Oleh : Amara Nasifa

Selasa 20 September 2022 adalah hari bersejarah bagiku. Tepat setelah aku mengerjakan tugas mapel Matematika, tiba-tiba ponselku berdering. Ada seseorang yang menelepon yang tidak langsung kutanggapi, karena tidak ada nama yang tercantum di layar ponsel. Dengan rasa curiga aku membiarkan ponsel berdering tanpa meresponnya, takutnya itu orang iseng yang bermaksud jahat, kataku membatin. Maklum sudah banyak kasus anak-anak menjadi korban telepon salah sambung.

Sesaat kemudian, ponselku kembali berbunyi kedua kalinya. Karena penasaran aku memberanikan diri menerimanya. Dari seberang sana terdengar suara seorang bapak yang begitu bersahabat menyapa dan menyebut namaku. Suara itu memperkenalkan namanya, Om RIM founder Pena Anak Indonesia (PAI) yang ingin mengajakku bergabung di komunitas menulis anak Indonesia.

Dalam pembicaraan aku ditanya tentang asal sekolah, hobinya apa, dan siapa yang mengusulkan untuk bergabung di komunitas itu. Ternyata, guru IPA disekolahku ibu Hj. Kartiani yang merekomendasikan namaku kepada Om RIM untuk bergabung dan belajar di komunitas menulis anak Indonesia.

Tidak perlu ditanya bagaimana perasaanku ketika diajak bergabung di PAI, sudah pasti aku sangat terharu, bangga, dan senang sekali. Sungguh kesempatan untuk aku meningkatkan dan mengembangkan hobiku menulis yang selama ini terpendam.

Ternyata Om RIM seorang inspirator dan eksekutor menulis. Aku menyebut inspirator karena mampu menumbuhkan semangatku menulis, dan eksekutor karena langsung menugaskanku menulis empat paragraf tentang apa saja. Jujur, saat itu aku bingung ingin membuat tulisan dengan tema apa, hingga akhirnya berinisiatif menulis tentang apa itu sahabat. Sudah hampir satu jam aku baru menyelesaikan tulisan pertamaku umtuk langsung dikirim ke nomor whatsapp Om RIM. Tidak mudah membuat tulisan dengan alur cerita yang sistematis.

Ragu dan takut yang kurasakan setelah mengirim tulisanku. Ragu karena merasa tulisanku yang buruk dan masih lompat-lompat. Takut jika Om RIM marah karena tulisanku tidak sesuai ekspektasinya. Karena itu aku mengrimkan sebuah pesan dibawah tulisan, “Maaf Om, jika masih banyak kekurangannya”.

Setelah melihat dan membaca tulisanku, Om RIM langsung mengrimkan pesan yang diluar dugaanku, “Iya nak, Om belum butuh tulisan yang benar, justru Om butuh tulisan yang salah, karena semua penulis besar tidak ada yang langsung benar”, kata Om RIM menyemangatiku. Alhamdulillah, Om RIM memang inspirator besar, kataku membatin.

Setelah tulisan pertamaku dipublikasikan di website Pena Anak Indonesia, aku langsung bergabung dalam grub Whatsapp Pena Anak Indonesia yang beranggotakan teman-teman anggota PAI dari berbagai kota atau daerah. Saat aku memperkenalkan diri, semua teman-teman menyambutku dengan senang hati dan ramah. Sangat senang rasanya mendapatkan banyak teman baru yang begitu baik, dan saling memotivasi menulis.

Selama di bawah bimbingan Om RIM, aku menghabiskan waktu luang dengan menulis tentang apa saja. Aku sudah dapat banyak pengetahuan dari Om RIM tentang cara menulis yang baik, singkat, padat, jelas, dan tidak mutar-mutar. Memperhatikan tanda baca, kesalahan pengetikan, dan banyak sekali. Selain itu aku juga diminta mengajak beberapa teman sekolah yang memiliki hobi menulis untuk ikut bergabung di komunitas PAI.

Sungguh, selama bergabung di PAI aku mendapatkan mentor dan pembimbing yang baik dan sangat ramah kepadaku. Tulisan yang kukirim pasti selalu diberikan saran atau kritikan agar memperbaiki kekurangan dan mengevaluasi diri menjadi lebih baik ke depannya. Setiap tulisanku yang diposting selalu diberi pujian dan semangat oleh Om RIM untuk terus berkarya. Sampai tulisan ini dibuat, sudah empat kali gagasan dan piliranku mengangkasa melewati batas-batas ruang dan waktu. Semua itu berkat bimbingan para mentor, khususnya Om RIM yang selalu setia mendidik agar menjadi penulis yang hebat, serta doa dari kedua orang tuaku.

Selama ini aku kira keinginanku untuk menjadi seorang penulis hanya impian semata, karena tidak memahami harus mulai dari mana. Namun, setelah gabung di PAI dan mulai dibimbing untuk menulis, aku yakin bisa menggapai impianku menjadi penulis untuk membahagiakan kedua orang tua dan mentor terbaikku Om RIM.

Terima kasih kepada ayah bundaku yang selalu mendoakanku, terima kasih kepada Om RIM yang tidak pernah jenuh mendidikku, terima kasih kepada para mentor yang selalu mengarahkan, terima kasih kepada teman-teman PAI yang telah menyambutku dengan ramah.

Bergabung di PAI bukan jadi hal mudah bagiku untuk menciptakan karya-karya tulis, tetapi dengan bantuan Om RIM semua menjadi lebih mudah kujalani. Ingin rasanya suatu saat nanti bisa jadi seperti Om RIM, menjadi penulis yang hebat dan terkenal tetapi tetap rendah hati dan senantiasa membagikan ilmunya tanpa batas tanpa syarat kepada anak-anak bangsa. Thank You My Great Mentor.

*Siswi SMPN 2 Lilirilau Kabupaten Soppeng

(Visited 54 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *