Oleh: Andi Khadijah Az’zahra*

Berbeda-beda tetapi tetap satu jua adalah semboyan bangsa Indonesia yang sudah diajarkan sejak kita menduduki bangku sekolah dasar. Tetapi, apakah generasi muda saat ini memerhatikan dan menanamkan semboyan ini dalam hati mereka?

Saudara saudara, 77 tahun sudah Indonesia melepaskan diri dari penjajah. 77 tahun sudah sang saka merah putih dapat berkibar di langit bumi pertiwi. 77 tahun sudah UUD NRI Tahun 1945 secara resmi di sahkan dengan Pancasila sebagai ideologi bangsa. Inovasi dan teknologi, gagasan/ide-ide terus dikembangkan. Namun, seiring berkembangnya zaman, apakah nilai-nilai moral dan kebhinekaan di Indonesia juga ikut berkembang? Atau malah semakin terkikis, tergerus oleh maraknya sifat individualitas?

Indonesia terdiri dari berbagai suku dari Sabang sampai Merauke dan mengakui enam agama. Pancasila merupakan pedoman bangsa Indonesia sejak dahulu kala. Namun Faktanya, di era globalisasi ini, masih banyak pelajar melakukan perilaku yang menyimpang lantaran pemikiran dan ideologi dari bangsa asing yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila menerobos masuk dan tertanam dalam pikiran dan karakter generasi muda yang sedikit demi sedikit mengikis jati diri dan moralitas mereka. Lantas, apakah kita sebagai generasi muda akan diam saja? Tentu tidak.

Saudara-saudara, inilah waktu yang tepat bagi kita untuk menunjukkan peran sebagai generasi muda. Dengan cara apa kita dapat berpartisipasi, berdedikasi dan berperan untuk kemajuan Indonesia? Pelajar pancasila, gagasan yang menjadi solusinya.

Wahai generasi muda, mari kita tunjukkan kreativitas dengan sikap yang berpedoman dan menjadi pelajar Pancasila, dengan enam ciri utama: beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

Tanamkanlah ciri tersebut. Tumbuhkanlah semangat berkebhinekaan. Hargailah perbedaan. Jadilah generasi penerus bangsa yang berkualitas. Jika kita tidak bisa bersatu dalam perbedaan, tidak akan ada NKRI, akan terpecah Indonesia ini. Maka marilah kita mempertahankan budaya luhur, lokalitas dan identitas warisan nenek moyang. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi? tetaplah berpikiran terbuka dalam berinteraksi dengan budaya lain, sehingga kita dapat menumbuhkan rasa saling menghargai. Pupuklah sikap tenggang rasa, karena sesungguhnya, keindahan itu sendiri justru terdapat pada perbedaan. Tidak akan kaya Indonesia jika tidak ada perbedaan.

Bung Karno pernah berkata “Negeri ini, Republik Indonesia, bukanlah milik suatu golongan, bukan milik suatu agama, bukan milik suatu kelompok etnis, bukan juga milik suatu adat-istiadat tertentu, tapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke!”

Warisan budaya dan nilai moral nenek moyang kita, kelestarian Bhinneka Tunggal Ika, berada di tangan kita. Jadilah pelajar pancasila, lestarikan bhinneka tunggal ika, demi kemajuan Indonesia tercinta. Bhinneka Tunggal Ika, Berbeda-beda, tapi tetap satu jua.

*Penulis adalah siswi dari SMAN 1 Soppeng

(Visited 39 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *