Oleh: Reisya Putri Alfi
Kehidupan terkadang seperti garis takdir yang dipintal tanpa arah, seakan diombang-ambingkan oleh angin tak kasat mata. Aku melangkah di atas bumi ini, tetapi setiap langkah terasa lebih berat dari yang sebelumnya, seakan setiap jejak meninggalkan luka yang tak terhapuskan.
Hari ini, hujan kembali turun. Butir-butirnya menetes lembut, tapi setiap tetes membawa ketukan halus yang menggema dalam relung jiwa. Aku duduk di pinggir jendela, menatap butir-butir air yang meliuk di atas kaca. “Tuhan, apakah Kau membenciku?” gumamku lirih, seakan mengharap jawaban dari keheningan.
Setiap detik yang kulalui penuh dengan tanya tanpa jawab. Kegagalan, kehilangan, dan kesepian seakan menjadi teman sejati yang tak pernah pergi. Dalam momen-momen seperti ini, aku merasa kecil, terbuang di tengah luasnya dunia yang tak mengerti perasaanku. Mengapa hidupku seperti ini? Apakah semua orang merasakan hal yang sama, ataukah aku hanya satu dari sedikit orang yang ditinggalkan oleh nasib?
Aku teringat masa lalu, masa ketika segalanya tampak lebih mudah. Keluargaku dulu sempurna. Kami tertawa, berbagi cerita, dan saling menguatkan. Namun, waktu merubah segalanya. Keceriaan yang dulu selalu menghiasi rumah kini hanya tinggal kenangan yang semakin pudar. Kepergian ayah meninggalkan lubang besar yang tak dapat tertutup oleh waktu. Ibu berjuang keras, tapi aku tahu dia rapuh, terlalu rapuh untuk memikul semua beban ini sendirian.
Sekolah pun bukan pelarian. Teman-temanku satu persatu menjauh, meninggalkan ruang kosong yang hanya terisi dengan suara cemooh dan tatapan penuh penghakiman. Aku belajar untuk menyendiri, membiarkan diriku tenggelam dalam keramaian yang sunyi. Sungguh ironi, di tengah hiruk pikuk dunia, aku justru merasa tak terlihat. Seperti angin malam yang lewat tanpa disadari, begitu tak berarti.
“Tuhan, jika Kau ada, mengapa aku harus merasa seperti ini?” pertanyaanku kembali terlintas. Aku tak berharap ada jawaban, tapi batinku terus mendesak untuk mengerti. Mungkin, ini bukan tentang kebencian Tuhan. Mungkin, aku yang terlalu lemah untuk mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Namun, perasaan itu tetap ada rasa ditinggalkan, seakan aku tak layak dicintai bahkan oleh Penciptaku sendiri.
Langit mulai gelap, namun pikiran-pikiranku tetap berkecamuk. Di satu sisi, aku ingin berteriak, memaki dunia yang begitu keras padaku. Di sisi lain, aku tahu teriakan itu hanya akan terpantul kembali, menggaung di ruang kosong yang semakin menyesakkan. Rasanya seperti terjebak dalam labirin tanpa pintu keluar. Setiap langkah hanya membawa diriku lebih dalam, lebih jauh dari kebahagiaan yang selalu aku impikan.
Namun, di tengah segala keputusasaan ini, ada secercah cahaya yang terkadang muncul. Cahaya itu bukan dari langit atau dari orang-orang di sekitarku, melainkan dari dalam diriku sendiri. Sebuah keyakinan kecil, nyaris padam, tapi tetap menyala. Mungkin, Tuhan tidak membenciku. Mungkin, Dia hanya sedang memberiku jalan yang lebih sulit, agar aku bisa menjadi lebih kuat.
“Aku masih di sini,” gumamku pelan, mencoba meyakinkan diriku sendiri. Mungkin, kebencian yang aku rasakan bukan dari Tuhan, melainkan dari diriku sendiri yang merasa tak berharga. Tapi, jika Tuhan masih memberiku kesempatan untuk hidup, mungkin itu adalah tanda bahwa aku layak untuk terus berjuang.
Hujan di luar semakin deras, namun hatiku mulai sedikit tenang. Meskipun jawaban dari pertanyaanku belum ditemukan, setidaknya aku tahu satu hal—aku masih memiliki diriku sendiri. Dan mungkin, suatu hari nanti, aku akan menemukan alasan mengapa Tuhan menempatkanku di jalan yang berliku ini.
Dalam kesunyian malam, aku menutup mata dan berbisik, “Tuhan, jika Kau mendengar, bimbinglah aku. Jangan biarkan aku tersesat lebih jauh.” Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku merasa ada kedamaian, meski hanya sekejap.
