Oleh: Syafira Amanda*
Aku sudah tak lagi menggunakan prolog
Untuk hanya sekadar menulis namamu
Aku juga hanya ingin menggunakan epilog
Jika salah satu dari kita berada di ujung usia
Benar katamu, kita hanya butuh menurunkan ego
Untuk sama-sama bisa saling mempertahankan
Mengandalkan banyak dialog
Untuk tetap ada pada cerita yang sudah kita lalui
Mungkin, ada satu hal yang tak pernah kau sadari
Ketika aku begitu menyukai disaat kau tersenyum
Saat dunia yang runyam penuh dengan kebisingan
Senyummu menjadi hal yang paling menenangkan
Entah kau sadar atau tidak
Setiap kali kau tersenyum
Hatiku pun juga ikut tersenyum
Aku tak memaksamu untuk mengerti
Tentang arti segala yang telah aku tuliskan
Tentang puisi yang mungkin bernyawa
Dan melihat tentang betapa aku mencintaimu
Tentang puisi yang mungkin mendengarkan
Bagaimana aku berbicara pada langit
Untuk menjabarkan namamu di puisi
Dan mempertahankan kata kita.
*Penulis adalah Siswi SMPN 1 Watansoppeng, Kelas 7.3
