Semenjak papa sudah memarahi Farhan,anak itu tidak pernah kembali ke rumah. Terhitung sudah seminggu dia tidak kunjung menampakkan dirinya di rumah.


Papa,mama,dan Firhan sudah menghubungi Farhan serta teman-temannya yang Firhan kenal. Sampai saat ini orang-orang rumah belum dapat informasi. Papa sudah meminta beberapa anggotanya untuk mencari informasi tentang Farhan namun sampai sekarang mereka juga belum mendapatkan info.


Sekarang Firhan berada di kawasan basecamp SASTRA, tujuannya ke sini adalah kembali mencari info mengenai adiknya.
“Vit,loh belum ada info tentang adik gue?” tanya Firhan pada Vito. Jika Farhan sangat tidak ingin memanggil Firhan dengan sebutan ‘Abang’ Firhan justru lebih suka memanggil Farhan dengan sebutan ‘Adik’.


“Sorry banget Han, sejauh ini gue dapat info tentang Farhan. Seminggu yang lalu dia pamit sama kita,katanya dia mau balik ke rumah.”


“Tapi dia nggak balik ke rumah. Udah hubungin dia berkali-kali tapi nggak diangkat.” kata Firhan frustasi.


“Gue sama anak-anak juga udah hubungin dia, bahkan kita udah cari kemana-mana tapi tetap nggak nemuin,” jawaban Vito membuat Firhan tambah ketakutan mengenai adiknya.
Dia takut jangan sampai Farhan frustasi dan pergi ke tempat yang terlarang.


“ Ya udah deh thanks yah infonya. Gue mau balik dulu,” kata Firhan menepuk kedua pundak Vito.


“Hati-hati Han. Kita bakalan tetap cariin Farhan kok. SASTRA tanpa Farhan ga ada apa-apanya,” jawab Vito dengan gelengan kepala.


Firhan tersenyum melihat reaksi teman-teman adik nya yang begitu simpati, solidaritas mereka sangat erat,ternyata ini dari arti sebuah team. Solid tanpa ada yang tertinggal kan,tanpa ada yang berbeda.


“Tetap lakukan pencarian untuk anak saya.”


“Udah ketemu pa?” tanya Firhan yang baru datang.


“Belum. Kamu sendiri gimana?” kata papa bertanya kembali.


“Belum juga pa. Terakhir kali dia bilang sama teman-temannya kalau dia mau balik ke rumah,” Firhan kembali berucap sesuai dengan kata-kata Vito tadi.


“Ya Allah,Farhan kamu kemana sih?” Kata mama terisak frustasi.


“Ma udah dong,jangan nangis. Farhan pasti baik-baik ajah kok Ma,” kata Firhan menenangkan mama.


Di lain tempat anak-anak SASTRA juga pusing memikirkan kemana Farhan pergi.


“Loh semua ga tau kemana Farhan pergi? nggak pernah ketemu di jalan?” kata Vito bangkit dari duduknya.


“Nggak ada Vit. Gue kalau habis dari sini suka keliling-keliling dulu,tapi gue nggak nemu,” sahut Zaki.


“Loh ada firasat nggak sih kalau Farhan disekap sama geng sebelah?” Abi si pendiam nan jenius kini angkat suara mengenai ketua gengnya.


“Kenapa loh bisa mikir ke situ?” Semua anak-anak memandang Abi,meminta penjelasan maksud dari ucapannya.


“Kita ini anak geng motor, dan Farhan itu leader kita. Kita punya banyak musuh. Masalah kita sama geng sebelah belum kelar. Semenjak Farhan hilang kontak anak-anak geng sebelah udah nggak pernah datang rusuhin kita,” jelas Abi yang membuat anak-anak kembali berfikir keras.


“Di akhir tawuran kita minggu lalu,sebelum geng sebelah pergi, bukannya Aldo sempat ngomong ke Farhan?” nanya Radit dari arah belakang.


“Gue liat,tapi gue nggak dengar mereka ngomongin apa. Tapi Farhan waktu itu kayak lagi mikir,sampai gue panggil ajah nggak nyadar,” jawab Vito yang mengingat kejadian minggu lalu.

Ting

Ting

Ting

Deringan ponsel Vito membuat atensi mereka teralihkan.


“Siapa Vit?” Radit segera menghampiri Vito yang sudah menggenggam erat ponselnya.


“Gue dapat whatsApp dari anak geng sebelah. Dia ngirim lokasi, dia juga bilang ‘datang sebelum semuanya berakhir’ dan—“ Vito tertunduk lesu sebelum melanjutkan perkataannya.”FARHAN DI SEKAP DI SANA!”


Semua yang mendengar itu melongo tidak percaya,apa katanya di sekap? Bahkan mereka tidak pernah berfikir kesana.


Farhan ini tipikal ketua yang ‘kalau loh ganggu kita yah,kita balas. Kalau loh nggak gangguin kita yah,kita juga diam’


“Dit siapin semua anak-anak, kita GAS!” seru Vito pada Radit. Kalau soal mempersatukan Radit paling depan,kalau soal menebak-nebak si kulkas Abi pemenangnya.

Senyuman licik tanda kemenangan tercetak di bibir Aldo,menatap anggota SASTRA satu persatu.


“Ketua loh, yang loh cari,udah seminggu kita sekap! Loh ke sini mau ikutan kita sekap juga?”
“Loh-“ Vito ingin maju namun,Farhan mengodenya untuk tetap tenang. Farhan tidak bisa berbicara, mulutnya sedang dibekap.


“Apa? Loh juga mau gue sekap kayak ketua loh ini?” Tanya Aldo menantang.


“Apa loh nggak puas udah buat Lutfi menderita? sampai dia harus kalah sama penderitaannya. Sekarang loh mau ulangin lagi di Farhan?” tanya Abi dingin.


Aldo bertepuk tangan meremehkan ke arah Abi.
“Kalau gue bilang iya kenapa? Loh juga mau nyusul?”


“SIALAN LOH! SASTRA!” Semua anggota SASTRA bergerak maju melemparkan bogem ke arah geng lawannya.


“Dit, buruan selamatkan Farhan,” intrupsi Abi pada Radit.


Perlahan Radit mulai mendekat ke arah Farhan.


“Han loh ga papa?” Tanya Radit dan diangguki oleh Farhan. Saat Radit hendak membuka ikatan di tangannya, Farhan justru menendangnya memberinya kode untuk membuka bekapan mulutnya.


“Lupa Han. Sorry-sorry,” kata Radit refleks.


Tepat bekapan mulut Farhan terlepas,salah satu dari anggota geng lawan datang memukuli Radit dengan balok. Kejadian begitu cepat bahkan Farhan tak menyadari.


Radit hanya sedikit linglung,sedetik kemudian dia kembali menghajar orang yang memukulnya dengan balok.


“BERHENTI!” Semua anak-anak memberhentikan aktivitasnya, Aldo yang melihat itu, kembali melingkarkan tangannya pada leher Farhan.


“Mau apa kalian?” Tanya Aldo dengan nada menantang.


“Kembalikan anak saya!” Papa Farhan datang dengan Mama,Firhan dan juga membawa polisi.


“Tidak semudah itu.”


“Lepasin adik gue,atau-“


“Loh maju selangkah! adik loh pulang tinggal jasadnya doang,” kata Aldo memotong ucapan Firhan. Dia mengeluarkan pistol yang dia simpan di balik jaketnya.


Sebelum memberi kabar anak SASTRA dia sudah menyiapkan semuanya,karena dia yakin anak-anak SASTRA pasti akan memberitahu orang tua Farhan tentang keberadaan Farhan.


“Lepasin adik gue sekarang juga,” Firhan kembali ingin melangkah.


“Firhan berhenti,” cegah Farhan. Aldo ini licik bisa saja pistol itu dia arahkan ke arah Firhan.


“Loh jangan macam-macam yah sama adik gue.”


“Gue nggak macam-macam kok, gue cuman satu macam. Satu macam buat adik loh mati!” Seru Aldo lalu meletakkan ujung pistolnya di kepala Farhan.


“Lepasin anak saya. Tolong,” pinta Mama dengan lemah.


“Enak banget loh pada bilang lepasin! Gue bakal lepasin tapi gue ajak dia dulu main-main ke syurga. Iya nggak Han?”


“Sialan loh!” Desis Farhan lalu menendang Aldo. Ikatan di kakinya lepas membuat dia sedikit memiliki ruang untuk menghajar Aldo.


“Tangkap mereka,” dalam sekejap pergelangan mereka dipegang oleh beberapa polisi,beserta beberapa anggota SASTRA.


