Oleh: Andi Aiesha Zafirah

“Selamat atas kenaikan gajimu, Mas!” kata Ibu sembari membawa sepotong kue cokelat favoritku.

Aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada Ibu. Lalu, suara hentakan kaki adikku bergema di rumah kecil itu. Ia berjalan sambil melihat ke layar handphone-nya. Revic, adikku satu-satunya, sedang fokus membaca berita digital yang kutulis.

Aku menanyakan pendapat Revic mengenai tulisan terbaruku sambil sumringah, mengharapkan pujian. Tapi alih-alih ditumpahi pujian, ia malah mengkritik tulisanku.

Monoton, rasanya seperti membaca artikel hasil prompt AI,” ujarnya kepadaku.

Sejujurnya, aku tidak menyangka ia akan berpendapat begitu. Sejak dulu, adik kecilku selalu memuji karya-karyaku. Namun, mungkin ini bisa terjadi karena Revic telah bertumbuh dan memiliki pikiran yang kritis, toh? Tapi tetap saja, pendapatnya membuatku tenggelam dalam lamunan, berpikir mengapa menurutnya tulisanku monoton.

Revic duduk di kursi depanku, matanya masih tertuju ke layar handphone-nya. Namun, ia sedang tidak membuka halaman berita dari website perusahaanku, melainkan website blog pribadiku yang lama.

Tulisan Kakak dulu sangat ekspresif, sangat vokal untuk menyuarakan ketidakadilan di negara ini.

Seketika, oksigen terasa menghilang di detik itu. Dadaku sesak karena aku tahu ke mana Revic akan membawa pembicaraan ini.

Tiap bait di puisi, cerpen, atau artikel lama Kakak di blog ini terasa ‘hidup’, tulisan-tulisan ini terasa mengalirkan jiwa-jiwa patriot yang Kakak punya.

Skakmat. Adikku mengomentari blog lamaku. Aku sendiri sadar, selama lima tahun ini, di bawah perusahaan mediaku sekarang, tulisanku hanya berisi berita dan artikel tentang kegiatan artis dan influencer dari industri hiburan, puji-pujian kepada pejabat, klarifikasi dari figur ternama atas kesalahannya. Bahkan, aku pernah terpaksa menulis berita yang menyudutkan masyarakat kecil.

Revic masih sibuk mengomentari tulisanku, namun aku sudah tenggelam dalam laut kebingungan. Suaranya hanya terasa seperti deburan ombak yang berbisik di telingaku. Aku bingung kenapa tulisanku telah hilang tujuannya, mengapa aku menjadi robot yang dituntun dari atas. Apakah karena bayarannya? Atau karena takut bersuara?

Lalu, kalimat terakhir Revic membuatku kembali ke realita.

Bukannya Kakak ingin ketidakadilan di negara ini berubah? Atau sekarang Kakak takut dengan perubahan?

Setelah itu, Ibuku dengan lembut mengelus kepalaku. Setiap elusannya menghilangkan ketakutanku satu per satu. Dengan tenang ia berkata,

Jika Mas ingin kembali bersuara untuk keadilan, masih bisa. Ingat, Mas, tidak ada kata terlambat untuk perubahan.

Ucapan Ibu menjadi cahaya untuk nalarku yang gelap dan hampa. Setelah memikirkan dampak dari keputusan yang akan kubuat, dengan rela aku resign dari kantorku. Untuk kembali menghidupkan penaku, kembali menyuarakan keadilan, dan menjadi patriot sejati.

Watansoppeng, 29 Juni 2025

(Visited 38 times, 3 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *