Oleh : Anugra Dwi Junianti

Hai, nama aku Clea, kalian bisa panggil aku Lea. Aku seorang siswa sekolah menengah. Diumurku saat ini, aku sangat aktif ketika ada sesuatu yang ingin dikerjakan, misalnya di OSIS. Iya aku adalah salah satu anggota OSIS di sekolahku. Tenang, aku tahu kok tentang OSIS yang akan penuh dengan hujatan hoax, aku juga dulu tidak didukung oleh teman sekelas untuk masuk menjadi anggota OSIS, perwakilan dari kelasku. Tetapi seiring berjalannya waktu, aku semakin terlatih dengan kata hinaan, makian, dan hujatan, seakan akan OSIS itu yang terburuk, padahal siapa lagi yang akan melaksanakan semua itu selain kami?

Ehem, maafkan aku ha hah, aku hampir lupa, aku ingin menceritakan pengalamanku, dari saat itu sampai sekarang. Iya sekarang, masalah yang benar- benar belum selesai hingga saat ini. Aku akan berusaha menceritakannya sedetail mungkin.

Saat itu, dimana sudah 1 hari berlalu, aku, papa, dan nenek keluar kota dengan tujuan akan menjenguk kakakku Arbian. Mama tidak ikut, aku juga tidak tahu kenapa mama tidak ikut. Mama dimana kalau bukan di rumah itu?, iya rumah yang aku dulu tinggali bareng papa, mama. Rumah itu sudah kosong ketika aku berangkat, dan sebentar berhenti di rumah sepupuku. Aku tidak merasakan ada yang aneh, benar -benar merasakan biasa saja, mengiranya mama mungkin mempunyai acara lain, sehingga tidak ikut keluar kota bareng kami.Setelah itu, aku beristirahat, tidur, makan dan intinya aku menjalani hariku seperti biasa, seakan tidak ada masalah.

Keesokannya, aku bangun pagi, membersihkan rumah, mandi, dan entah kenapa aku tiba- tiba mengantuk, dan ingin tidur. Akhirnya aku tidur siang, Tidak lama, kakak sepupuku menelpon dan berkata, papa mencariku menyuruh untuk ke rumahnya.

Setibanya disana, aku tiba – tiba diperlihatkan sebuah kantong berwarna merah berisi pakaian. Iya kata papaku ia ingin aku mengantar barang ini ke mama yang berada di rumah nenek. Aku menurutinya. Aku tidak berbicara apapun ke mama. Aku hanya bermain dengan adik-adik sepupu baru pulang.

Malamnya, ketika aku ingin bersiap- siap, aku mendengar papa datang, tetapi aku tidak keluar dari kamar. Aku keluar dari kamar dan berniat ke rumah mama, namun aku melihat papa sudah berangkat dengan membawa tasnya. Aku bertanya ke nenek yang sedang main hp dan menjawab kalau papa mau keluar kota. Aku mengambil ponselku dan menelpon papa menanyakan kenapa papa mau kesana.Papa menjawab pertanyaanku itu, papa berkata “nak papa mau keluar kota untuk berobat. Kamu jangan ngasih tahu nenek kalau mama ada di rumahnya (rumah nenek dari mama)” aku hanya bisa menjawab dengan “iya pah” hanya itu, dan aku mencoba untuk tetap yakin semua akan baik baik saja.

Di malam itu, aku membatalkan niatku ke rumah nenek lalu aku ke rumah teman dan menceritakan semuanya. Aku butuh seseorang. Untungnya aku tidak menangis, di saat itu juga aku bertanya ke mamaku lewat WhatsApp.

[3/9 18.59] me: ma..
[3/9 18.59] me: kenapa lagi sama papa?
[3/9 18.59] mama: tanya sama papa kamu nak
[3/9 18.59] mama: karena papahkamu selalu marah”
[3/9 18.50] mama: perasaan mama udah engga ada nak.

Malam itu, aku dan temanku benar -benar melihat dengan jelas, tertulis jelas, bahwa mamaku berkata seperti itu, sakit? iya, aku sampai berfikir negatif, bahwa apa mama sama papa bakalan pisah ya?, terus aku gimana?, biaya sehari hari aku?, aku memikirkan semua itu. Sesampai di rumah aku menangis sejadi – jadinya, aku benar benar terjatuh, sangat rapuh pada malam itu, aku menangis, sakit. Ya Allah, ini sakit sekali, dadaku sesak, rasanya ada yang menusuk di dadaku, aku menangis, dan menyebut nama Bian, kakakku yang sudah tidak tinggal bersama kami. Aku benar- benar tidak tahu lagi, pastinya dia akan marah besar ketika mengetahui hal ini. Aku awalnya hanya ingin dia tetap fokus dan tidak pusing karena masalah ini, tetapi dia sudah tahu karena papa memberitahukannya.

Aku menjalani hari- hariku dengan beban pikiran yaitu keluargaku sendiri. Aku selalu mengirim pesan ke mama, bertanya apa dia sudah makan dan sholat?, hanya sekedar menanyakan itu, tidak untuk yang lain.

Ha ha pernah sekali aku tiba tiba ingin video call ke mama, dan mama angkat, aku hanya sekedar berbincang sedikit dan mengamati apa yang mama lakukan, sampai sampai aku berkata dalam hati “mama cantik ya, mama kapan pulang?” sakit rasanya ingin menangis tetapi saat itu begitu ramai sangat tidak mendukung untuk menangis. Syukurlah ha ha.

Seiring berjalannya waktu aku pernah sangat sibuk sehingga aku lupa mengirim pesan kepada mama, entah itu kapan, tetapi aku memang sibuk. Walau ada nenek, semua akan tetap berat menjalani tanpa seorang mama. Aku tahu kita harus mandiri, aku sudah besar, harus bisa mandiri. Iya aku berusaha untuk bisa melakukan semua hal, yang termasuk tugas rumah, karena tidak ada lagi yang bisa menyetrika bajuku dan baju papa, akulah gantinya. Rasanya berat, aku sadar, begini ya rasanya ha ha ha, begitu saja sudah merasa berat sampai menangis, padahal itu gampang, tapi kenapa aku menangis? Bisa dihitung kok berapa kali aku menangis, bahkan di sekolah aku menangis, entah aku ini sangat cengeng, ada apa denganku? kenapa aku begitu cengeng? kenapa Clea begitu cengeng teman- teman?, ha hah ha itulah Clea, anak perempuan yang begitu cengeng namun dianggap tegar oleh papa.

Aku dan papa sesekali pernah berbincang tentang mama, sesampai kita berdua menangis bersama, benar benar jatuh sejatuh -jatuhnya, kita berdua berpelukan, satu sama lain sedang membutuhkan ketenangan dan pelukan yang hangat.

Hari demi hari, aku menjalani hidupku dengan banyak masalah juga, beban pikiran yang terlalu banyak sehingga membuatku sakit kepala, aku takut, aku terlalu over thinking. Aku selalu takut untuk apa pun, aku bahkan ketika dimarahi selalu saja berpikir ingin keluar dari rumah dan menabrakkan diriku, bahkan aku sengaja untuk tidak makan agar aku sakit, aku sering sekali menangis ketika mengendarai motorku, mengingat semuanya kembali sehingga membuat aku menangis, menangis meratapi semua.

Mulai menangisi diriku sendiri, menangisi mama dan papa, bahkan aku menangis ketika mengingat semua hari – hariku yang aku jalani dengan berat. aku tahu ada kehidupannya yang lebih berat dariku tapi bagiku ini semua sudah cukup berat, sehingga membuatku jadi kepikiran, dan mudah takut.

Aku bahkan selalu ingin mati, tapi tidak untuk bunuh diri, seakan semuanya sangat berat, semua tidak bisa kulewati, aku berjuang melewati hidupku yang membosankan, yang selalu saja menangis, jika kalian menyuruhku untuk memilih, diriku yang dahulu atau sekarang, aku tidak memilih, karena dua-duanya sama saja, hanya saja saat ini lebih berat dari sebelumnya.

Karena masalah keluargaku, aku jadi suka badmood, marah tidak jelas, bahkan membuat keegoisanku muncul. Yah aku selalu bercerita ke temanku tetapi temanku sekali pun tidak membalas ceritaku itu karena diriku yang sangat egois. Kalau sifat egoisku ini kalian samakan dengan mamaku aku tidak marah karena itu adalah fakta, fakta bahwa mamaku yang bersikap egois turun kepadaku.

Suatu hari tepat pada tanggal 7 Oktober 2021, dimana aku sedang mengendarai motorku, ingin berjalan- jalan bahasa gaulnya selfhealing. Awalnya aku biasa saja, aku memperhatikan sekitarku sehingga tidak melihat ada sebuah mobil hitam melaju dengan kencang ke arahku, aku terlempar jauh, aku merasakan badanku sangat lemas dan sakit, sangat sakit. Tak lama kemudian penglihatanku menghitam, aku tidak tahu aku dimana, samar -samar kudengar orang- orang berteriak, dan juga aku mendengar suara mobil, aku merasakan diriku dibawa dengan bangkar rumah sakit.

Tiba tiba aku terbangun, aku melihat, papa, mama, kakek, nenek, kakakku dan juga tante ku bersama anaknya, menangis. Aku bertanya- tanya ada apa? mengapa mereka menangis?, aku mencoba bertanya kepada tanteku, “Tan, Tante, kenapa ada apa tan?” tetapi tanteku sama sekali tidak melihatku, bahkan menoleh sedikitpun tidak, aku lalu melihat kakakku yang diam membisu, aku juga bertanya kepada kakakku, tetapi kakakku diam, sama sekali tidak menjawab pertanyaanku. Akupun mulai menangis mengapa mereka mengabaikan aku? aku beralih ke mamaku, mendekati mamaku, aku yang baru saja ingin memegang kedua bahu mamaku.

Mama menggenggam tangan perempuan yang sedang terbaring lemas di atas kasur rumah sakit, dan itu adalah diriku sendiri. Aku kaget, aku terdiam membisu dan perlahan menangis, menangis mengetahui satu fakta yang menyakitkan bahwa aku …… telah tiada. Aku sudah tidak lagi menanggung sakit. Aku sudah tidak lagi mengeluh akan mati….

Pada akhirnya aku mengikhlaskan semuanya. Fakta yang mengejutkan bahwa aku telah tiada, aku menangis tak henti- hentinya melihat keluargaku menangis, bahkan papa.Papa tidak menangis, papa kuat, tapi di dalam hatinya dia menangis menjerit ingin aku kembali, tetapi hal mustahil untuk dikabulkan oleh Tuhan.

Kisah hidupku berakhir dengan kematian yang tak terduga. Kehidupan yang aku impikan akan bahagia tidak tercapai. Aku sudah lebih dulu pergi meninggalkan papa dan mama. Meninggalkan sebuah luka besar dalam hati keluargaku.

Terima kasih untuk kehidupan yang begitu banyak kenangan. Kenangan hidup yang pahit.

(Visited 29 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *