Oleh: Andi Aiesha Zafirah
“Suatu saat namaku akan disebut saat upacara, seperti kakak kelas yang itu!” kataku kepada temanku saat aku masih duduk di bangku kelas tujuh. Dan ternyata, pepatah “ucapan adalah doa” itu valid.
Bulan April lalu, aku menerima pesan dari guruku. Ibu guru menawariku untuk mengikuti lomba tingkat SMP/MTs/sederajat se-BOSOWASI (Bone, Soppeng, Wajo, Sinjai) di ajang perlombaan SMANSA Competition Vol. III. Aku sangat senang saat menerima pesan tersebut karena sejak lama aku sangat ingin mengikuti lomba storytelling di luar sekolah.
Namun, senyumanku pudar saat aku menyadari bahwa tanggal perlombaan bertepatan dengan ujian semester. Dengan berat hati, aku harus menolak tawaran yang sangat menarik itu.
Semenjak hari itu, aku mulai memikirkan tawaran itu dengan kecewa. Larut dalam kesedihan, aku menjadi kesal kepada takdir. Mengapa di saat ujian berlangsung, aku baru menemukan sebuah celah untuk melangkah ke dalam dunia prestasi?
Namun, kesedihan itu tidak bertahan lama. Saat kelas Bahasa Inggris, guruku memanggilku dan kembali menawariku untuk mengikuti lomba yang sama. Kebingungan menghantamku seketika. Jika aku menolak tawaran ini untuk kedua kalinya, itu berarti kesempatanku akan hilang sepenuhnya.
Di tengah kebingunganku, tiba-tiba muncul celah harapan. Guruku menjelaskan bahwa lomba ini tidak akan mengganggu konsentrasiku pada ujian sekolah. Mendengar penjelasan tersebut, aku langsung merasa lega.
Setelah memikirkan tawaran tersebut lebih dalam dan meminta izin kepada orang tua, pada akhirnya aku tetap mengikuti lomba storytelling tersebut, walau waktu latihanku sangat terbatas.
Saat aku mengetahui bahwa menampilkan karya tulis sendiri mendapatkan poin tambahan, aku dengan sigap melakukan research terkait tema yang diangkat, yaitu “The Mirror of Souls: A Journey Through Choices.” Aku sangat bersyukur karena aku memiliki basic skill Bahasa Inggris dan menulis, jadi aku bisa menghasilkan karya “The Sacrifices of Dreams” hanya dalam kurun dua hari saja.
Tanggal pun berganti menjadi 16, H-1 sebelum perlombaanku dimulai. Aku belum menghafal keseluruhan cerita karena baru menyelesaikannya kemarin malam. Namun, aku berusaha tidak panik dan fokus latihan sedikit demi sedikit saat jam istirahat, lalu tetap fokus pada jam ujian.
Bel pulang bergema, dan aku berlari menuju ruang latihan. Guru pendampingku melatih ekspresi, accent, dan cara penguasaan panggungku. Aku berbohong jika aku bilang tidak gugup dan takut. Namun, ada satu kalimat dari guru pendamping yang melekat di jiwaku dan menjadi pegangan saat aku merasa tidak percaya diri: “Kamu mengikuti lomba ini untuk pengalamannya, bukan juaranya.”
Malamnya, aku sibuk mempersiapkan barang-barang yang kubutuhkan untuk lomba. Bahkan mataku tetap terjaga hingga larut malam karena terus latihan dan menghafal.
Saat sinar fajar menyapa, aku terbangun dan buru-buru melihat tanggal di layar ponselku: 17 April 2025. Perasaan khawatir dan bahagia menghampiriku secara bersamaan, mengingat hari ini aku akan ke Bone untuk mengikuti lomba pertamaku di luar sekolah sekaligus di luar wilayah.
Di perjalanan menuju Bone, aku tidak merasa gugup sama sekali. Sebaliknya, aku merasa tenang dan bersemangat karena terhibur oleh perbincangan antara teman dan guru pembimbingku.
Oh ya, aku bukan satu-satunya peserta lomba perwakilan dari SMPN 1 Watansoppeng. Ada Aisyah, Vergio, dan Rara yang menjadi perwakilan di lomba debat Bahasa Indonesia, serta perwakilan lomba fashion show, yaitu Arumi.
Aku berencana menikmati perjalanan, namun akhirnya aku tertidur dan melewatkan banyak hal di jalan. Saat aku bangun, kami telah tiba di kota kelahiran Jusuf Kalla, Bone. Setibanya di Bone, kami singgah di rumah makan untuk menyantap sepiring nasi padang, lalu melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim, yaitu salat.
Kemudian, kami pun menuju SMAN 1 Bone. Aku dan teman-temanku kaget saat melihat banyaknya panitia lomba berjejer di gerbang. Kami hanya bisa tertawa tipis-tipis untuk melupakan rasa gugup dan takut.
Karena lomba debat Bahasa Indonesia dimulai lebih dahulu, aku menonton teman-temanku berdebat. Bagiku, mosi debat mereka sangat menarik, yaitu “Bahasa Daerah Sebagai Mata Pelajaran,” dan aku sendiri berada di tim pro karena aku memiliki opini dan pendapat sendiri. Tapi aku tidak akan memaparkannya di karya tulis ini, karena pendapatku akan membuat tulisan ini menjadi sebuah journal.
Setelah lomba debat selesai, aku pun langsung sigap bersiap-siap untuk lomba storytelling. Saat aku melihat panggung besar di lapangan, jantungku langsung berdegup kencang bahkan mataku terbelalak terkejut. Aku sama sekali tidak siap untuk tampil di panggung seluas itu. Namun, aku berusaha menghilangkan pikiran insecure-ku dan mengganti baju menjadi baju adat Bugis, yaitu baju bodo.
Aku memiliki banyak waktu kosong sebelum tampil karena mendapat nomor urut terakhir. Jadi, aku mengisi waktu itu untuk latihan kembali. Saat latihan, pikiranku kacau. Pasti ada satu atau lebih bait yang kulupakan. Hal tersebut membuatku sangat ketakutan hingga keringat bercucuran.
Ketika peserta nomor urut delapan dipanggil, aku dan guru pendampingku akhirnya pergi ke lapangan dan duduk di kursi deretan peserta dan pendamping. Teman-teman peserta lomba debat juga ada di lapangan untuk menonton penampilanku. Saat namaku dipanggil, seluruh badanku langsung tremor dan aku berlari menuju backstage panggung.
Di backstage, tiba-tiba muncul suara-suara penghancur di pikiranku. Suara itu terus bergema seakan ingin menghilangkan kepercayaan diriku. Aku menutup mata dan berusaha melawan suara-suara itu. Dan seketika, aku mendengar kata “semangat” dari kakak panitia. Aku pun baru berani membuka kedua bola mataku.
Di titik itu aku sadar, aku hanya membutuhkan semangat dan kesadaran bahwa jika aku gagal, orang-orang akan tetap mendukungku dan tidak meninggalkanku dengan perasaan kecewa.
Jujur, aku sangat takut. Setelah mengumpulkan keberanianku, aku pun menaiki tangga menuju panggung. Namun, di anak tangga terakhir, tak kusangka aku tidak sengaja menginjak ujung rokku hingga mikrofonnya tertarik sampai ke leherku. Saat itu aku langsung syok. Aku hampir panic attack, namun untungnya kakak panitia di sana dengan sigap membantuku.
Jika saat itu tidak ada seorang pun yang membantuku, mungkin kondisi mentalku akan hancur dan aku tampil dalam keadaan yang buruk. Setelah menenangkan diri, aku pun kembali menuju panggung. Syukurnya, di atas panggung aku tidak banyak melakukan kesalahan. Kurasa aku hanya melakukan dua kesalahan, dan sisanya penampilanku lancar-lancar saja. Sepertinya hormon adrenalin ku aktif saat penampilan tersebut.
Saat aku turun dari panggung, aku langsung merasa lega. Seakan-akan beban di punggungku menghilang. Aku pun tidak berharap mendapatkan juara apa pun. Yang penting, aku sudah tampil dan sudah mendapatkan pengalaman.
Sebelum kami pulang, guru pendampingku berbincang dengan kepala sekolah SMAN 1 Bone. Kepala sekolah mereka sungguh baik; beliau memberikan kami makanan dan minuman untuk disantap di perjalanan.
Perjalanan pulang ke Soppeng terasa sangat menyenangkan. Kami membahas banyak hal dan tertawa bersama. Bagiku, hari itu adalah salah satu dari hari paling membahagiakan dalam kisah hidupku.
Dua hari setelahnya, SMANSA Competition Vol. III telah sampai di titik penutupan acara serta pengumuman juara. Aku sangat terkejut saat diberi tahu bahwa aku meraih juara dua. Bagiku, itu adalah pencapaian terbesarku saat ini.
Dan pada acara last ceremony di sekolahku, saat upacara terakhir, dengan lantang namaku dipanggil untuk menerima piala lomba storytelling. Aku menuju ke tengah lapangan dengan perasaan bangga kepada diriku sendiri. Karena sejujurnya, aku sudah merelakan mimpiku untuk dipanggil di lapangan saat upacara demi menerima penghargaan dari prestasiku. Aku merasa mimpi itu terasa mustahil karena aku sudah berada di ujung lembaran kelas tiga. Namun, ternyata tidak ada kata terlambat untuk berprestasi.
Dan itulah pengalamanku mengikuti SMANSA Competition Vol. III yang membuat wishlist terakhirku di masa SMP tercapai. Terima kasih kepada orang tua, guru pendamping, teman-teman, dan kakak-kakak panitia yang telah membantu dan mendukungku dalam perlombaan ini.
