ibu

Oleh Jusnia Paseba

Empat belas tahun yang lalu,tepat di tanggal 17 November 2007 sosok seorang wanita yang tangguh berhasil menghadirkan putri kecilnya untuk melihat keindahan dunia.

Di saat orang-orang menikmati hari-harinya dengan liburan,berkumpul dengan keluarga atau menyelesaikan aktifitasnya ,satu sosok wanita tangguh ini justru tengah berjuang mempertaruhkan nyawanya demi satu nyawa akan hadir untuk menjadi generasi penerusnya kelak nanti.

Sosok wanita yang kini di sebut dengan panggilan “Mama” mampu mengorbankan segala tenaganya hanya untuk menyelematkan satu nyawa dan hari itu dirinya telah berhasil menghadirkan sosok putri yang sampai saat ini masih ada di sampingnya.

Mama yang dulu mengandungnya selama sembilan bulan lebih lalu bertaruh nyawa untuk melahirkannya kini ia kembali merawatnya tumbuh menjadi sosok wanita yang sekarang telah menulis sepenggal kata ini. Kehadiran sosok Ibu dapat membuat hidupnya menjadi seperti pelangi yang selalu berwarna-warni.

Hari ini tepat Dua puluh dua Desember telah diperingati hari ibu. Hari ibu diperingati sebagai bentuk hadirnya sosok wanita yang mampu membawa kita hadir untuk menikmati dunia.  Ibu adalah orang pertama yang mendapatkan penghargaan sebagai wanita tangguh di dunia ini.

Tidak ada seorang anak yang akan menyia-nyiakan ibunya karena dirinya hadir berkat Ibu. Segala hasil usaha ibu semata-mata hanya untuk sang anak. Ibu banting tulang bekerja hanya untuk bagaimana agar anaknya bisa sukses.

Tugas seorang anak adalah bagaimana dirinya agar bisa membahagiakan kedua orang tuanya.  Kesuksesan seorang anak adalah bentuk bahagia seorang ibu.

Bentuk ucapan terimakasih untuk seorang ibu tak bisa dijabarkan karena menurut saya seorang ibu adalah sosok yang segala-galanya dalam hidup saya. Itulah mengapa orang-orang mengatakan bahwa patah hati terberat seorang anak ketika wanita yang selalu ia sebut “Mama” pergi meninggalkannya.

Hadirnya sosok ibu, seperti nyalanya lilin untuk menerangi ruangan gelap. Ibu adalah mahkota yang tak akan pernah diberikan kepada siapa pun. Jasa seorang ibu akan terkenang hingga akhir kehidupan dunia dan tak akan pernah terlupakan.

Thank you for all the struggles, thanks will never be enough for all your services.

(Visited 51 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Jusnia Paseba

Jusnia Paseba tinggal di Kolaka Utara. Anak terakhir dari empat bersaudara ini memang cemerlang sejak kecil. Jusnia terkenal sebagai juara umum sejak di taman kanak-kanak, SD hingga SMP. Tidak hanya itu, dia pun pernah menjadi juara pertama lomba dai cilik dan juara pertama cerdas cermat Al-Qur'an. Jusnia mulai suka menulis sejak duduk di bangku SD. Dia sangat terinspirasi setiap kali membaca profil para penulis di halaman belakang buku paket sekolah. Mencoba mengembangkan kemampuannya menulis, Jusnia pernah ikut lomba menulis cerpen nasional dan berhasil meraih posisi top 50 cerpen terbaik dan kemudian dibukukan. Novelnya yang berjudul "Pesan Terakhir untuk Sang Fajar" sudah launching pada bulan Agustus 2021. Selain menulis, Jusnia pun hobi membaca cerita, baik yang bertema fantasi maupun yang bertema fiksi remaja. Moto hidupnya, "Jangan pernah ingin merasakan manis jika tidak ingin melewati pahitnya. Tidak ada sesuatu yang bisa instan, sekalipun itu mi instan."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *