Oleh: Nur Aqilah Salim

Keheningan malam menitip salam
Pada kunang-kunang yang terbang
Membawa angan dan kenangan
Siap sambut elok mentari esok hari

Dari terang yang dibawa sang kunang
Menyuratkan perpisahan untuk rindu
Sungguh tak ada yang mau rasa sendu
Semua orang juga tahu akan pilu

Pagi itu anak-anak bersorak
“Selamat tinggal putih biru!” katanya
Padahal itu awal haru biru si realita
Bukan rahasia lagi, kan?

Diiming-imingi kebebasan
Ingin menjadi manusia dewasa
Seketika lupa dengan kerasnya dunia
Lupa drama dan hiruk pikuk kota

Tuan, puan, dan kawanku sekalian
Masa kecil memang intan berlian
Tapi masa remaja juga permata bukan?
Rasanya ingin terus di sana

Tak ingin lepas genggam kalian
Harap tidak ada akhir dan perpisahan
Sepertinya terdengar sangat egois
Pinta manusia satu ini

Haru tinggalkan putih biru
Tuju abu-abu, sedikit keliru
Bukan khawatir tentang temu
Tapi hangat yang bisa jadi semu

Tuan, puan, dan kawan sekalian
Haru setelah putih biru
Sampai bertatap kembali
Pada jumpa berikutnya

Watansoppeng, 22 Juni 2022

(Visited 46 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Nur Aqilah Salim

Aku biasa dipanggil Qilaa. Lengkapnya Nur Aqilah Salim. Bergabung di Pena Anak Indonesia sejak 25 September 2021 dengan tulisan pertamaku sebuah sajak berjudul “Sandiwara”. Berawal dari menuliskan yang tak terlisankan, hingga akhirnya pada awal tahun 2022 kumpulan goresan penaku dan teman-teman dibukukan, menjadi buku pertama kami yang saat itu masih berstatus pelajar di SMPN 1 Watansoppeng. Sekarang aku sedang menikmati hiruk pikuk organisasi di SMAN 8 Soppeng! Jika ditanya apa hal yang dapat membuatku kecewa, jawabnya adalah semua energi negatif dari segala perilaku tega manusia di muka bumi ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *