Prequel Semesta Luka

“Assalamu’alaikum, Mama!”

seperti biasanya pulang sekolah, tempat pertama yang dikunjungi gadis itu adalah kamar Mama.

“Loh, Mama ke mana?” tanyanya heran. Mama tidak ada di kamarnya. Kamar Mama pun kelihatan rapi, tidak berantakan seperti biasanya.

Biancaseonari, panggil saja dia Bianca. Gadis malang yang hidup berdua dengan Ibunya. Belasan tahun Bianca hidup di dunia ini. Namun, dia belum pernah mendengar sepenggal kata pun yang ibunya ucapkan untuk dirinya.

Dia sangat ingin mendengar Ibunya memanggil namanya, bercerita dengannya seraya berkata, “Bianca udah gede, yah?” sambil mengusap rambut hitamnya. Tetapi, Ica tidak ingin berharap lebih untuk semua itu.

Mama mengidap penyakit skizofrenia di saat umur Bianca terbilang sangat muda. Bianca hanya dibesarkan oleh Papa beserta asisten rumah tangga Mama.

Awalnya, Bianca tidak pusing dengan sikap Mama yang selalu berubah-ubah. Toh dia juga masih punya Papa yang selalu ada untuk dirinya. Tetapi, lambat laun dia sadar selama ini dia butuh sosok ibu seperti Mama. Dia ingin seperti teman-temannya yang setiap pagi membawa bekal buatan mamanya. Sedangkan Bianca, dia hanya membawa bekal buatan Bi Inem—Asisten rumah tangga Mama.

Keadaan berubah seratus delapan puluh derajat ketika Papa selalu bolak-balik kerja dari Jakarta ke Bandung. Kesibukan Papa membuat kebahagiaan Bianca perlahan luntur. Namun, kembali cerah ketika Mama mengajaknya berbicara. Meskipun Mama menatapnya sebagai Papa, bukan sebagai Bianca.

“Bi Inem! Bi!” Sekarang Bianca dibuat panik mencari keberadaan Bi Inem. Dia sudah ke ruangan belakang mencari Bi Inem. Namun, dia tidak menemukan di mana orang tersebut, hingga dering ponsel membuat aktivitasnya terhenti seketika.

“Halo?” Kata Bianca membuka suara ketika telepon sudah terhubung.

“Ini Bi Inem, Neng. Bibi lagi rumah sakit. Maaf yah, lupa tanyain ke Neng tadi, soalnya teh Neng sekolah,” di balik suara lembut Bi Inem ada suara panik yang tersimpan dalam-dalam.

“Di rumah sakit? Kenapa, Bi?”

Entah kenapa, tetapi ketika menyangkut rumah sakit, Bianca sedikit sensitif, apalagi sekarang Mama tidak ada di rumah.

“Anu… ini…”terdengar jelas dari suara Bi Inem seolah-olah mencari kata-kata yang pas untuk diungkapkan.

“Mama tadi jatuh dari kursi rodanya,” lanjutnya dengan lirih.

“Apa?” bagai disambar petir, dirinya sudah tidak mampu bertahan. Baru satu minggu yang lalu grafik kondisi Mama mulai membaik. Kenapa cobaan ini datang lagi?

Semesta tak pernah adil pada dirinya. Semesta tak pernah mau melihat dirinya bahagia. Apakah seburuk itu dirinya sampai semesta selalu tak berpihak kepadanya?

Dirinya merosot lembut di atas lantai. Kabar ini membuat dirinya tidak berdaya. Tetapi, dia harus bangkit. Dirinya hanya punya Mama dan Mama juga hanya punya dia.

Cukup lama perjalanan yang ditempuh oleh Bianca. Kondisi jalan ibu kota yang begitu padat membuat Bianca memerlukan waktu lama untuk sampai di tujuan.

“Assalamualaikum, Bi Inem. mama gimana?” tanya Bianca seraya menyalimi punggung tangan Bi Inem.

“Dokternya belum keluar, Neng.”

“Harusnya Ica tadi ga ke sekolah,” katanya seraya menyandarkan punggung ke dinding rumah sakit.

“Neng Bianca ga boleh ngomong kayak gitu. Neng Bianca kan harus sukses banggain Mama.”

“Percuma, Bi. Perjuangan Ica bakalan sia-sia.”

Bianca menggelengkan kepalanya. Buat apa dia susah-susah mengejar cita-cita jika orang yang akan dibanggakan terbaring lemah.

“Dokternya udah keluar?” Kata seseorang yang muncul tiba-tiba membuat kedua wanita itu segera menatapnya.

“Masih bisa ke sini? Masih tau arah pulang?” Tanya Bianca memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Papa ke sini mau jenguk Mama. Tadi dokter Mama telepon Papa, bilang kalau kondisi Mama semakin buruk.”

And yeah, orang itu adalah Ibraham—Ayah Bianca yang pergi meninggalkan Mama Ica setelah Mama dinyatakan mengidap penyakit skizofrenia. Berawal dari kejadian itu, keadaan Mama tidak pernah lepas dari buruk dan hancur.

“Setelah berhasil buat Mama saya sekarat,Papa balik lagi ke sini? Di mana Papa saat Mama butuh Papa? Di mana, Pa?” Kali ini suara Bianca sedikit lantang.

“Pa-papa,” Ibrahim kegalapan tidak tahu harus menjawab apa. Dia harus pandai-pandai mengeluarkan setiap ucapannya karena salah sedikit orang di hadapannya ini akan mengganti panggilan ‘Papa’ menjadi ‘Anda’

“Papa ke mana? Asal Papa tau, tiap malam Mama selalu manggil nama Papa. Teriak-teriak ga jelas manggil nama Papa. Jujur Pa, Bianca bingung harus ngapain.Tiap Papa di telepon, selalu ga diangkat. Kenapa ga di angkat, Pa? Alasannya ada meeting? Tiap jam meeting?” nada suara Bianca begitu melemah menandakan bahwa dia cukup rapuh.

“Harusnya Papa selalu ada di masa-masa terpuruk Mama, bukannya pergi ninggalin Mama. Di mana-mana teman hidup itu lebih penting dari pada pekerjaan, Pa.”

Bianca tidak mau egois karena papanya juga sibuk bekerja. Tetapi, esibuk-sibuknya kerja, ada kata istirahat untuk merespon panggilan Bianca. Ucapan Bianca terhenti ketika seorang dokter keluar dari ruangan Mama.

“Gimana Mama saya, Dok?”

“Keadaan pasien cukup lemah dan tidak memungkinkan untuk segera kembali pulang,” ucap dokter itu.

“Saya boleh masuk?”

“Boleh tetapi jangan terlalu lama, yah? Kondisi pasien masih lemah dan butuh banyak istirahat,” pesan dokter itu sebelum beranjak.

“Papa ikut,” kata Ibrahim mencekal pergelangan tangan putrinya.

Dengan helaan napas yang cukup berat, Bianca menganggukkan kepalanya pertanda boleh.

Terlihat Mama terbaring lemah. Beberapa alat medis melekat pada dirinya. Kedua matanya masih terpejam damai. Bibir pucatnya terkatup rapat. Sudah tidak ada lagi senyuman yang menyambut Bianca. Meskipun senyuman itu selalu menusuk Bianca ketika Mama menyebutnya “Papa”, bukan Bianca.

“Ma… ”lirih Bianca mendekat ke arah Mama.

“Mama cepat bangun, yah? Jangan lama lama tidurnya. Bianca ga ada teman. Kalau Mama nanti bangun, Bianca berharap Mama bisa panggil nama Ica, elusin rambut Bianca. Bianca pengen banget, Ma…” kata Ica berusaha mati-matian menahan air matanya agar tidak jatuh.

Ibrahim mematung mendengar penuturan putrinya. Dia sudah cukup lama bersama Bianca, tetapi Bianca tidak pernah bilang bahwa dia sangat ingin merasakan usapan lembut dari Mama atau dipanggil namanya. Sekarang, satu-persatu penyesalan menghampiri Ibrahim karena perbuatannya.

“Mama ga boleh sakit. Mending Mama ketawa-ketawa sendiri,terus teriak-teriak daripada sakit gini. Bianca kan jadi ga punya siapa-siapa.”

Meskipun kadang tetangga menyebut Mama sebagai orang gila, tetapi sifat Mama yang sedikit tidak jelas itu justru membuat Ica bahagia. Setidaknya, Mama masih bisa bicara dan tertawa, meskipun tertawa dalam arti lain.

“Masih ada Papa ko, Bi.”

Dengan tatapan sayu Bianca menoleh ke arah Papa. Menatap matanya dan berusaha mencari kebohongan dalam mata itu. Nihil, dia tidak menemukannya.

Ibrahim yang merasa ditatap dalam-dalam oleh putrinya dengan segera dia merengkuh tubuh lemah itu. Dia menyesali perbuatannya yang meninggalkan putrinya hampir tiga bulan dengan alasan bekerja.


Sebenarnya, pagi ini Bianca sangat malas untuk ke sekolah. Tetapi, hari ini ada kegiatan ekstrakurikuler yang tidak bisa ditinggalkan. Pelatih sudah menaruh kepercayaan yang sangat besar pada dirinya.

Sebelum ke sekolah, Bianca menyempatkan diri untuk menjenguk Mama. Berbicara tentang Mama, kondisinya kini kian memburuk dan masih setia menutup matanya.

“Tumben Bi, lo lambat. Ada gerangan apa nih?” tanya Tania selaku partner timnya.

“Gue ke rumah sakit dulu,” jawab Bianca seraya menyimpan tasnya.

“Lo sakit?” punggung tangan Tania kini sudah mendarat mulus di jidat Bianca. Namun, dengan segera Bianca menepisnya.

“Apaan sih? Nggak lah, orang gue baik-baik ajah.”

“Syukur dah. Eh, terus lo ke rumah sakit ngapain?”

“Nyokap gue masuk rumah sakit.”

Mendengar itu Tania hanya diam membisu. Berbicara tentang Mama, dia jadi teringat kejadian setahun yang lalu. Dia selalu bolak-balik ke rumah sakit karena ibunya mengidap penyakit jantung.

“Tan! Lo ga papa?” Tanya Bianca seraya memukul lengan Tania. Melihat Tania yang diam, Bianca jadi merasa bersalah mengatakan ibunya berada di rumah sakit.

“Eh, kenapa? Gue ga papa kok,” jawabnya gelagapan.

“Lo ingat nyokap lo, yah?” Tanya Ica dengan penuh hati-hati.

“Nggak, kok. Udah ah, lupain, mending pemanasan,” Tania berusaha mengalihkan pembicaraan yang menurutnya akan kembali menggali luka yang telah dia tutup rapat-rapat.

Bianca mengangguk paham dan segera ke ruang ganti memakai Jersey-nya.

Di sisi lain, Bi Inem tidak diam, bolak-balik di depan pintu ICU. Sejak sejam yang lalu, kondisi Mama semakin drop. Sekarang Bi Inem sendiri. Ddia sudah menelepon Ibrahim dan katanya dia masih dalam perjalanan.

Kepanikan Bi Inem digantikan oleh kehadiran Ibrahim yang berjalan dengan tatapan yang sama paniknya. Bi Inem yakin kalau dokter sudah menghubunginya mengenai keadaan Mama.

“Gimana keadaan Ibu, Bi?”

“Dokternya belum keluar, Tuan. Lima belas menit yang lalu dokternya keluar, katanya kondisi Ibu semakin memburuk.”

Mendengar itu Ibrahim memijit pangkal hidungnya. Meskipun kewarasan istrinya kurang membaik, tetapi tidak bisa diindahkan dia sangat tidak ingin bila istrinya pergi.

Pintu ruangan terbuka menampilkan dokter lengkap dengan seragam khususnya.

“Gimana keadaan Istri saya, Dok?”

“Kami sangat sangat memohon doa yang sebesar-besarnya dari bapak dan keluarga. Kami berjanji akan berusaha sekeras mungkin untuk menyelamatkan istri bapak.”

Ibrahim tidak bodoh untuk mencerna setiap perkataan dokter, dia hanya mengangguk lemah memberi respon terhadap dokter itu.

“Bianca mana, Bi?”

“Neng Bianca masuk sekolah, Tuan.”

“Telepon sekarang,” pinta Ibrahim dan segera dituruti oleh Bi Inem.

“Ga aktif, Tuan. kayaknya lagi ekskul.”

Ibrahim menghela napasnya secara kasar, berharap kejadian yang tidak dia inginkan tidak terjadi.

“Keluarga pasien?” Ibrahim tersentak kaget melihat dokter itu baru juga beberapa menit dia masuk. Kenapa dia sudah keluar?

“Pasien…“


“DUAR!”

Dengan sekuat tenaga Tania menepuk pundak Bianca yang tengah sibuk membuka botol minumnya. Cuaca hari ini cukup terang, membuat Bianca dan yang lain cukup lelah melakukan latihan pagi.

“Tania, ngagetin tau ga!” Kesal Bianca.

“Kaget, ya? Aduh kasian banget tapi gue senang Wle,” kata Tania tak henti-hentinya tersenyum.

“Handphone gue mana, ya? Lo liat, Tan?”

Bianca yang melihat adek kelasnya bermain handphone langsung berusaha mengingat di mana dia menyimpan benda pipih itu.

“Tadi lo masukin tas.”

“Oh iya, ya? lupa gue,” kata Bianca sambil membuka tasnya.

“Ada, ga?” Tanya Tania memastikan.

“Nah, dapet!” katanya girang sambil memperlihatkan handphone-nya.

“Lo mau ngapain emang?”

“Nelepon Bi Inem,” katanya sambil mengaktifkan handphone.

Begitu handphone-nya menyala, betapa kagetnya Bianca saat melihat puluhan panggilan tak terjawab yang berasal dari Papa, Bi Inem, serta Deviana. Lutut Bianca terasa lemas. Saat ini dia belum sanggup untuk kehilangan semuanya. Dia berharap semuanya baik-baik saja.

“Bi!” Panggilan itu membuat Bianca menoleh ke arah sumber suara.

“Deviana?”

“Balik bareng gue buruan,”

Tanpa menunggu persetujuan Bianca,Deviana dengan cepat menyeretnya. Tania hanya diam membisu, tidak tahu harus bagaimana.

Ada keluarga Papa dan Mama tengah berkumpul di depan ruangan. Tatapan mereka terlihat sedih seperti tidak ada cahaya yang menyinari kehidupan mereka.

“Nenek, Mama gimana?” Tanya Bianca pada sang Nenek yang begitu lemas.

“Masuk, Nak…”

Bianca membuka knop pintu. Yang pertama ia lihat adalah Mama yang berusaha berbicara pada Papa.

“Mama!” Teriak Bianca menghampiri.

“Bi-bi-anca?” Katanya terbata-bata.

Tangis pilu meluncur begitu saja dari bibir Bianca. Apakah penantiannya selama ini telah berakhir? Mama memanggil namanya.

“Iya Ma, ini Bianca,” Bianca menggenggam tangan Mama yang berada di atas pipinya. Usapan lembut yang tidak pernah Bianca rasakan sebelumnya.

“Bi-anca u-da-h ge-de yah. Ha-ru-s jadi pe-nurut, a-nak Mama ha-ru-s pintar,” katanya terbata-bata.

Bianca tidak mampu menjawab. Dia hanya menggeleng sembari terus mengeluarkan air mata.

“Mama jangan tinggalin Bianca. Mama harus bisa sembuh. Mama harus nemanin Bianca tanding minggu depan.”

“Sama pa-pa- ajah yah? Ma-ma udah ga ku-at.”

“Nggak! Mama itu kuat!” Bianca terus menggeleng tidak mau membenarkan ucapan Mama.

“Ja-gain put-ri kita ya-h,” katanya menatap dalam Ibrahim.

“Mama sa-yang Bi-anca,” tangan lemah itu jatuh begitu saja dari pipi Bianca. Mata sayu itu kembali tertutup rapat.

“MAMA! JANGAN TINGGALIN BIANCA!” Bianca berteriak histeris melihat keadaan yang baru saja dia rasakan. Kenapa penantiannya datang bersamaan dengan kepergian Mama?

Ibrahim dengan sisa tenaganya merengkuh tubuh lemah Bianca yang terus memberontak.

Mama telah pergi dan meninggalkan Bianca dengan sejuta rasa sakit yang dia titipkan. Nyatanya, kepergian jauh lebih sakit dari menunggu penantian yang tak mungkin terjadi.

Sepenggal kata yang Bianca harapkan kini sudah tercapai. Mama sudah memandangnya sebagai Bianca dan menyebutnya sebagai putrinya.

Semesta, terima kasih telah mengajarkan Bianca bagaimana arti sabar untuk menggapai suatu keinginan. Terima kasih juga karena telah berhasil menampar Bianca dengan kepergian Mama.

(Visited 72 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Jusnia Paseba

Jusnia Paseba tinggal di Kolaka Utara. Anak terakhir dari empat bersaudara ini memang cemerlang sejak kecil. Jusnia terkenal sebagai juara umum sejak di taman kanak-kanak, SD hingga SMP. Tidak hanya itu, dia pun pernah menjadi juara pertama lomba dai cilik dan juara pertama cerdas cermat Al-Qur'an. Jusnia mulai suka menulis sejak duduk di bangku SD. Dia sangat terinspirasi setiap kali membaca profil para penulis di halaman belakang buku paket sekolah. Mencoba mengembangkan kemampuannya menulis, Jusnia pernah ikut lomba menulis cerpen nasional dan berhasil meraih posisi top 50 cerpen terbaik dan kemudian dibukukan. Novelnya yang berjudul "Pesan Terakhir untuk Sang Fajar" sudah launching pada bulan Agustus 2021. Selain menulis, Jusnia pun hobi membaca cerita, baik yang bertema fantasi maupun yang bertema fiksi remaja. Moto hidupnya, "Jangan pernah ingin merasakan manis jika tidak ingin melewati pahitnya. Tidak ada sesuatu yang bisa instan, sekalipun itu mi instan."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *