Di sebuah ruangan yang gelap dan pencahayaan yang redup, terlihat seorang gadis yang duduk di sebuah kursi dengan kaki dan tangan yang terikat. Kondisinya tidak sadarkan diri.
Dari bagian ruangan gelap yang tidak terkena cahaya lampu, muncul seseorang berjalan ke arah gadis itu sambil membawa nampan besi yang berisi berbagai jenis benda.
Sosok itu meletakkan nampan di sebuah meja yang letaknya tidak jauh dari gadis itu dan mengambil seember air, lalu menyiramkannya ke gadis itu.
“Hey, bangun! Jangan malas-malasan. Ini hari terakhir lu. Jadi buruan bangun!” sentak sosok itu.
Gadis itu terbangun dan terkejut mendapati dirinya sedang duduk terikat di atas kursi.
“Lepaskan aku!” gadis itu histeris sambil mencoba melepaskan diri.
Sosok itu mendekat ke arahnya. Kemudian, dia mengelus wajah gadis itu. Sarung tangan operasi yang dia pakai terasa dingin di wajah gadis itu.
“Wajah yang indah, tetapi sayang kau tidak akan hidup lebih lama lagi,” sosok itu setengah berbisik.
“Suara ini… Mengapa? Apa salahku?” gadis itu kaget.
Sosok itu memakai pakaian media operasi lengkap dengan masker yang melekat di wajahnya. Gadis itu agak sulit untuk mengenalinya.
“Mengapa? Apakah aku harus mengatakan tujuanku? Tapi untuk apa? Kau juga akan mati saat ini,” Sosok itu menyayat wajah gadis itu dari ujung alis hingga ke sudut bibir dengan sekali gerakan.
“Akhh… sakit… tolong… lepaskan aku!” teriak gadis itu sambil menahan rasa sakit di wajahnya.
“Maaf, tapi… aku tidak akan melepaskanmu…” Sosok itu menyayat bagian lain wajah si gadis.
Gadis itu hanya bisa menahan sakit dan menjerit. Air mata gadis itu sekarang bersatu dengan dengan darah segar yang mengalir keluar dari luka di wajahnya.
Tidak berhenti di situ, sosok itu mengambil sebuah garpu di atas nampan, lalu menancapkan garpu itu di atas telapak tangan gadis itu.
“Akhh..!” rintihan pilu gadis itu memenuhi ruangan.
Sosok itu kemudian mengambil sebuah pisau yang ukurannya sedikit lebih besar, lalu mulai memotong jari tangan gadis itu satu persatu. Karena kehilangan banyak darah, pandangan gadis itu mulai memudar. Sebelum pandangan gadis itu memudar, dengan cepat sosok itu menancapkan pisau tepat di area jantung gadis itu.
Gadis itu hanya bisa pasrah dengan keadaan dan meninggal dunia dalam keadaan yang mengenaskan dan mata yang terbuka. Tak berhenti di situ, sosok itu menacapkan pisau ke mata gadis itu, lalu mencongkelnya dari tempatnya.
“Wah bola mata yang indah…. tambahan koleksi, haha!” ucap sosok itu memegangi bola mata gadis yang menjadi korbannya
Tiba-tiba lampu di dalam ruangan dan pintu pun terbuka yang menampakkan sosok berbaju hitam berjalan mendekat ke arah pelaku.
“Apakah kau sudah selesai?” tanya sosok berbaju hitam itu.
“Iya aku baru saja selesai. Lihatlah, indah kan?” ucap sosok itu sambil memperlihatkan bola mata itu pada si baju hitam.
“Matamu lebih indah. Bisakah aku menjadikannya koleksiku?” ucap Sosok berbaju hitam itu sambil mengelus wajah pelaku yang masih tertutup kain
“Kalau itu sebaiknya tidak. Tanpanya aku tidak bisa melihat wajahmu yang selalu membuatku tergila-gila,” timpal sosok itu.
“Heh, baiklah. Sekarang mau kau apakan jasad ini?” tanya si baju hitam.
“Mungkin membuangnya ke sungai. Kau bisa membantuku?” Sosok itu bertanya balik.
“Baiklah, aku akan membantumu. Tapi sebelum itu…” Sosok berbaju hitam itu berjalan ke depan mayat si gadis, lalu mengeluarkan pisau. Dia membelah dada gadis itu dan mengambil jantungnya.
Mereka berdua memasukkan tubuh yang sudah terbagi menjadi beberapa bagian itu ke dalam sebuah kantung plastik hitam yang besar, lalu memasukkannya ke dalam mobil dan mengendarai mobil itu melewati jembatan.
Karena sudah tengah malam, kondisi jembatan sepi. Mereka berdua dengan cepat membuang kantung plastik berisi jasad itu ke sungai.
**
Bel istirahat berbunyi. Seperti biasa, satu per satu siswa dan siswi keluar dari dalam kelas.
“Tia, bisa lepas gak? Lu berat tau…” Keluh Reynal.
“Enak aja, ngatain gua berat… gua laporin Papa nih!” ancam Tia.
“Eeh jangan dong.. bisa-bisa pala gua ilang nanti,” wajah Reynal langsung berubah,
“Makanya, lu pasrah aja” ucap Tia menggandeng tangan Reynal.
“Iya deh.. gua pasrah aja,” gumam Reynal.
“Ciee yang pasrah… Tia, suruh push-up!” Fiki terlihat senang.
“Ih, ni bocah ngelunjak. Gua hantam juga lu!” Reyhan kesal.
“Ampung, Bang… cuman becanda” Fiki agak menjauhi Reynal.
“Ngantin, yuk?” ajak Reynal.
“Gak ikut, gua mutilasi entar…” tambah Tia.
“Ih, serem banget sih… Iya deh gua ikut… Lagi laper juga,” jawab Fiki.
Mereka bertiga pun berjalan ke kantin. Sebelum sampai di kantin, seorang gadis berlari menghampiri mereka.
“Kak Rey, liat Amira, gak?” tanya Dila, sahabat Amira.
“Enggak tuh.. Gua gak liat… Emang kenapa?” tanya Reynal.
“Oww gitu ya, Kak… Amira hari ini gak masuk, Kak. Orang tuanya juga nyariin dia,” jelas Dila.
“Maksudnya Amira kabur dari rumah, gitu?” sambung Fiki.
“Ya, mungkin seperti itu, Kak… Ya udah Kak, makasih… Saya pergi dulu…” Dila langsung meninggalkan mereka.
Sebelum melangkah jauh, saluran televisi di kantin menanyangkan sebuah berita tentang penemuan mayat seorang siswi SMA yang memakai seragam lengkap. Namun, kaki dan tangan yang sudah terpisah dari tubuh. Sebelah bola mata dan jantungnya juga hilang.
Ketika Stasiun televisi mengumumkan identitas korban, Dila syok dan terduduk di tanah. Rupanya korban mutilasi tersebut adalah Amira.
***
Penulis : Muh. Irwan ali
Sekolah : SMA HASKA
Kelas : Mipa 10
Kec : Katoi
Kab : kolaka utara
