Oleh: Anugra Dwi Junianti

Seorang gadis berambut sebahu sedang berjalan kecil bersama seorang lelaki. Lelaki yang sedang berada bersamanya saat ini bernama Juanda.

“Han, lo yakin ga papa gue anter pulang, nanti cowo lo marah,” tanya Juanda pada Jihan yang sedang berlari kecil ke arah motor besar milik Juanda.

“Engga dong, lo tenang aja deh,” jawabnya dan langsung memakai helm hitam polos miliknya sendiri.

“Ayoo berangkaatt!!” seru Jihan bersemangat kepada Juanda yang sedang melihat gadis itu bertingkah seperti anak kecil.

Juanda yang melihat Jihan seperti itu hanya bisa menggelengkan kepalanya lalu menaiki motor dan segera meninggalkan area sekolah karena hari sudah mulai sangat malam. Jihan memang bisa dibilang anak yang tidak betah di rumah itu alasannya. Jihan lebih suka tinggal walau tidak ada agenda.

Sesampainya di rumah Jihan, Juanda hanya singgah sebentar saja sekedar mengobrol dengan Jihan, tetapi tidak lama Jibran datang dengan muka yang kesal bercampur marah. Ia menatap Juanda dan Jihan begitu tajam. Setelah memarkirkan motor miliknya. Jibran segera menghampiri keduanya yang sedang berbicara lalu berkata,” Aku ingin bicara berdua sama kamu,” ucap Jibran dengan nada yang ia paksa lembutkan pada Jihan.

Jihan yang melihat seperti itu paham apa yang akan Jibran bicarakan kepadanya. Juanda yang mengerti pun segera meninggalkan halaman rumah Jihan dan tersisa hanya Jihan dan Jibran.

There is something yang pengen aku bicarain sama kamu. Kita boleh masuk dulu?” tanya Jibran. Jihan memasuki pintu utama rumahnya yang menandakan Jihan setuju untuk berbicara berdua di dalam saja.

Jihan akhirnya berhenti di ruang tamu lalu menatap Jibran seolah bertanya,” Apa yang ingin ia bicarakan pada diriku?

“Kamu punya hubungan apa dengan Juan?” tanyanya dengan to the point pada Jihan.

“Aku engga ada hubungan apa-apa dengan Juanda”.

“Aku tau kamu dekat sama dia”.

“Aku tuh cuma temenan sama dia.”

“Temenan? Dulu kita juga temenan kan sebelum akhirnya kita dekat dan saling suka. Iya kan?”

“Aku harus bilang berapa kali sih sama kamu?” Jihan menghela napasnya kasar.

“Kamu engga mungkin bilang temen, kalau kamu sedekat itu sama dia Han. Kamu tuh, kenapa sih akhir-akhir ini sering banget sengaja buat aku cemburu?”

Jihan terdiam mengizinkan Jibran berbicara apa saja yang akan keluar dari mulutnya nanti.

“Kamu kenapa sih harus sama Juanda? Kamu sengaja mau buat aku berantem sama dia ya? Kamu mikir dong.”

“Kamu pikir aku engga cape sama sikap kamu yang kayak gini? Aku juga cape sama kamu kalau kayak gini terus. Aku sayang sama kamu. Ak…Belum sempat Jibran melanjutkan perkataannya, Jihan tiba-tiba berdiri memotong pembicaraan Jibran.

“Sayang? Kamu serius bilang gitu?” tanya Jihan yang terlihat sangat kesal pada Jibran.

“Aku serius Han. Kamu kenapa ngira aku bohong sih? Kamu engga percaya ya sama aku?”

“Gimana aku mau percaya kalau kamu tuh sering bohong sama aku”.

“Aku? bohong ke kamu?” Jibran bingung.

“Sejak kapan aku bohong sama kamu Han? Kamu tuh emang ga pernah percaya sama aku!” ucap Jibran dengan nada membentak.

Jihan kaget karena baru kali ini melihat Jibran membentaknya. Selama ini Jibran tidak pernah sedikitpun membentaknya walau sebesar apa pun masalah yang mereka hadapi. Tapi kali ini tidak. Jibran membentaknya, kekasihnya sendiri.

Dengan sekuat tenaga Jihan mengeluarkan apa yang ingin dia katakan pada Jibran dengan setengah mati menahan tangisnya yang ingin meledak karena bentakan dari Jibran.

“Kamu kira aku engga cape sama kamu? Aku juga cape. Kamu tuh suka banget nyepelein hal kecil yang menurut aku itu sepele tapi sakit. Kamu engga tahu kalau aku lebih sering nangis di malam hari. Kamu taunya cuman bisa diitung tangan, padahal aku udah lebih beberapa kali nangis itu juga ulah kamu sendiri. Kamu buat aku feeling lonely. Kamu engga sadar ya kalau kamu beneran nyepelein soal kabar?

“Aku juga tahu kok kamu udah pernah jalan sama cewe lain di belakang aku,” ucap Jihan pelan. Mengatakan hal itu tidak mudah, cukup berat, tapi Jihan berusaha mengatakannya, lalu tangisannya pun pecah di depan Jibran yang terdiam melihat kekasihnya.

JIhan Halana kini terisak, mengeluarkan semua rasa sakit yang ia pendam sendiri demi tidak berdebat dengan kekasihnya. Jihan yang mati-matian memendam semuany- berusaha seolah-olah semua baik baik saja, berusaha tetap profesional di depan teman-teman organisasinya di sekolah. Acara yang padat tiap hari akhir-akhir ini membuatnya mencapai titik terlelahnya, juga masalah hubungannya dengan Jibran Alpaxo.

“Ka-kamu maunya a-apa sek-sekarang Jib” ucap Jihan di sela tangisannya.

“Aku mau minta maaf sama kamu Han” ucap sesalnya Jibran yang begitu merasa bersalah pada Jihan.

Jihan terdiam ketika Jibran mengatakan maaf setelah sakit yang tidak biasa menghampirinya. Semudah itu dia meminta maaf? Semudah itu semua untuk dimaafkan? Sakit dibalas maaf itu engga adil. Kalau sakit dibalas sakit baru adil.

Sudah 30 menit berlalu tapi Jihan masih saja menangis sesegukan di depan Jibran yang sedari tadi berusaha menenangkan Jihan. Jibran telah merasa sangat bersalah, lalu memeluk erat tubuh mungil milik Jihan dan berkata,” Tolong maafin aku. Aku ngerasa bersalah. Maafin aku Han. Aku sama dia itu engga ada hubugan apa-apa. Aku waktu itu cuma nemenin dia buat beli buku,” jelas Jibran. Kini Jihan tidak ingin mendengar apa-apa lagi.

Jihan sudah tidak ingin lagi mendengar apa-apa karena semua sudah jelas. Semua kini sudah sangat jelas. Hari itu sudah jelas dari awal sampai akhir bagaimana teman dekatnya itu memberitahukan semuanya tentang Jibran yang tengah berjalan dengan perempuan lain.

(Visited 15 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *