Oleh: Aisyah Nur Adhayani*

Kenangan itu melekat pada batin.
Kepada setiap daun yang berhamburan, ingin kupetik semua tetapi tetap saja ada yang tertinggal.
Kepada setiap jejak kaki yang kupijakkan, ingin kumenghapus jejaknya, tetapi tanah selalu saja tak membela.
Kepada setiap butiran pasir di pantai, ingin kuhitung tetapi terlalu banyak.

Barangkali, kenangan bagai film,
maka, aku akan mengabadikanmu di setiap detik waktu yang berlangsung.
Barangkali, kenangan bagai darah yang mengalir ke setiap alur tubuh.
Barangkali, kenangan bagai oksigen yang merambat menusuk ke paru paru.
Barangkali, kenangan bagai pagi yang selalu berjanji akan selalu kembali setelah malam.

Kanvas dengan tinta yang permanen.
Biarkan dulu, aku menyimpan kanvas itu,ada yang ingin ku kenang.
Yang selama ini senantiasa luput.
Biarkan saja ia tersimpan dalam bayang hidup, karena jika kita menghapusnya, akan membuat angin sejuk berubah menjadi badai yang hancur dan hambur.

Dalam ruang ini, kami bertiga.
Aku, kata dan kenangan.
Kupungut beberapa kata dan merakitnya dalam bait.
Kugabung secara tersirat hingga berganti menjadi beberapa rangkaian.
Menjadikannya sesuatu yang indah untuk disimpan.

*Penulis adalah Siswi SMPN 1 Watansoppeng, Kelas 8.3

(Visited 55 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *