Nama : Asywaq Fakhriyah
Kelas : IX.4

Dulu, duniaku terasa penuh warna karena ada Ayah. Selama Ayah masih ada, aku selalu merasa aman. Aku tahu, apa pun yang terjadi, masih ada seseorang yang akan berdiri di sampingku. Tapi sejak Jumat itu, saat aku melihat dengan mata kepalaku sendiri Ayah menghembuskan napas terakhir, semuanya berubah. Dunia yang dulu hangat kini terasa begitu sepi.

Sampai sekarang, aku masih sering merasa Ayah ada di dekatku. Kadang aku seperti mendengar suara Ayah, kadang aku merasa Ayah sedang memperhatikanku. Lalu aku sadar… Ayah sudah benar-benar pergi. Yang tersisa hanyalah rasa rindu yang tidak pernah habis.

Aku sering berharap Ayah datang ke dalam mimpiku. Walaupun hanya sebentar, aku ingin sekali melihat wajah Ayah lagi, mendengar suara Ayah lagi. Tapi sampai sekarang, mimpi itu belum juga datang. Yang bisa kulakukan hanyalah mengirimkan Al-Fatihah di setiap doaku. Semoga Allah selalu melapangkan kubur Ayah dan menempatkan Ayah di tempat terbaik di sisi-Nya.

Kadang hatiku juga terasa sakit. Aku anak Ayah, sedangkan kakak laki-lakiku lebih dekat dengan Ibu. Entah kenapa, sering kali aku merasa berbeda. Saat kakakku marah kepada Ibu, terkadang aku juga ikut dimarahi, padahal aku tidak melakukan kesalahan apa pun. Rasanya sedih sekali.

Kalau kakakku menginginkan sesuatu, sering kali dibelikan. Sedangkan aku, kalau ingin sesuatu, biasanya hanya dijawab, “Nanti pi mu belli.” Sampai akhirnya yang membeli tetap aku sendiri. Aku tidak iri dengan kakakku. Aku hanya ingin merasakan perhatian yang sama.

Di saat-saat seperti itu, aku selalu berpikir, “Seandainya Ayah masih ada, pasti Ayah akan membelaku.” Dulu aku punya tempat untuk mengadu. Sekarang, tempat itu sudah tidak ada lagi.

Aku tidak menyalahkan siapa pun. Aku hanya sedang merindukan sosok yang paling mengerti diriku. Rindu yang tidak bisa disembuhkan oleh waktu, karena kehilangan seorang ayah bukanlah sesuatu yang bisa digantikan.

Ayah, kalau memang Allah mengizinkan, sekali saja… datanglah ke dalam mimpiku. Aku ingin memeluk Ayah lagi, walau hanya dalam tidur. Aku ingin mengatakan bahwa aku sangat merindukan Ayah. Aku akan terus mengirimkan Al-Fatihah dan doa untuk Ayah, sampai nanti, jika Allah berkehendak, kita bisa bertemu kembali di surga-Nya.

Aku percaya, cinta seorang anak kepada ayahnya tidak akan pernah berakhir, meskipun maut telah memisahkan. Dan rinduku untukmu, Ayah, akan selalu hidup di dalam setiap doa yang kupanjatkan.

Watansoppeng,26 Juli 2026

(Visited 21 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *