Oleh: Aisyah Nur Adhayani*

Dia jingga, datang sebelum sunyi malam menemani
Mataku terpukau, melihat jingga yang memberi kenyamanan pada jiwa
Pada sudut selatan, di bagian utara
Jingga berada pada sela-sela awan yang setia menemani.

Pohon pohon menyapa manja
Laut yang berombak ombak
Angin yang membawa serpihan debu
Dan malam yang selalu ingin menggantikan posisi jingga
Aku berdiri di tepi pondok.

Di bawah langit dengan jingganya yang membentang
Merasakan keindahan setiap sisi jingga.
Memancarkan aura pemikatnya untuk menarik perhatian.
Sungguh luar biasa wahai engkau, jingga.

Bila jingga akan terganti dengan malam, apakah yang menjadi batasnya?
Bila jingga dan malam bersama, siapakah yang terluka?
Jingga tenggelam dalam malam agar cahaya bulan dapat mendampingi kegelapan malam
Jingga tak pernah mendampingi malam, tapi ia selalu berjanji akan datang kembali untuk melindungi malam
Tetapi ternyata, jingga tak ditakdirkan bersama dengan sosok malam
Karena sejatinya, malam milik sang rembulan dan kegelapan.

*Penulis adalah siswi SMPN 1 Watansoppeng, Kelas 8.3

(Visited 36 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *