Oleh : Andi Khadijah Azzahra

Apakah kalian percaya bahwa benda memiliki memori? Pertanyaan tersebut cukup seru untuk diperdebatkan, tetapi pertanyaan itu tidak cocok untukku, karena mau atau pun tidak, aku harus percaya karena aku dapat melihat memori itu.

Di sinilah aku, sebuah wahana yang sudah ditinggalkan sejak 12 tahun lalu. Tidak jelas alasannya, tetapi aku tertarik untuk mengetahui rahasia yang tersimpan di dalamnya.

Setelah berkeliling, tiba-tiba mataku tertuju pada kereta gantung usang dengan cat merah yang sudah pudar. Tanganku dengan lancang memegangnya, merasakan tekstur kasar besi yang sudah berkarat. Dan samar-samar, kudengar percakapan sekelompok pelajar yang bingung memutuskan arah mereka selanjutnya. Aku ingin melihat lebih jelas memori kereta itu, dan aku terhanyut di dalamnya.

Remaja berambut pendek ikal menyarankan melanjutkan tamasya dengan melakukan wisata kuliner, tetapi remaja lain yang berkacamata merasa enggan dan memberi saran sebaiknya langsung pulang saja karena sudah sore. Tetapi, remaja lain yang berambut panjang menentang saran keduanya, menganggap ide mereka membosankan.

Lantas, ide apa yang ditawarkan oleh remaja tersebut? Ia menyarankan menaiki kereta gantung yang kondekturnya terdengar lantang mengatakan hanya satu kali perjalanan lagi, dan wahana tersebut akan ditutup. Remaja berambut panjang bersikeras menaikinya, sampai mengabaikan kedua temannya yang berusaha keras menghentikannya. Ia berlari mendekati kereta dan menyapa sang kondektur dan terjadilah obrolan kecil

“Apa Adik mudah pusing?”
“Ah tidak kok pak, memangnya kenapa?”
“Syukurlah, kereta ini cukup panjang dan memiliki cukup banyak putaran.”

Tak lama waktu yang dibutuhkannya untuk duduk dalam kereta itu. Di sana ia ditemani seorang pemuda bertopi hitam yang duduk di depannya. Tidak ada yang aneh, kecuali pertanyaan yang diajukan pemuda itu beberapa menit yang lalu. “Apa kereta ini masih butuh orang?” Sang remaja berambut panjang hanya menjawab dengan mengangguk. Lagi pula, kereta ini diisi hanya olehnya, jadi mungkin memang membutuhkan seorang lagi agar massa kereta seimbang.

Kereta perlahan berjalan. Remaja berambut panjang merasa sepertinya kekhawatiran teman-temannya memang benar hanyalah omong kosong. Kereta ini aman kok, pikirnya. Remaja berambut panjang memejamkan mata selama perjalanan, menikmati sensasinya. Tak lama kemudian, kereta perlahan melambat, sehingga sang remaja berambut panjang tersenyum simpul, siap beranjak dari tempat duduknya dan membuka pintu.

Sebelum sempat melangkahkan kakinya, ia terkejut. Netranya hanya menangkap tempat antah berantah yang penuh dengan kekosongan. Benar-benar tidak ada apa-apa. Satu-satunya objek yang berada di sana selain dirinya adalah kereta tersebut dan pemuda bertopi tadi. Remaja berambut panjang berpikir untuk menanyakan tempat asing ini padanya, tetapi yang ditanya malah menjawabnya dengan pertanyaan, “Kereta, kau masih butuh orang?”

Deg. Apa yang dibicarakan pemuda itu? Tak ingin ambil pusing, Remaja berambut panjang memutuskan menutup kembali pintu kereta, berharap dengan itu kereta akan berjalan kembali dan mengantarnya kembali pada tempat bermain tadi. Untungnya, keretanya kembali berjalan perlahan. Berhasil meredakan kecemasan dengan segala pertanyaannya, ia kembali menutup matanya sepanjang perjalanan. Ia tidak mengetahui, jalannya kereta merupakan jawaban dari pertanyaan remaja bertopi. Jawabannya ya, kereta ini masih butuh “orang”.

“Sedang apa sore-sore di sini, Dik?”
“Ah, tidak. Hanya sedang berpikir, mengapa kereta gantung seindah ini berhenti beroperasi? Sungguh sayang.”
“Tidak sepenuhnya benar, karena kereta gantung ini tidak pernah berhenti beroperasi.”

Masih penasaran kan …?

(Visited 26 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *