Oleh : Uqail Khafadi*
Hidup adalah anugerah dari Tuhan. Karena itu janganlah kita menyia-nyiakan hidup, terlebih mengakhiri hidup dengan jalan yang salah. Tidak sedikit orang yang mengakhiri hidupnya ketika ditimpa masalah yang berakhir dengan keputusasaan, lalu mengambil jalan pintas.
Sesungguhnya setiap masalah adalah cara Allah Swt membuat hambanya bisa tegar dan kuat, karena Allah Swt selalu ada mendampingi hambanya dalam menyelesaikan setiap masalah. Yang dibutuhkan adalah kesabaran dan berdoa untuk terus berproses menyelesaikan masalahnya. Kita jangan pernah jenuh atau bosan memulai usaha dari nol, karena kita pada dasarnya dilahirkan dari nol. Dari tidak ada menjadi ada dimulai dari titik nol.
Kita sangatlah sempurna di mata Allah Swt, tapi kenapa ada orang mengakhiri hidupnya. Sebesar apa pun masalah tidak akan ada yang memaksa untuk mengakhiri hidup dengan jalan yang tidak sempurna.
Jika lelah, istirahatlah, jika jenuh rehatlah, jika lalai perbaikilah, jika salah sadarlah, jika marah istigfarlah. Jangan membuang waktu dengan penyesalan. Hidup itu sederhana, untuk apa mengejar sempurna jika sudah nyaman dengan keadaan seperti sekarang.
Capek dan kalah boleh, tapi jangan sampai menyerah. Kita bisa mengulangi dari nol kembali, bersama merangkai masa depan yang cemerlang. Jika masih tidak nyaman jangan berhenti berproses. Jika ingin masuk surga maka jangan menyerah laksanakan seluruh perintah Allah Swt dan menjauhi larangannya.
Ayooo teman-teman, kata Om RIM kita harus melangkah maju merebut impian, walau dibawa tumit ada duri sekalipun. Pertemanan itu ada dua sisi, ada sisi baik dan ada sisi negatif. Kita ambil sisi positifnya dan buang sisi negatifnya. Kita harus bersama dan gabung menjadi generasi emas.
Alhamdulillah, Uqail sudah mulai melangkah dari titik nol, dan akan terus melangkah menuju gerbang masa depan. Seperti cara menulis, awalnya nol besar tidak bisa sama sekali, tetapi karena terus berproses belajar dan mencoba, akhirnya bisa melangkah menjadi penulis.
Supaya langkah kita ringan, harus buang “keras kepala” lalu nurut arahan orang tua, ikuti bimbingan guru, dan bergabung dengan komunitas menulis PAI (Pena Anak Indonesia). Alhamdulillah, akhirnya bisa melangkah setapak demi setapak. Walau langkahku pelan, tapi Insya Allah mencapai garis finis. Bukankan kata orang bijak, langkah 1000 harus dimulai dari langkah pertama.
*Siswa SDIT Alam Attin Lubuk Buaya Kota Padang
