Oleh: Devi Purnama*
Aku menunggumu di halte tua dekat persimpangan jalan. Tempat yang dulu sering kita lewati tanpa pernah benar-benar kita rencanakan. Hujan turun pelan, seperti tahu caranya tidak mengganggu, tapi cukup untuk membuat dada terasa sesak. Namaku Elara dan orang yang dulu kupanggil rumah bernama Arka.
Aku tidak pernah menyangka, menunggu bisa menjadi hal paling melelahkan yang pernah kulakukan. Dulu, menunggumu adalah keyakinan. Sekarang, ia berubah menjadi kebiasaan menyakitkan yang tetap kulakukan, hanya agar kenangan tidak mati terlalu cepat.
Arka yang kukenal bukan pria yang pandai merangkai kata. Tapi ia selalu tahu caranya hadir. Saat aku bercerita, ia mendengarkan tanpa menyela. Saat aku lelah, ia tidak memberi solusi hanya diam di sisiku. Itu sudah cukup. Lebih dari cukup.
“Kalau suatu hari aku berubah,” katanya pernah, menatap langit sore yang pucat, “kamu masih mau di sini?”
Aku tersenyum waktu itu. Terlalu yakin untuk ragu. “Selama itu kamu,” jawabku.
Aku lupa, manusia bisa tetap bernama sama, tapi hatinya berpindah tempat.
Perubahan Arka datang tanpa aba-aba. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada kata putus. Hanya jarak yang tumbuh perlahan, seperti retakan di dinding
rumah kecil, tapi terus melebar.
Pesanku masih dibalas, tapi tanpa rasa ingin tahu. Ceritaku masih didengar, tapi tidak lagi ditunggu. Aku mulai bicara sendiri di ruang yang dulu bernama kita. Aku bertahan lebih lama dari seharusnya. Meyakinkan diri bahwa cinta tidak akan kalah hanya karena waktu. Tapi aku salah. Cinta bisa kalah oleh perubahan yang tidak diberi penjelasan.
Pertemuan itu akhirnya terjadi. Kami duduk berhadapan di tempat yang sama seperti dulu. Kopi yang dipesan Arka masih sama. Tapi caranya menatapku tidak.
“Kamu kelihatan capek,” katanya. Aku ingin tertawa, tapi air mata lebih dulu memenuhi mata.
“Aku capek kehilangan kamu pelan-pelan.”
Arka terdiam. Tidak menyangkal, tidak membela diri. Diamnya membuatku sadar-aku sedang berbicara pada seseorang yang sudah berjalan terlalu jauh untuk menoleh.
“Aku berubah, Lar,” katanya akhirnya. “Aku nggak bisa jadi Arka yang dulu.” Aku mengangguk.
Tanganku gemetar.
“Aku tahu. Aku cuma belum pindah dari sana. Dari versimu yang lama.”
Tidak ada pelukan. Tidak ada janji untuk mencoba lagi. Hanya kata maaf yang jatuh tanpa suara. Aku berjalan lebih dulu. Bukan karena aku kuat, tapi karena jika aku menoleh sekali saja, aku akan memohon pada orang yang sudah tidak lagi ingin tinggal.
Malam itu aku menangis bukan karena ditinggalkan, tapi karena menyadari satu hal yang paling menyakitkan: orang yang kucintai masih hidup, tapi versi yang kucintai sudah tiada.
Sekarang aku belajar melepaskan. Tidak sepenuhnya berhasil, tapi aku mencoba. Aku menyimpan Arka yang dulu di sudut ingatan yang paling sunyi. Bukan untuk dipanggil kembali, hanya untuk dikenang tanpa harapan.
Aku, Elara, adalah orang yang masih tinggal di tempat kamu tinggalkan, menjaga kenangan yang tidak ikut berubah bersamamu.
Watansoppeng, 18 Januari 2026
* Penulis adalah Siswi SMPN Watansoppeng Kelas 9.5