Radit bangkit membuka tali yang melilit tangan Farhan. Saat tali itu lepas,dengan cepat Firhan menghampiri adiknya, merengkuhnya menyalurkan rasa rindu yang tertahan.

Meskipun Farhan selalu menyebalkan tapi hidup Firhan tak lengkap tanpa kembarannya.


DOR!


“FIRHAN!”


Kejadian begitu cepat,Aldo yang tadinya terjatuh karena tendangan Farhan,kini bangkit mengambil pistol dan menarik pelatuknya.

Keinginan ingin menebak Farhan namun tepat Firhan melangkah memeluk adiknya, pelatuk kembali dia tarik membuat sasarannya mengenai Firhan.


“Firhan?” Tubuh Farhan bergetar menangkap tubuh Firhan yang hampir jatuh,lengan bajunya dipenuhi darah segar dari Firhan.


Aldo mematung di tempatnya,kenapa dia begitu ceroboh. Kecerobohannya membuat dirinya salah sasaran.


“Firhan kamu baik-baik aja sayang?” tanya mama menghampiri Firhan yang terbaring lemah dipangkuan Farhan.


“Ma-pa- Firhan titip Farhan yah. Jangan tuntut dia untuk bisa kayak Firhan. Farhan perlahan akan ubah dirinya sendiri kok tapi dengan cara dia sendiri.”


“Loh ngomong apaan sih nyet,” kata Farhan tidak suka mendengar berbicara seperti itu, menurutnya itu terlalu ambigu.


“Titip nyokap sama b-okap y-ah.”


Uhuk uhuk..


Firhan terbatuk, darah yang mengalir dari mulutnya,membuat semuanya menatapnya dengan iba.


“Gu-e ma-u per-gi duluan. Loh-jangan bandel. Cepat pulang. L-oh harus bisa banggain mama sama pa-pa.”


“Bang loh ngomong apaan sih. Loh bakalan sembuh kok,” perdana Farhan memanggil Firhan dengan sebutan abang.


Firhan menggeleng,”Loh harus bisa banggain mama. Wujudkan mimpi gue. Loh harus bisa jadi mahasiswa lulusan luar negeri,” jika Firhan hari ini gugur setidaknya masih ada kembarannya yang akan berjuang membanggakan kedua orangtuanya.


“Ambigu loh Han!” seru Farhan tak suka.


“Gu-e pe-rgi,” Firhan mengerang kesakitan sebelum akhirnya dia benar-benar menutup matanya.


“FIRHAN!” teriak Farhan histeris.


Hari itu SASTRA kembali berduka,kembaran ketua mereka gugur di hadapan mereka. Sosok yang selalu menghubungi mereka untuk memerintahkan adiknya agar segera kembali kini sudah pergi. Pergi jauh dan tak akan pernah kembali.


Farhan kembali merasakan kehilangan, dulu Lutfi yang pergi sekarang saudara kembarnya kembali pergi meninggalkannya. Tidak bisakah mereka tinggal menemaninya?


Datang untuk memulai dan pergi untuk mengakhiri.

(Visited 70 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Jusnia Paseba

Jusnia Paseba tinggal di Kolaka Utara. Anak terakhir dari empat bersaudara ini memang cemerlang sejak kecil. Jusnia terkenal sebagai juara umum sejak di taman kanak-kanak, SD hingga SMP. Tidak hanya itu, dia pun pernah menjadi juara pertama lomba dai cilik dan juara pertama cerdas cermat Al-Qur'an. Jusnia mulai suka menulis sejak duduk di bangku SD. Dia sangat terinspirasi setiap kali membaca profil para penulis di halaman belakang buku paket sekolah. Mencoba mengembangkan kemampuannya menulis, Jusnia pernah ikut lomba menulis cerpen nasional dan berhasil meraih posisi top 50 cerpen terbaik dan kemudian dibukukan. Novelnya yang berjudul "Pesan Terakhir untuk Sang Fajar" sudah launching pada bulan Agustus 2021. Selain menulis, Jusnia pun hobi membaca cerita, baik yang bertema fantasi maupun yang bertema fiksi remaja. Moto hidupnya, "Jangan pernah ingin merasakan manis jika tidak ingin melewati pahitnya. Tidak ada sesuatu yang bisa instan, sekalipun itu mi instan."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *