Oleh: Syifa Nabila Muhlis*
22 Agustus 2023, menjadi hari paling bersejarah dan tidak akan pernah kulupakan. Hari di mana aku memperoleh pengalaman yang besar dan begitu berharga untuk kehidupanku ke depannya.
Hari itu, aku mengikuti Lomba Cerdas Cermat Museum (LCCM) tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. Aku beserta dua orang teman dipercayakan menjadi perwakilan Kabupaten Soppeng untuk berlomba di ajang tersebut. Aku dan teman-teman mempersiapkan segalanya, mengorbankan waktu dan tenaga untuk mendapatkan hasil terbaik. Aku selalu meluangkan jam belajar setelah jam istirahat sampai jam pulang untuk bimbingan intens cerdas cermat. ± 3 minggu waktu yang aku pergunakan untuk mempersiapkan ilmu untuk bertanding.

Hari-hari berlalu, lomba semakin dekat, aku semakin merasa takut. Takut dengan ekspektasi orang lain & takut dengan hasil yang akan kudapatkan. Rasa takut semakin dekat semakin menggerogoti pikiranku. Yah, aku tau itu tidak baik. Namun itu sulit untuk menghindarkan rasa takutku. Meskipun mendapatkan banyak dukungan dari orang lain, tetap saja rasa takut itu abadi dan mengisi sebagian hati dan pikiranku. Tenang, aku tidak akan membiarkan rasa takut mendominasi pikiranku. Aku tidak ingin dikendalikan oleh rasa takutku. Di sisi lain, Aku senantiasa menyemangati diriku, dan meyakinkan bahwa aku bisa.

Semakin dekat, hari lomba pun tersisa 1 hari sebelum dimulai. Aku, teman-teman, dan guru pembina berangkat ke Makassar. Sepanjang jalan aku menerka-nerka, apa aku bisa ya? kok bisa sih aku yang ditunjuk? Emang aku punya kemampuan sebesar itu ya? Potensiku sebesar itu ya? Banyak hal yang menggerogoti pikiranku di H-1 pertandingan. Aku semakin gugup dan takut. Rasa takut itu bahkan hampir menguasai pikiranku. Tetapi aku cepat-cepat menyingkirkan pikiran negatif tersebut dan yakin bahwa aku bisa. Sesampainya di Makassar, kami langsung istirahat, bersantai sejenak, memesan makanan online lalu belajar. Kami belajar sampai jam 3 pagi, karena kami tidak bisa tidur memikirkan lomba besok. Jadi, kami mengisinya dengan belajar.

Tibalah hari di mana kami berlomba. Hari itu kami yakin bahwa kami akan menang. Rasa takut tak lagi mendominasi. Pada pagi hari, kami dibawa menggunakan bus pariwisata, berkunjung ke Benteng Fort Rotterdam, mengunjungi Museum La Galigo. Kami mendapatkan banyak sekali informasi dan ilmu-ilmu baru mengenai Sulawesi Selatan di situ.
Kemudian, kami berganti pakaian menjadi pakaian adat, dan berlomba menggunakan pakaian adat. Pada saat perlombaan, babak pertama, aku merasa senang karena reguku memimpin poin. Ternyata, poinku berkurang saat babak rebutan, yang menyebabkan kekalahan pada tim kami. Aku sedih, kecewa dengan diriku sendiri. Namun, lambat laun, aku bisa bangkit, berkat dukungan dari orang-orang sekitar dan dukungan dari dalam diriku sendiri.
Aku percaya, bahwa di balik kesedihan & kegagalanku ini, akan ada hal-hal baik yang akan menjumpaiku di masa depan. Kekalahan ini yang memotivasiku untuk menjadi lebih daripada hari ini. Karena sesungguhnya, guru terbaik adalah pengalaman itu sendiri.
*Penulis adalah Siswi SMPN 1 Watansoppeng, Kelas VIII.1
