanjutkan kuliah di kampus yang sama. Hubungan kami tetap berlanjut.

Namun, di tengah perjalanan, kami mulai berpikir mungkinkah kami bisa bersatu, sedangkan kami berbeda keyakinan? Akhirnya, dengan berat hati, kami memutuskan untuk kembali berteman dan melupakan semua yang telah terjadi.

Tapi ternyata tidak semudah itu. Aku tidak bisa melupakannya, dan ternyata Grace pun merasakan hal yang sama. Kami pun kembali menjalin hubungan, kali ini sambil saling belajar dan mengenal agama satu sama lain.

Setelah lulus kuliah, Grace mulai tertarik untuk mengenal Islam lebih dalam. Setelah melalui proses pemahaman dan perenungan, akhirnya dia memutuskan untuk memeluk agama Islam. Dan pada akhirnya, kami menikah.

Kini, aku adalah imam dalam salat-salat Grace. Cinta kami telah menemukan jalannya, di antara perbedaan yang dulu terasa tak mungkin dijembatani.

Watansoppeng, 12 April 2025

(Visited 36 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *