Oleh: Jusnia Paseba

3. Tragedi Pertemuan

“Baron mana?” Tanya Naufal sembari bergabung dengan teman-temannya di kantin.

“Ke Toilet bang,” jawab Fatir.

“Lama benar loh catat tugas nya?” Kata Rafly pada Naufal. Naufal memang agak lambat ke kantin di karenakan harus salin tugas bahasa Inggris dulu.

“Loh pikir tugas nya sedikit? Mana bahasanya bikin lidah gue kaku,” jujur saja Naufal sedikit tidak bersahabat dengan mata pelajaran itu.

“Tapi kok gue sih suka kalau bahasa Inggris,” sahut Bintang seraya menggenggam botol mineralnya.

“Loh mah semua pelajaran loh suka.”

“Mau ga gue kasi tips biar semua pelajaran loh suka?”

“Apa Tang? Loh mau kasi Naufal sama Rafly tips biar langgeng pacaran?” Sahut Fathur tiba-tiba.

“Aelah telinga loh harus gue kasi sama nyokap nya Naufal dulu. Kayaknya kenangan mantan masih nyangkut di telinga loh nih.”

“Sialan loh Raf!” Lagi lagi dan lagi niat menjahili tau tau malah jadi sasaran.

“Emang nya kalau mantan harus dikenang yah?” Kata Naufal dengan nada polosnya. Se-sangar-sangar nya Naufal tapi kalau bahas percintaan dia termasuk kategori cupu bin polos nan culun.

“Astagfirullah gini amat ngomong sama orang ga pernah pacaran,” Fathur memandang nya dengan frustasi.

“Serius nih gue,” ini adalah kali pertama Naufal berbicara dengan topik sedikit menjurus ke percintaan meskipun bertema masa lalu.

“Kalau ngomong mantan. Mantan gue terlalu indah buat gue lupain dia terlalu jauh buat jatuh sampai akhirnya gue ga tau gimana caranya buat bangkit lagi,” jawab Rafly seraya tertawa hambar. 

“Luka nya Rafly sama Fathur beda. Jangan pernah samakan. Soalnya kalau disamain Fathur ini ibarat dunia politik banyak teori tapi ga ada bukti,” jawab Bintang enteng.

“Maksud loh nyamain gue sama dunia politik gimana nih?” Jujur saja kalau Bintang yang berbicara otak kecil Fathur sulit untuk memahami karena terkadang manusia jenius itu menyampaikan kata-katanya dengan bahasa yang berbeda, seperti saat ini misalnya.

“Yah loh kan terlalu banyak janji manis sama syasca tapi loh ga pernah buktiin janji manis loh itu. Nah sama aja kan banyak teori tapi ga bukti?” Skakmat! Bintang benar benar berhasil membuat Fathur menjadi laki laki fakboy seperti di luaran sana.

“Bah ini mah namanya loh nampar kawan sendiri,” sahut Fathur pelan,mau gimana lagi ucapan Bintang memang benar.

“Rumit yah ternyata pacaran,” respon Naufal setelah menyimak.

“Kenapa loh mau pacaran?”

“Nggak lah, kasian Rapcun kalau gue pacaran,” Rapcun yang dimaksud Naufal itu adalah ‘Rafly culun’ Naufal memang kadang-kadang memanggilnya dengan Raply,atau culun. Mereka sudah berteman sejak kecil jadi nama-nama legend yang mereka gunakan sudah tidak asing lagi.

“Sialan loh! Gue masih normal yah.”

“Siapa juga yang mau belok sama lo,” jawab Naufal sambil mengedikkan bahunya. Diantara teman-temannya Naufal memang terlalu akrab dengan Rafly.

“Nanti sore ada seleksi basket nih, loh pada ga mau ikut kali ajah bisa lulus,” kata Bintang seraya menatap layar hp nya.

“Jam berapa emang?” Tanya Fathur.

“16:15 nih,” katanya seraya memperlihatkan layar handphone nya.

“Loh ga ikut Fal?” Rafly menyikut lengan sahabatnya nya itu.

“Gak ah,malas gue.”

“Loh sendiri Raf gimana? Mau ikut ga?” Tanya Bintang.

“Nggak juga deh, mending ngadem di basecamp.”

“Ya udah deh gue juga jadi malas ikut.”

“Ya iya lah orang loh udah ikut futsal!”

“Gue cabut toilet dulu,” izin Naufal berdiri dari tempatnya.

“Mau ke toilet ajah pake izin segala.”

“Gue ga bilang nanti loh cariin,” timpal Naufal lalu benar benar melangkah pergi.

*******

“Gue tanya baik baik yah! Loh ada hubungan apa sama Naufal?” Kata Cherly mencengkram kuat dagu Farah.

Sekarang Farah sedang berhadapan dengan Cherly, ketua cheers dengan segala pesonanya 1/10 Farah berada di tingkat 2 dan Cherly ada tingkat 9 sangat terlihat jelas perbedaan mereka.

“Saya nggak ada hubungan apa-apa sama dia,saya juga ga kenal,” jawab Farah sambil menahan rasa sakit yang menyerang dagu nya.

“Adek kelas pintar bohong juga yah?” Kata Cherly lalu tersenyum meremehkan.

“Terus kenapa loh di gendong Naufal ke UKS? Naufal itu orangnya kaku sama perempuan. Dan loh gadis cupu bisa di tolongin sama Naufal,itu ga mungkin! Loh ada hubungan apa?” Cherly membentak Farah. 

Farah hanya pasrah untuk keadaan saat ini, mungkin andai dia tidak ke toilet,dia pasti tidak bakalan bertemu dan dengan ketua cheers ini.

“Loh punya mulut kan? NGOMONG!” geram Cherly sembari memperkuat cengkraman nya.

“Ka-k sa-kit,” Farah merintih kesakitan dengan perlakuan Cherly yang barusan.

“Sakit? HAHAHA! Itu ga sebanding sama yang gue rasain,” kini Cherly menghempaskan cengkraman nya dengan kuat,membuat tubuh Farah sedikit tersungkur.

“Loh juga harus rasain,” kata Cherly mengangkat tangannya bersiap untuk menampar Farah.

Farah memejamkan matanya,dia hanya pasrah toh biar dia memberontak sekuat apa pun tidak ada juga yang akan mendengar nya.

“BERHENTI!” Seseorang berhasil menangkap pergelangan tangan Cherly, pupus sudah harapannya untung menampar Farah.

“Salah apa dia sama loh?” Tanya orang itu.

Cherly cukup terkejut dia di buat membisu dengan seseorang di hadapannya–dia Naufal.

“Na-naufal kok kamu ada di sini?”

“Gue seharusnya nanya sama loh. Lo ngapain di di samping wc rusak pria?”

“Ta-tadi gue-“

“Mau sakitin cewek itu?” Kata Naufal melirik Farah.

Cherly hanya diam membisu,mau mengelak namun faktanya memang begitu.

“Udah loh sana balik, curut loh udah nungguin.”

Cherly membalikkan badannya dan benar saja di sana sudah ada beberapa teman cheers nya, demi keamanan dirinya dia pun bangkit dari tempat itu,menyusahkan Naufal dan Farah.

Atmosfer di sekitar Farah seakan-akan tak berfungsi. Dia bersyukur karena Cherly tidak menamparnya tapi dia juga takut karena yang menolongnya adalah ketua The Avengers.

“Nggak usah nunduk. Loh ga diapa-apain kan sama dia?” Tanya Naufal memastikan.

Farah memberanikan diri untuk memandang ke arah lawan bicaranya,”nggak papa kok. makasih udah nolongin saya.”

“Loh masih bilang ga papa? Dagu lo luka dan gue yakin lo lagi nahan sakit.”

Farah berusaha menggeleng meskipun faktanya dagu nya memang berdenyut nyeri.

“Pulang bareng gue,” kata Naufal lalu melangkah pergi meninggalkan Farah.

“Ta-tapi saya nanti-” percuman Farah teriak nyatanya Naufal sudah menghilang.

Sekarang Farah jadi bingung kenapa tiba tiba ketua geng itu mengajak nya pulang bareng?

“Ron jam terakhir loh belajar apa?” Tanya Naufal saat kembali di kantin.

“Matematika sih, kenapa emang?”

“Pulangnya lama nggak?”

“Mana gue tau. Kayaknya ikutin waktu normal deh.”

“Farah teman kelas loh nanti gue pinjam jam 2 siang.”

Semua yang mendengar itu membulatkan matanya lebar lebar bahkan Mahmud yang sedang makan bakso keselek gara gara ucapan ketuanya barusan.

Apa katanya? Pinjam Farah? Helloween Naufal si kaku bisa dekat juga sama cewek se polos Farah?

“Ga salah dengar gue Fal?” Tanya Rafly dengan tatapan yang susah diartikan.

“Loh ga sakit kan?” Bahkan sekarang Baron sudah menempelkan punggung tangannya di jidat Naufal.

“Gue baik-baik ajah yah, ga usah lebay dah!” Kata Naufal kesal melihat respon sahabatnya.

“Masalah nya ini perdana dalam hidup loh. Ada gerangan apa nih?” 

“Yah ga ada apa apa sih. Udah bacot loh semua,cabut kelas.”

“Beneran Naufal tu?” Tanya Bintang menatap kepergian Naufal.

“Gila-gila dari banyak nya cewek di SMANET kenapa malah si polos Farah yang di pilih,” di sini hanya Baron yang tau siapa Farah dan bagaimana Farah yang sebenarnya.

“Ini Farah yang mana sih?” Di saat teman-temannya heran melihat tingkah Naufal,Fathur justru penasaran siapa si Farah yang sebenarnya.

Mendengar itu sontak membuat Baron membulatkan matanya “Astaga Jubaedah loh ga kenal Farah?” 

Seperti orang kegelapan Fathur menggelengkan kepalanya.

“Samping bangku Baron yang kemarin loh tegur bilang cantik,” sahut Bintang dari belakang.

Fathur di buat histeris mendengar jawaban Bintang “OH NO! Gue yang duluan tafsir ini kenapa jadi Naufal duluan yang mau ajak dia jalan?” Meskipun tadi Naufal tidak mengatakan bahwa dirinya bersama Farah akan jalan, tapi di pikiran Fathur nanti Naufal akan mengajaknya jalan.

“Loh emang ditakdirkan untuk mengejar masa lalu bukan mengejar masa depan,” kata Baron menepuk pundak Fathur lalu pergi meninggalkan kantin. Sebenarnya Lima menit yang lalu bel masuk sudah berbunyi tapi mereka masih betah berada di kantin.

“Fal, Naufal ganteng, ada gerangan apa sih kawand?” Tanya Fathur mencolek pindah Naufal. Sekarang lagi belajar kimia,mumpung guru kimianya lagi ke LAB jadi Fathur tidak usah bisik bisik lagi ke arah Naufal.

“Maksud loh?” Kata Naufal tak mengerti.

“Ga usah pura pura bego deh loh,” kesal Fathur.

“Emang siapa yang bilang gue bego?”

“Buruan jawab Fal?” Desak Fathur tak sabaran.

“Emang pertanyaan loh apaan sih?” 

Dengan helaan nafas yang berat dan demi jawaban yang terbaik Fathur harus bertanya secara detail kepada Naufal.

“Loh kenapa tiba-tiba ngajakin Farah?” Mungkin bertanya tanpa basa-basi akan membuat Naufal cepat paham.

“Oh yang itu. Emang kenapa?” Big no! Lihatlah bukannya menjawab Naufal malah balik bertanya.

“Gue buang juga loh Fal baru tau rasa,” sarkas Fathur jengah.

“Ga ada apa apa sih,” jawab Naufal spontan.

“Bohong loh mah pas-” ucapan Fathur di hentikan oleh getaran ponsel Naufal yang berada di dalam laci nya.

Dengan cepat Naufal mengambil handphonenya nya takut takut nanti Bu guru lihat bisa habis dia.

Niat nya ingin menolak panggilan itu, namun melihat nama yang tertera membuat dia mengurungkan niatnya untuk menolaknya.

“Halo?”

“…”

“Udah ga lama lagi kok.”

“….”

“20 menit Naufal sampai,” katanya menutup panggilannya.

“Gue cabut dulu. Titip absen,” kata Naufal lalu berlari keluar dari kelas.

“Woi kemana tuh?” Tanya Rafly dari samping Fathur.

“Ga tau juga gue,habis nerima telpon langsung kabur.”

“Positif thinking aja, mungkin ada urusan,” sahut Bintang dari arah depan.


(Visited 21 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Jusnia Paseba

Jusnia Paseba tinggal di Kolaka Utara. Anak terakhir dari empat bersaudara ini memang cemerlang sejak kecil. Jusnia terkenal sebagai juara umum sejak di taman kanak-kanak, SD hingga SMP. Tidak hanya itu, dia pun pernah menjadi juara pertama lomba dai cilik dan juara pertama cerdas cermat Al-Qur'an. Jusnia mulai suka menulis sejak duduk di bangku SD. Dia sangat terinspirasi setiap kali membaca profil para penulis di halaman belakang buku paket sekolah. Mencoba mengembangkan kemampuannya menulis, Jusnia pernah ikut lomba menulis cerpen nasional dan berhasil meraih posisi top 50 cerpen terbaik dan kemudian dibukukan. Novelnya yang berjudul "Pesan Terakhir untuk Sang Fajar" sudah launching pada bulan Agustus 2021. Selain menulis, Jusnia pun hobi membaca cerita, baik yang bertema fantasi maupun yang bertema fiksi remaja. Moto hidupnya, "Jangan pernah ingin merasakan manis jika tidak ingin melewati pahitnya. Tidak ada sesuatu yang bisa instan, sekalipun itu mi instan."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *