Oleh: Adit Anugrah Pratama
Langkah kaki saya terasa ringan ketika pertama kali menginjakkan kaki di Kabupaten Bulukumba. Awalnya, saya hanya diundang sebagai dewan juri untuk menilai talent show dan malam Grand Final Duta Budaya Kabupaten Bulukumba tahun 2025. Sebuah kehormatan yang tentu membuat saya sangat antusias dan excited. Saya membayangkan akan datang, menjalankan tugas sebagai juri, lalu kembali pulang dengan membawa pengalaman biasa seperti kegiatan lainnya. Namun, ternyata ada cerita yang jauh lebih berkesan menanti saya di sana.
Karantina Duta Budaya kali ini terasa berbeda. Jika biasanya karantina hanya berlangsung beberapa jam atau satu hari penuh tanpa bermalam, di Bulukumba justru sebaliknya. Kami semua—peserta, finalis, panitia, hingga saya sebagai juri—ikut menginap bersama. Awalnya saya terkejut, tetapi justru di situlah letak keistimewaannya. Malam-malam yang kami habiskan bersama bukan hanya tentang persiapan menuju Grand Final, tetapi tentang tawa, cerita, dan kebersamaan yang terjalin tanpa sekat.
Saya merasakan rasa kekeluargaan yang sangat luar biasa—hangat, tulus, dan penuh keceriaan. Meskipun itu adalah pertama kalinya saya datang ke Bulukumba, sambutan yang saya terima begitu baik dan penuh rasa hormat. Tidak ada rasa canggung yang bertahan lama. Para finalis menyapa dengan ramah, panitia begitu terbuka, dan suasana terasa seperti berada di tengah keluarga baru yang langsung menerima saya apa adanya.
Saat malam Grand Final tiba, saya menyaksikan bagaimana kerja keras selama karantina terbayar lunas. Setiap penampilan menunjukkan bakat, karakter, dan kecintaan terhadap budaya yang begitu kuat. Saya bangga bisa menjadi bagian kecil dari perjalanan mereka. Acara itu berjalan sukses, meriah, dan penuh semangat. Bagi saya, itu bukan sekadar ajang pemilihan duta, tetapi perayaan identitas dan kebanggaan daerah.
Dalam perjalanan pulang menuju Kabupaten Soppeng, saya termenung di sepanjang jalan. Pikiran saya kembali pada setiap momen yang terjadi—tawa di malam karantina, diskusi hangat bersama panitia, hingga sorak sorai di malam puncak. Hati saya dipenuhi rasa syukur. Acara di Bulukumba bukan hanya sukses dan seru, tetapi juga meninggalkan kesan yang mendalam dalam hidup saya.
Dan dalam hati kecil saya berkata, jika suatu hari nanti Bulukumba kembali memanggil—tahun depan atau bahkan dalam waktu dekat—maka saya akan siap kembali hadir. Bukan hanya sebagai juri, tetapi sebagai bagian dari keluarga yang pernah menyambut saya dengan hangat di tanah budaya yang penuh cerita itu.
Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa setiap perjalanan bukan hanya tentang tujuan, tetapi tentang orang-orang yang kita temui dan nilai-nilai yang kita pelajari di sepanjang jalan. Jangan pernah ragu untuk menerima undangan kebaikan, karena bisa jadi di sanalah kita menemukan keluarga baru, pengalaman berharga, dan versi terbaik dari diri kita sendiri. Teruslah melangkah, teruslah memberi manfaat, dan percayalah bahwa setiap langkah kecil yang kita ambil hari ini bisa menjadi jejak besar yang menginspirasi banyak orang di masa depan.
