Oleh : Feby Dwi Pratiwi

Hidup di keluarga yang sangat sederhana harus Aku syukuri, karena keluargaku hidup dalam kebahagiaan dan keharmonisan.Meskipun bisa dikatakan sangat pas-pasan karena uang yang kami punya mungkin hanya cukup untuk makan sehari-hari.

Namun tak mengapa, Aku sangat bersyukur karena masih banyak orang-orang yang jangankan memenuhi kebutuhan sehari-hari, makan saja terkadang tidak punya. Apalagi Ayah, Ibu, dan saudaraku begitu baik kepadaku. Keluarga kami sangat harmonis dan hangat. Ibu dan Ayah adalah petani yang mengurus kebun milik orang lain. Sementara Saudara dan Aku sibuk sekolah, Saudaraku duduk di bangku 12 SMA sedangkan aku di kelas IX SMP.

Setelah sekolah Aku dan Saudaraku sering membantu ayah dan ibu agar pekerjaan mereka cepat beres karena kami ingin pekerjaan mereka cepat terselesaikan dan dapat pulang lebih cepat.

Setiap malam selepas magrib merupakan momen yang ditunggu karena aku dan keluarga bisa makan malam bersama.Jika sedang ada uang, ibu membelikan daging ayam. Di waktu itulah Aku dan Saudaraku sangat menikmati hidup dan sangat bersyukur. Tetapi seringnya, lauk pauk yang dihidangkan ibu adalah tahu tempe karena memang uang ibu yang sangat pas-pasan.

Hidup serba kekurangan tak membuat keluarga kami punya mental meminta-minta atau utang sana-sini. Ayah terkadang rela bekerja ekstra di luar berkebun demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Ibu pun demikian, ia sering menjadi buruh cuci para tetangga untuk menambah penghasilan. Kehebatan orang tuaku benar-benar tak bisa diragukan. Mereka sering membiarkan anak mereka makan terlebih dulu supaya kenyang. Sisa nasi dan lauk pauk, barulah mereka makan.

Aku dan kedua kakakku sering sedih melihat keadaan keluarga kami yang serba kekurangan. Namun, ayah dan ibu terlihat sering tegar jika melihat kami murung. Uniknya, walau kami pas-pasan dan tak punya uang lebih, di setiap subuh ayah sering menyaku uang hasil ia bekerja. Tetapi uang itu tak dibelikan apa pun.Aku sangat penasaran ayah menggunakan uang itu untuk apa??

Karena penasaran Aku pernah bertanya kepada Ayah. “Uang itu dibelanjain apa, yah?” tanyaku. “Sedekah subuh, nak,” jawabnya singkat sambil tersenyum. Ayah lalu menjelaskan, jika sedekah subuh mempunyai banyak manfaat, salah satunya dilancarkan rezeki.

Bagi ayah, kita bisa hidup sehat dan makan setiap hari adalah rezeki besar dari Tuhan. “Apa pun keadaannya, sesempit apa pun hidup kita, bersedekahlah. Hal itu akan membuat hidup kita menjadi lapang,” ayah pernah berkata demikian. Hal itu benar adanya. Meski hidup pas-pasan, tapi keluarga kami hidup damai dan tenang.

Mungkin itulah rezeki yang Tuhan beri, yaitu berupa hidup dengan penuh ketenangan. “Percayalah, selalu ada rezeki yang terbuka jika kita bisa membantu sesama,” ungkap ayahku.

Watansoppeng, 18 November 2024

(Visited 8 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *