Oleh: Andi Annisa Nayla Rafeyfa

Hari demi hari telah ku lalui,
waktu demi waktu telah ku lewati—
di dampingi dengan debuman riuh
yang menghantui batinku.

Menggenggam luka yang tak
kunjung pulih, memendam sakit
yang tak kunjung usai.

Dalam sunyi—
terdengar bisikan kuat,
berteriak memanggilku kuluar
dari kegelapan batin.

Jika di tanya “masih hidup?” ya,
badanku hidup—
bersama batin yang mati.Terlalu banyak
perang yang tak menemukan akhir.

Bukan hanya luka ini yang menyakitkan,
tersenyum palsu dan tak mengumbar
keperihan ini juga tak kalah menyakitkan.

“Kau terlihat utuh”, ya—
utuh di balik perang dalam
kepalaku yang menolak usai.

Menyadari sudah sampai di titik nadir,
aku tidak lagi coba menghapus luka ini.
Ku obati secara perlahan, meski tetap ada.

Kini, aku berani untuk belajar sembuh.
Mencoba bernapas lagi dengan ikhlas,
dan berdamai dengan luka.

Jika di tanya “Apakah kau sudah sembuh?”,
aku tidak tahu makna dari kata “sembuh”.
Yang ku tahu hanyalah berdamai dengan luka yang abadi.

Watansoppeng, 22 Desember 2025

(Visited 37 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *