Oleh: Andi Raka
Alhamdulillah, tahun ini aku masih diberi kesempatan merasakan Ramadan dan yang membuatnya jauh lebih istimewa, aku masih bisa sahur bersama kedua orang tuaku.
Ada satu momen sederhana yang mungkin terlihat biasa bagi sebagian orang, tapi sangat berharga bagiku, dibangunkan sahur oleh ibu.
Suara lembutnya memanggil namaku di sepertiga malam. Kadang pelan, kadang sedikit lebih keras karena aku sulit bangun. Lalu ketukan kecil di pintu kamar, dan kalimat yang selalu sama, penuh kasih:
“Nak, bangun… sudah sahur.”
Saat itu mungkin aku masih mengantuk, masih ingin menarik selimut. Tapi sekarang aku sadar, tidak semua orang masih bisa merasakan hal itu. Tidak semua orang masih punya kesempatan dibangunkan oleh ibunya di waktu sahur. Tidak semua orang masih bisa duduk satu meja bersama ayah dan ibu sebelum fajar menyingsing.
Di meja makan sederhana, ada kehangatan yang tak bisa dibeli. Ada doa ibu yang tak pernah putus. Ada ayah yang mengingatkan untuk makan yang cukup agar kuat berpuasa. Dan ada aku, yang perlahan belajar bahwa kebahagiaan ternyata sesederhana itu.
Ramadhan kali ini membuatku lebih peka. Bahwa kebersamaan adalah nikmat besar. Bahwa orang tua adalah anugerah yang tak ternilai. Dan bahwa waktu bersama mereka adalah hal yang tidak boleh disia-siakan.
Aku sangat bersyukur… karena masih bisa mencium tangan ibu setelah sahur. Masih bisa mendengar suaranya. Masih bisa merasakan perhatian kecil yang ternyata sangat besar maknanya.
Ya Allah, terima kasih karena aku masih diberi kesempatan merasakan ini semua. Semoga Engkau panjangkan umur kedua orang tuaku, sehatkan mereka, dan izinkanku untuk terus membahagiakan mereka. Karena aku sadar, dibangunkan sahur oleh ibu bukanlah hal yang biasa. Itu adalah cinta yang Allah titipkan setiap pagi di bulan Ramadan
