Saat membuka pintu, “Dorr!”

Fiki terkejut bukan main. Fiki melihat ayahnya menembak seseorang di dalam ruangan. Fiki membeku, tak berani melangkah masuk.

Melihat Fiki, William berjalan ke kursi kerjanya dan duduk di sana.

“Masuk, jangan hanya berdiri di sana!” perintah William, ayah Fiki.

Fiki dengan takut melangkahkan kakinya ke dalam ruangan. Tubuhnya gemetar. Kini, Fiki berdiri tepat di depan ayahnya sambil terus menunduk, tak berani menatap ayahnya.

“Duduk!!” perintah ayahnya.

“Ada apa, Ayah? Mengapa menyuruhku pulang?” tanya Fiki.

“Ini demi keamananmu! Jerry tidak bisa terus melindungimu. Maka dari itu, sebelum masalah ini selesai, kamu akan tinggal di rumah ini” ucap ayahnya.

“Memangnya masalahnya apa, Ayah? Kok yang jadi target aku?” Fiki tidak mengerti.

“Karena kamu anak ayah. Pokoknya tunggu Jerry menyelesaikan semua dengan anak buahnya. Sebelum itu, kamu akan aman di sini” tegas William.

“Baiklah, Ayah. Aku akan menurutimu. Apa aku bisa pergi sekarang?” Ucap Fiki.

“Pergilah, kamarmu sudah siap. Di luar sudah ada yang akan mengantarmu.” ucap William.

Fiki pun berjalan ke luar ruangan. Seperti yang ayahnya bilang, di depan pintu sudah ada seorang pengawal yang siap mengantar.

“Silahkan lewat sini, Tuan Muda…” sapa pengawal itu.

Fiki mengikuti pengawal itu ke depan pintu sebuah ruangan.

“Tuan Muda, ini kamar Anda. Semua kebutuhan Anda sudah ada di dalam. Kalau begitu saya permisi,” ucap si lalu berjalan pergi.

Fiki membuka pintu dan masuk ke dalam kamarnya. Ruangan yang bernuansa alam dan barang yang tersusun rapi. Ruangan yang besar dengan satu tempat tidur dan satu kamar mandi di dalamnya.

Fiki merebahkan dirinya di atas kasur sambil berpikir keras. Karena banyak berpikir, Fiki pun ketiduran.

Jerry melihat pintu kamar Fiki terbuka. Dia pun melangkah masuk. Melihat Fiki tertidur, Jerry mengangkat Fiki ke tengah tempat tidur. Tak lupa Jerry memasangkan selimut untuk Fiki.

“Dasar bocah, merepotkanku saja…” bisik Jerry sambil berjalan meninggalkan kamar Fiki. Tak lupa Jerry menutup pintu kamar tersebut.

*

Di malam hari, Gio sedang berjalan pulang dari minimarket sambil menelepon Deny. Gio merasa seperti ada orang yang mengikutinya. Namun, setiap dia menoleh, tidak ada siapa pun.

‘Brukkh’

Tiba-tiba dari arah belakang sebuah balok kayu tepat mengenai punggung Gio. Menerima pukulan itu, Gio langsung tersungkur ke tanah dan pingsan.

Sosok itu mematikan telepon Gio dan mengirimkan Deni sebuah pesan. “Udah dulu yah, teman dihajar orang. Besok lagi disambung.” Pesan pun terkirim.

“Oke, gua tunggu” balas Deny.

Gio dibawa oleh seseorang yang memakai pakaian serba hitam, menggunakan sebuah mobil yang tak jauh dari tempat kejadian.

Saat terbangun, Gio sedang berbaring di atas kasur yang mirip seperti kasur rumah sakit dengan tangan dan kaki diikat.

“Woy, lepasin gua! Yang berani ngiket gua siapa? Lalau lu laki, muncul sini!” teriak Gio.

Suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah Gio.

“Hai Gio, kita ketemulagi!” ucap Jerry.

“Lu kan adeknya…”

“Jefri, kan? Gua kira lu gak ngenalin gua lagi?” Jerry memotong perkataan Gio.

“Lepasin gua. Mau lu gua habisin kayak si Jefri?” ucap Gio.

“Emang lu bisa?” ucap Jerry mendekatkan wajahnya ke wajah Gio sambil menempelkan sebilah pisau tepat di leher Gio.

Gio bergidig ngeri menatap wajah Jerry. Raut muka Jerry sudah berubah drastis.

“Yah, tapi sayang ini hari terakhir lu di dunia. Jadi, sampai ketemu di neraka…” ucap Jerry dengan mengulum senyum yang mengerikan.

“Tapi gua gak bakalan langsung ngebunuh lu. Gua bakal lakuin perlahan-lahan…” ucap Jerry sambil menggoreskan pelan leher Gio dengan pisau kecilnya yang tajam.

Jerry mengambil sebuah pil, kemudian memasukkannya ke dalam mulut Gio. Gio mencoba memuntahkan obat itu. Namun, Jerry langsung meminumkannya air dan menutup mulut Gio dengan kain. Dengan terpaksa Gio menelan pil tersebut.

Tak berselang lama, efek pil itu mulai bereaksi. Gio merasakan napasnya sesak seakan-akan sedang tenggelam.

“Haha, pilnya mulai bereaksi. Nah, sekarang ke tahap selanjutnya.”

Jerry mengambil sebuah pisau kemudian menyayat kulit tangan Gio. Gio merasakan sakit yang luar biasa. Dia ingin berteriak, namun bernapas pun susah. Dia hanya bisa merintih kesakitan.

Melihat itu, Jerry semakin menggila. Disayatnya lagi lengan Gio. Darah segar bercucuran ke luar. Pandangan Gio mulai buram. Sebelum kesadarannya hilang, Jerry membisikkan sesuatu di telinga Gio.

Setelah membisikkan itu, Jerry langsung memotong lengan Gio dengan pisau yang besar sekali tebas. Gio menghembuskan napas terakhirnya dengan sangat mengenaskan.

Tidak sampai di situ, Jerry memutilasi tubuh Gio menjadi beberapa bagian, memisahkan tangan dan kakinya dari tubuhnya. Kemudian, memotong tangannya menjadi beberapa bagian seperti saat memotong daging di kios penjual daging, Dengan sekali pukul, daging pun terpisah. Lalu, Jerry memasukkannya ke dalam sebuah peti yang berisikan gara dan menutup peti itu.

Jerry berjalan ke luar ruangan eksekusi. Tak lupa dia mengunci pintu ruangan. Jerry berjalan menaiki anak tangga.

Jerry menutup pintu ruangan bawah tanah, menguncinya, lalu menyembunyikan pintu dengan karpet merah yang semerah darah.

Jerry berjalan ke luar rumah. Di luar, Jerry sudah di tunggu oleh Pak Serin di balik setir mobil.

Jerry berjalan ke mobil, kemudian masuk ke dalamnya. Mobil melaju turun dari bukit, meninggalkan rumah yang menjadi tempat Jerry melakukan aksinya.

Penulis : Muh. Irwan ali

Kelas : Mipa 10

Asal Sekolah : SMA Haji Agus Salim Katoi

Kab : Kolaka Utara

(Visited 9 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *