Oleh: Aprilla Harlina
Apa itu bermanfaat? Akhir-akhir ini aku bertanya akan hal ini karena kurasa di sekelilingku banyak yang berbicara mengenai ke-‘bermanfaat’-an, tetapi aku tidak merasakannya sama sekali. Jika dari pemahamanku yang sekarang, bermanfaat berarti melakukan sesuatu yang berdampak dan dampaknya dapat dirasakan oleh orang lain. Karena tidak mungkin saja rasanya jika orang-orang akan mengatakan sesuatu bermanfaat jika mereka tidak merasakan dampaknya.
Kita ambil contoh dari baca tulis. Siapa yang menemukan baca tulis? Tidak ada yang tahu. Padahal seseorang yang menemukan hal ini telah memberikan kebermanfaatan untuk orang-orang. Dampaknya dirasakan oleh orang-orang sepanjang sejarah. Tapi anehnya, kenapa terkadang orang-orang yang benar-benar bermanfaat tidak dikenang sama sekali? Lalu, bagaimana dengan yang tidak? Mohon maaf jika aku mengambil contoh pada penelitian akademik saat ini. Mereka membuat skripsi, tesis, disertasi, jurnal, dan apapun itu hanya untuk memenuhi tugas. Bahkan hanya untuk mendapat gelar yang mereka inginkan. Malangnya mereka tidak sepenuhnya tahu dan yakin terhadap apa yang mereka buat. Aku tidak menyalahkan semua, tapi hampir semua yang kutemukan melakukan hal itu. Mereka beranggapan dengan adanya gelar mereka akan disegani. Lalu, apakah itu yang dinamakan bermanfaat? Entahlah, aku tidak tahu apakah yang kutulis ini benar atau salah, aku hanya mengamati apa yang terjadi saat ini. Semua itu, rasanya tidak ada yang bermanfaat sama sekali.
Tidak, nyatanya beberapa dari mereka ada yang membutuhkan hal ini. Salah satunya ialah aku. Terkadang untuk menyembuhkan satu orang perlu ribuan obat. Terkadang untuk membimbing satu orang perlu banyak mentor. Terkadang untuk menyadarkan satu orang perlu ribuan kali nasihat. Dan terkadang untuk meyakinkan satu orang perlu ribuan referensi.
Seperti hal ini. Aku selalu bertanya kepada diriku sendiri:
Apa bukti dari keberadaanku?
Kenapa aku ini ada?
Kenapa aku hidup di dunia?
Aku berusaha memikirkan sendiri jawaban dari pertanyaanku itu namun aku tidak menemukannya. Hingga pada akhirnya aku menemukan kalimat pada tulisan yang mengatakan: Cogito, ergo sum yang berarti “Aku berpikir, maka aku ada”. Ya, jawabannya adalah karena aku berpikir. Dan tahu apa hebatnya? Pertanyaanku dijawab oleh filsuf ribuan tahun yang lalu, Renè Descartes. Hal ini meruntuhkan kengototanku tentang tidak adanya kebermanfaatan. Bukan berarti sama sekali tidak bermanfaat namun perlu melihat dari berbagai sudut pandang untuk bisa dikatakan bermanfaat. Lebih hebatnya lagi, ia menemukan, tidak mengeluh. Ia mampu menggagaskan pikiran kacau nya menjadi sebuah kalimat yang menyembuhkan seseorang yang sakit ribuan tahun kemudian, yaitu aku.
