Penulis : Muh.Irwan
Sekelompok pelajar berbaris di depan sebuah bus sambil didata. Setelah semuanya selesai, pelajar tersebut satu per satu menaiki bus tersebut. Terlihat di barisan paling belakang, seseorang yang sedang kerepotan membawa tas teman sekelasnya tetapi tidak dihiraukan oleh yang lain seakan-akan pria itu tidak berada dalam barisan.
Nama pria itu adalah Herry yang selalu menjadi babu teman kelasnya dan sering mendapat perlakuan buruk dari teman kelasnya karena penampilannya. Mereka semua menaiki bus dan duduk di tempat duduk masing-masing. Saat Herry hendak duduk di tempat duduknya, teman sekelasnya yang ada di sebelah tempat duduknya, menaikkan kakinya ke atas tempat duduk Herry.
“Steven itu tempat dudukku” ucap Herry.
“Lalu kenapa kalau tempat dudukmu?” Ucap Steven.
“Aku mau duduk tetapi kakimu ada di atas tempat dudukku” ucap Herry.
“Udahlah kamu berdiri aja, kakiku pegel” ucap Steven.
Herry tidak ada pilihan lain selain berdiri, mau melawan tetapi tidak bisa. Hal itu dilakukannya di sepanjang perjalanan sampai bus tiba di tempat tujuannya di sebuah penginapan yang letaknya berada di atas bukit dan jauh dari rumah-rumah warga.
Sesampainya di penginapan, seluruh teman kelas Herry berjalan berkeliling di area sekitar penginapan. Saat yang lain sedang sibuk berfoto, Herry disibukkan mengangkat barang-barang ke dalam penginapan.
Setelah memasukkan semua barang bawaan teman sekelasnya ke dalam penginapan, Herry berkeliling penginapan sendirian. Ia tidak lupa membawa buku dan pensil untuk menggambar pemandangan alam. Selain kutu buku, Herry juga sangat pintar menggambar. Semua nilai mata pelajaran di sekolahnya tuntas dengan nilai A plus.
Setelah berkeliling beberapa saat, Herry kembali ke dalam penginapan. Ia membawa tasnya sambil melihat-lihat kamar. Herry berhenti di depan kamar yang letaknya paling ujung dan paling jauh dari kamar tempat teman-teman sekelasnya.
Saat masuk ke dalam kamar, Herry mengeluarkan isi tasnya, lalu memasukkan pakaiannya ke dalam lemari dan meletakkan barang-barang lainnya.
Pada malam hari, semua orang sudah berkumpul di meja makan yang sangat panjang hingga dapat menampung Herry dan teman kelasnya yang berjumlah 25 orang.
Saat hendak duduk disalah satu kursi meja makan itu, Herry dihentikan oleh Steven
“Mau ngapan kesini?” Ucap Steven, padahal ia tau Herry mau makan.
“Aku mau duduk dan makan bareng kalian” jawab Herry.
Teman-teman sekelasnya tertawa mendengar perkataan Herry.
“Makan bareng kami? gak mungkin, iya gak?” Ucap Steven yang diiyakan oleh semua orang.
“Kamu dengarkan, udah sana, kami gak nerima sampah kayak kamu di sekitar kami” ucap Steven menyuruh Herry pergi.
Karena guru pembimbing kegiatan ini kembali ke sekolah saat sore karena ada sesuatu yang terlupa di sekolah, mereka semua dengan leluasa mengerjai Herry.
Herry dengan perut lapar berjalan meninggalkan ruangan itu menuju kamarnya. Sesampainya di dalam kamar, Herry mengunci pintu dan mengeluarkan kompor yang ia bawa dan beberapa mi instan dalam tasnya.
Herry menyiapkan barang-barang itu karena ia sudah memprediksi kejadian ini. Herry menyalakan kompornya, lalu memanaskan air mineral yang dia bawa untuk merebus mi.
Setelah beberapa saat, air pun mendidih. Herry mematikan kompor, lalu memasukkan mi beserta bumbu-bumbunya ke dalam mangkuk aluminium yang ia gunakan untuk merebus air, lalu mengaduknya rata, kemudian menghabiskan mi rebus tersebut.
Keesokan paginya, Herry bangun dari tidurnya karena mendengar teriakan Tia, teman kelas wanitanya.
“Aaaaa Stev, semuanya kes ini Steven” teriak Tia.
Herry berlari ke ruang tamu tempat Tia berteriak.
Saat Herry sampai di sana, ia terkejut melihat Steven tergantung di lampu gantung ruang tamu dengan keadaan leher yang terikat di tali seperti kasus gantung diri. Semua orang dalam ruangan itu terkejut, bahkan ada yang menangis melihat jasad Steven tergantung.
Nama : Muh.irwan
Kelas : X
Asal Sekolah : SMA Haji Agus Salim Katoi
Kabupaten : Kolaka Utara
