Oleh: Ryan Hidayat

Pastinya kita tahu bahwa bulan Oktober adalah bulan di mana sumpah pemuda sering di ikrarkan. Pada tanggal 28 Oktober 2022 tepatnya hari Jumat adalah hari peringatan sumpah pemuda pada tahun ini. Mungkin kita sudah tahu bunyi dari sumpah pemuda tersebut tetapi apakah kita benar-benar mengerti dan memahami serta menjalankan bunyi dari sumpah pemuda tersebut.

Melihat kebiasaan pemuda masa kini, sudah sangat berbeda dengan pemuda-pemudi yang kudengar dari cerita ayahku. Kisah dari kebiasaan pemuda yang ku temui pada buku bacaanku di perpustakaan. Pemuda zaman dulu dambaan sang proklamator ulung bapak Ir.Soekarno yang mengeluarkan kata kiasan “Berikan aku 10 pemuda, niscaya akan ku guncangkan dunia”. Tidak ada asap rokok di kantin sekolah, tidak ada pembullyan di lingkungan sekolah dan jauh dari kata ketidaksopanan pada guru.

Pemuda sekarang sudah bisa dibilang melewati batas, bahkan anak usia sekolah yang semestinya mengunakan jari polosnya untuk menulis di bangku sekolah. Kini sudah mengunakan jari itu untuk menjepit rokok di kantin sekolah. Belum lagi pembullyan dan penindasan orang yang lemah sampai pemalakan kepada junior. Pemuda di jaman Sultan Syahrir yang memiliki pemikiran logis bersaing agar mendapat nilai tinggi atau prestasi dengan mengedepankan kompetensi. Namun, sekarang pemuda bersaing mendapatkan tahta atau kekuasaan dengan gaya hukum rimba “yang kuat yang berkuasa” semua menganut pada sistem kompetisi dan lupa pada kompetensi.

Sabtu siang, saat ingin ke kantin untuk makan malah bertemu dengan pemuda yang tidak punya etika. Dia selalu meminta uang temanku dengan ancaman ingin memukulnya jika tidak memberinya uang. Aku hanya terdiam dan mengajak temanku untuk kembali ke kelas.

“Kamu kenapa ngak lapor aja sama guru biar dia dihukum soalnya hampir setiap hari kamu di gituin” kataku.

“Kalau dilaporin pastinya tambah dipukulin kalau ketemu di luar sekolah” kata temanku. Aku bingung bagaimana cara membantu temanku ini. Aku yang memiliki keyakinan bahwa pemuda dengan segala kecanggihan media, bisa mengikuti jejak pemikiran dari Muh.Hatta yang visioner dalam menciptakan peradaban. Kini mulai ragu, melihat kondisi generasi muda yang tidak lagi mempunyai jiwa pancasila, apa lagi rasa tolong menolong, kerja sama, serta etika semuanya dilupakan. Apa mungkin ini maksud dari kata-kata Bung Karno “Perjuanganku tak seberapa karena melawan penjajah, perjuangan kalian jauh lebih besar karena melawan bangsamu sendiri”.

(Visited 32 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *