Menutup tahun 2021 merupakan momentum yang luar biasa bagi Pena Anak Indonesia (PAI). Untuk sebuah komunitas anak-anak pemelajar literasi membaca dan menulis yang baru berumur tiga bulan, banyak karya yang sudah terwujud, baik dalam bentuk media daring ataupun media tercetak.
Salah satu hal yang menarik adalah “lintasan” Top 10 Contributors PAI. Sistem secara otomatis menampilkan statistik tulisan yang diposting di website PAI, baik dari tulisan terbaru, tulisan yang sedang trending, tulisan yang paling banyak dibaca, hingga kontributor yang paling produktif menulis.
“Di ‘lintasan’ kontributor PAI ini tidak ada persaingan. Semata-mata untuk ‘bersenang-senang’ dan saling memotivasi untuk menulis. Sepuluh nama kontributor muncul pada list ‘lintasan’. Ada nama yang masuk, ada nama yang tersingkir, ada nama yang naik turun, dan ada juga nama-nama yang cenderung berada di posisi tiga besar. Bagaimana pun posisinya pada’lintasan’, semua senang!” jelas Ruslan Ismail Mage, founder PAI.
Di akhir tahun 2021, sistem mencatat sepuluh nama kontributor tulisan yang paling produktif dalam hal jumlah tulisan, yaitu:
- Askiya Hasna Sumayya
- Besse Zaskia Utami
- Jusnia Paseba
- Regina Salzabila
- Andi Kahdijah Az’Zahra
- Nur Aqilah Salim
- Ulva Mega Puspita
- Muh. Irwan
- Nayla Basam
- Anugra Dwi Junianti
Sementara posisi top contributor secara umum tetap dipegang oleh Besse Zaskia Utami.
Ditanya tentang goal setting PAI, Ruslan Ismail Mage yang biasa dipanggil Bang RIM menjelaskan bahwa PAI hanya upaya sederhana untuk menyalakan lilin-lilin kecil di dalam jiwa anak bangsa agar mencintai literasi membaca dan menulis. Bang RIM berharap lilin-lilin kecil tersebut akan terus membesar menjadi matahari yang menyinari semesta. Ketika para pegiat literasi angkatan Bang RIM sudah tidak lagi produktif menulis, anak-anak PAI inilah yang akan melanjutkan tongkat estafet literasi membaca dan menulis.
“Sejumlah nama lain sebenarnya muncul di ‘lintasan’. Ada anggota-anggota baru yang langsung melejit dengan karya tulisannya dan menjadi trending seperti Sinar, Ulva Mega Puspita, dan Aisyah Pertiwi. Namun, untuk jumlah tulisan memang masih terbatas sehingga tidak masuk ke dalam sepuluh nama tersebut di atas. Hanya perkara waktu saja, mereka baru bergabung. Tetapi, potensi menulisnya besar,” ungkap Iyan Apt, administrator PAI.
Sebagai bagian dari upaya untuk tetap termotivasi, website menulis PAI memang dibuat untuk “menitipkan’ karya para anggota. Dengan cara ini, anak-anak dapat melacak kemajuan dan memberi tahu orang lain seberapa jauh mereka telah berkarya.
“Di website menulis PAI tidak ada iklan. Kita tidak mencari cuan di sini. Kita juga tidak ingin pembaca ‘terganggu’ dengan munculnya iklan yang di beberapa website cenderung menutupi konten yang ingin dibaca. Untuk biaya domain dan hosting, ada beberapa anggota komunitas Bengkel Narasi yang berdonasi. Maintenance-nya pun dilakukan secara sukarela oleh Kang Andrian Nur Prabawa dari Bengkel Narasi,” tambah Iyan. []
