Oleh: Aqilah Dzikra Ramadhani*
Sudah dua minggu sekolah kami melaksanakan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), yang kali ini fokus pada isu yang sangat penting di dunia pendidikan, yaitu bullying atau perundungan. Tema ini dipilih karena bullying dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan fisik siswa. Kami semua menyadari bahwa pertemanan yang sehat sangat penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan aman.
Meski lelah seharian belajar, semangatku dan teman-tema tidak pudar. Setiap hari, kami menyisihkan waktu untuk berdiskusi dan merencanakan kegiatan dalam P5 ini. Hari pertama dimulai dengan membaca doa yang dipimpin oleh ketua kelas, kemudian dilanjutkan dengan ice breaking. Aktivitas ini sangat menyenangkan dan membuat suasana semakin hangat. Kami tertawa, berbagi cerita lucu, dan melakukan permainan yang menguji kecepatan berpikir serta kekompakan.
Setelah ice breaking, kami mendengarkan materi yang disampaikan oleh guru. Beliau menjelaskan tentang apa itu bullying, dampaknya, dan bagaimana cara menghindarinya. Kami semua terdiam dan mendengarkan dengan seksama. Rasanya, setiap kata yang beliau sampaikan menghujam ke hati kami. Kami menyadari bahwa bullying bukan hanya sekadar masalah pribadi, tetapi juga masalah sosial yang harus diselesaikan bersama-sama.
Setelah sesi materi, kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Dalam kelompok ini, kami diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan bullying. Diskusi menjadi semakin menarik saat setiap anggota kelompok memberikan pendapat dan pengalaman masing-masing. Beberapa teman menceritakan pengalaman buruk mereka, sementara yang lain berbagi tentang cara mereka mengatasi situasi tersebut. Kami belajar banyak dari satu sama lain dan menemukan bahwa meski kami memiliki perbedaan, kami memiliki tujuan yang sama: menciptakan lingkungan yang bebas dari bullying.
Bagian terakhir dari kegiatan P5 adalah bermain peran. Setiap kelompok diberikan skenario yang berbeda tentang situasi bullying, dan kami diminta untuk memerankannya. Skenario ini membuat kami lebih memahami perasaan orang yang dibully dan juga pelaku bullying. Melalui permainan ini, kami bisa merasakan dampak emosional yang dialami oleh masing-masing pihak. Ketika pertunjukan selesai, kami semua merenungkan pelajaran yang telah kami dapatkan.
Meskipun di kelas kami memiliki banyak perbedaan, mulai dari sifat, fisik, latar belakang, hingga pendapat, itu tidak membuat kami terpecah belah. Justru, perbedaan itu membuat kami merasa saling membutuhkan dan melengkapi. Kami belajar untuk saling menghargai dan mendukung satu sama lain, memahami bahwa setiap orang memiliki cerita dan perjuangan yang berbeda.
Harapanku, semoga kami selalu bisa menjaga pertemanan ini dengan baik, selalu merasa saling membutuhkan, menyayangi, dan melengkapi kekurangan yang ada. Dengan cara ini, kami bisa menciptakan komunitas yang kuat, di mana setiap orang merasa aman dan diterima. Saya percaya bahwa dengan kolaborasi dan empati, kami bisa bersama-sama mengatasi perundungan.
P5 ini bukan hanya sekadar kegiatan di sekolah, tetapi juga sebuah langkah awal untuk membangun pertemanan yang positif dan saling mendukung. Dengan semangat #BersamaAtasiPerundungan, kami berkomitmen untuk selalu mendukung satu sama lain dan menjaga kelas kami agar tetap menjadi tempat yang nyaman bagi semua.
*Penulis adalah Siswi SMPN 1 Watansoppeng Kelas 8.7
Watansoppeng, 31 Oktober 2024
