Ayana si anak tunggal yang selalu dituntut untuk menjadi sempurna. Kesempurnaan harus berada di atas kepala Ayana. Derita menjadi anak tunggal adalah semua harapan keluarga berada di pundaknya, bahagia, kesuksesan semua harus siap dia pikul di atas pundaknya.
“Ayah tidak mau tahu, kamu harus masuk jurusan kedokteran!” Kata-kata Ayah begitu tegas, tidak ingin terbantahkan tatkala melihat hasil pengumuman SNMPTN.
Sejak kecil Ayana selalu belajar dengan sungguh-sungguh. Ayahnya sudah melatih agar tidak ada kata malas belajar untuk seorang Ayana.
Satu bulan yang lalu, Ayana mendapatkan kesempatan untuk mendaftar diri di perguruan tinggi melalui jalur SNMPTN. Ayana merupakan siswa yang pintar di sekolahnya dan mendapatkan peringkat pertama paralel.
Semua nilai Ayana rata-rata 95 ke atas. Dirinya sudah berharap lebih untuk memiliki peluang agar lolos di jalur SNMPTN. Ayah memerintahkan Ayana agar memilih kedokteran UI untuk menjadi pilihan pertamanya dan menjadikan UGM sebagai pilihan keduanya. Ayana kira dirinya akan berhasil. Namun, hasilnya nihil. Rasanya usahanya sejak kecil sia-sia begitu saja.
Tekanan terus Ayana dapatkan setiap hari. Kertas serta tumpukan buku menjadi makanan sehari-hari bagi Ayana. Tidak ada waktu bagi Ayana untuk bermain. Semua waktunya tersita oleh belajar, belajar, belajar, dan belajar.
Ayana pikir pelajaran adalah temannya sejak kecil. Terhitung sudah delapan belas tahun dirinya berada di bumi ini, dia tidak pernah memiliki seorang teman. Bukan orang-orang tidak ingin berteman dengan Ayana. Tetapi, Ayana yang tidak ingin memiliki teman.
Ayana yakin jika suatu saat dirinya memiliki seorang teman, beberapa waktunya pasti akan tersita untuk bermain dengan teman-temannya. Ayana tidak ingin itu terjadi. Bahkan, 10 menit saja sangat berharga untuk seorang Ayana.
“Ayana,” panggil ayah di balik pintu.
“Kenapa, Yah?” sahut Ayana tanpa menoleh.
“Sudah berapa lama waktu yang kau habiskan untuk belajar?” kata Ayah saat mendekat.
Ayana melirik jam dinding yang tertempel rapi di sebelah kiri dinding kamarnya.
“6 jam, 25 menit, 60 detik,” jawab Ayana dengan jujur.
“Hentikan sebentar, Ayah ingin berbicara kepadamu,” kata Ayah lalu duduk di tepi kasur.
Ini adalah kali pertama Ayah mengajak Ayana berbicara setelah pengumuman kemarin. Biasanya, setiap hari hanya bertanya, “Sudah belajar? Berapa banyak waktu yang telah kau habiskan belajar untuk hari ini? Sudah memahami berapa materi? Berapa soal yang sudah kau kerjakan? Sudah menguasai berapa mata pelajaran?” pertanyaan yang hampir setiap harinya Ayana dapatkan dari ayahnya. Pertanyaan yang bukannya membuat Ayana tambah semangat, malah membuat Ayana semakin stres.
“Mau ngomong apa, Yah?” Tanya Ayana sambil memutar kursi belajarnya menghadap Ayah.
“Di angkatan kamu kemarin ada berapa orang yang ambil Kedokteran?”
Ayana menghela napasnya sebelum menjawab. “Ada dua puluh lebih kalau ga salah. Enam orang lainnya termasuk aku ambil kedokteran UI sebagai pilihan pertama,” jawab Ayana tanpa menatap Ayahnya.
“Ada yang bisa tembus?” tanya Ayahnya lagi.
“Ada dua orang yang lulus, Satunya dari IPA 2 yang satunya lagi anak IPA 1 teman kelas Ayana.”
“Juara berapa dia sekolah kamu?” kini aura suara ayah sudah berbeda dari sebelumnya.
“Juara 2, Yah.”
“Dia juara dua saja bisa lulus Ayana. Kamu ini sudah juara satu masa tidak lulus?”
“Bukan rezeki Ayana.”
“Ayah tidak mau tahu! SBMPTN ini, kamu harus masuk kedokteran UI!” tegas Ayah lalu keluar.
Ayana menatap punggung ayahnya yang kian menjauh di tenggelamkan oleh jarak. Ayana geleng-geleng dengan sikap Ayahnya. Tidak bisa di pungkiri, Ayana juga sudah cukup lelah untuk menuruti segala perintah ayahnya tetapi selalu dinilai kurang.
Sudah banyak waktu yang Ayana luangkan untuk belajar. Bahkan, semua waktunya hanya untuk belajar. Di hari keesokan Ayana akan melaksanakan UTBK, dia baru tidur pukul 3 pagi hanya untuk memahami kembali materi-materi yang sempat dia pelajari agar nantinya tidak ada soal yang dijawab keliru.
Beberapa Minggu usai melaksanakan UTBK, Ayana kembali belajar. Tidak ada kata healing untuk seorang Ayana.
“Hari ini pengumuman, ya?” Tanya Ayah sambil membawa laptop kerjanya menuju meja belajar Ayana.
“Iya,” jawab Ayana singkat.
Ayah meminta beberapa identitas Ayana untuk membuka websitenya. Waktunya tinggal 30 detik lagi untuk menampilkan hasil kerja keras Ayana, sampai mana kemampuan Ayana untuk bersaing.
Ayana mengigit ujung kuku ibu jarinya saat waktunya tersisa 5 detik lagi hingga…
PENGUMUMAN HASIL SELEKSI SBMPTN 2020
PESERTA ATAS NAMA AYANA PUTRI MAHEND
DENGAN NOMOR PESERTA 220-351-10-0016
DINYATAKAN TIDAK LULUS SELEKSI SBMPTN LTMPT 2020
Langit mendung Jakarta menjadi saksi bisu hari hancurnya perjuangan si anak tunggal tangguh. Ayana menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangannya. Dia tidak menyangka hasilnya akan seperti ini. Dia tidak menyangka usahanya telah terkhianati. Tanpa izin, air mata Ayana luluh begitu saja.
Dulu saat Ayana tidak lulus SNMPTN, dia tidak menangis seperti ini. Dia juga tidak banyak menampilkan sedihnya. Dia hanya sedikit kecewa. Catat baik baik: hanya sedikit! Karena Ayana tahu di jalur ini dia tidak mengeluarkan usahanya untuk tes. Berbeda dengan jalur SBMPTN kali ini, jauh sebelum jadwal UTBK, dia sudah menyiapkan dirinya dengan baik. Tetapi ini? Semua sia-sia.
“APA-APAAN INI AYANA? SELAMA INI KAMU BENAR-BENAR BELAJAR TIDAK? KENAPA HASIL NYA MASIH SAMA?” Ayah murka dan memaki-maki. Ayana saja tidak menyangka hasilnya akan begini.
“KAMU NIAT TIDAK BAHAGIAKAN AYAH? KENAPA HASILNYA SEPERTI INI, AYANA? KAMU BENAR-BENAR MENJAWAB SOALNYA DENGAN BAIK, KAN?”
Ayana terus terisak mendengar makian Ayahnya.
“AYANA, JAWAB AYAH!” Ayah mencengkram pundak Ayana dengan kuat.
“Ayana sudah menjawabnya dengan teliti, Yah, tanpa keliru sedikit pun.“
“Terus ini hasilnya kenapa kayak begini Ayana!”
“Ayana bahkan ga nyangka ya kalau hasilnya akan seperti ini.”
“Bodoh kamu, Ayana! Bodoh! Ayah kecewa sama kamu! Ayah sudah mendidik kamu dengan benar sejak kecil. Ayah selalu memfasilitasi kamu dengan berbagai media belajar biar kamu bisa jadi dokter. Tetapi ini apa, Ayana? Ini balasan kamu selama delapan belas tahun Ayah didik kamu?”
Ayana menatap Ayahnya dengan gelengan kepala. Di keadaan Ayana yang tidak baik ini, bukannya memberi semangat, malah memojokkan dan membuat Ayana merasa paling tersalahkan.
“Rugi Ayah menyekolahkan kamu tinggi-tinggi ternyata balasannya…“
“Berhenti, Yah, Ayana tahu, Ayana ga bisa buat Ayah bangga, ga bisa wujudin cita-cita Ayah buat mecahin rekor keluarga kita biar ada yang bisa jadi dokter. Ayana tahu, Yah, tahu banget harapan itu ada di pundak Ayana.”
Ayana menjeda ucapannya sebentar mengusap air matanya terus mengalir.
“Cuma karena Ayana dua kali gagal tembus kedokteran, Ayah udah merasa rugi nyekolahin Ayana? Ayana tahu yah, kalau Ayah sekarang kecewa banget. Bukan cuma Ayah, Ayana juga. Ayana juga!” kata Ayana menunjuk dirinya.
“Ayana udah berusaha semaksimal mungkin, Yah, Bahkan, waktu istirahat Ayana cuma malam doang, Yah. Cuma malam di jam tidur doang Ayana ga belajar. Kalau Ayah merasa rugi sekolahin Ayana tinggi-tinggi, Ayana juga rugi, Yah! Rugi dari kecil selalu belajar, selalu nurutin perintah Ayah, ga punya teman main karena Ayah selalu suruh buat belajar, bimbel sana-sini sampai larut malam buat nepatin perintah Ayah. Delapan belas tahun Ayana hidup di bawah kendali Ayah. Gak pernah membangkang, semua perintah Ayah selalu dituruti. Tetapi kenapa semua usaha Ayana selalu sia-sia di mata Ayah? Apa cuma karena Ayana gagal masuk kedokteran? Semua usaha Ayana selama dari kecil sampai hari ini berakhir dengan sia-sia di mata Ayah. AYANA JUGA CAPEK, YAH!” teriak Ayana lalu berlari meninggalkan kamarnya.
Di tuntut untuk bisa adalah salah satu cara untuk mencapai tujuan. Tetapi, dipaksakan adalah cara yang salah. Selamat berada di titik terendah si manusia tangguh yang tak pernah mengenal lelah perihal mengejar ilmu.
