Oleh: Amara Nasifa

Para pecinta kucing, siap-siap dibuat takjub! Ada yang punya kucing peliharaan di sini? Terlepas dari kata 90% hidup mereka hanya untuk tidur, pernahkah kalian membayangkan kucing peliharaan kalian bisa berbicara atau bahkan memiliki petualangan seru seperti di film kartun? Nah, ternyata di Sulawesi Selatan, ada sebuah kisah unik melegenda tentang seekor kucing yang bisa melakukan hal-hal yang tak terbayangkan. Penasaran dengan kisahnya? Yuk kita telusuri bersama petualangannya.

Meong Palo Karellae, adalah sosok legendaris dalam cerita rakyat Sulawesi Selatan, khususnya dalam epik I La Galigo. Ia digambarkan sebagai seekor kucing belang tiga jantan yang memiliki kekuatan magis dan peran penting dalam kisah-kisah para dewa dan manusia.

Jauh sebelum zaman modern, Sulawesi Selatan diserang oleh Belanda. Pada saat itu, pasukan Belanda memiliki perlengkapan senjata yang lengkap sedangkan, warga hanya mengandalkan senjata seadanya. Dari sini warga mendapat cara yaitu dengan berguru ilmu kebal untuk melawan para penjajah. Ada satu cara untuk mendapatkan kekebalan tanpa ritual yang sulit, yaitu dengan memakai kalung tanduk kucing. Pada saat itu, tentara Belanda heran karena peluru yang mereka tembakkan tidak dapat menembus tubuh warga khususnya mereka yang memakai kalung tanduk kucing. 

Menurut legenda Sulawesi Selatan, kucing jantan tiga warna yang berusia tujuh belas tahun akan menampakkan tanduknya terutama pada malam Jumat di atas jam dua belas malam. Namun, jika tanduk tersebut dipatahkan maka tubuh kucing akan lemas dan perlahan-lahan meninggal dengan posisi berbaring menyamping. 

Sedangkan, dalam naskah Lagaligo, kucing jantan tiga warna bernama Meong Palo Karellae merupakan kucing lagendaris yang setia menemani Dewi Sangiang Seri (Dewi Padi). Dahulu, saat tinggal di Luwu Dewi Sangiangseri tidak dihormati dan tidak ada lagi yang mendengarkan petuahnya. Meong Palo juga turut disiksa oleh penduduk Luwu.

Dewi Sangiangseri kasihan melihat itu, ia pun mengajak kucing tersebut untuk pergi meninggalkan tanah Luwu dan keduanya pergi merantau ke Enrekang, Maiwa, Soppeng, Kessi, Lisu, dan Lakkemme. Namun, penduduk di daerah itu tidak ada yang menerima keberadaan Sang Dewi dan Meong Palo. 

Hingga sampailah mereka di Barru. Berbeda dengan penduduk daerah lain, warga Barru sangat senang dengan kedatangan Sang Dewi dan Meong Palo. Semua warga mematuhi perintah dan adat untuk bersikap jujur dan adil. Akhirnya Dewi Sangiangseri dan Meong Palo memutuskan untuk menetap di Barru dan memberi warga pesan untuk menanam dan merawat padi dengan baik, serta tidak menghamburkan nasi dan menghargai para petani. 

Meski sudah tinggal bahagia di Barru, ada hal yang membuat Meong Palo bersedih. Ternyata hari demi hari semakin banyak orang yang menggunakan tanduk kucing untuk bertindak jahat. Maka dengan terpaksa sebelum meninggal, Meong Palo berpesan kepada seluruh induk kucing untuk membunuh anaknya sendiri yang terlahir jantan tiga warna. Para induk kucing menganggap Meong Palo sebagai raja kucing. Seiring berjalannya waktu, para induk kucing mematuhi sumpahnya dengan memakan bayi-bayi mereka yang terlahir jantan tiga warna agar tidak disalahgunakan oleh masyarakat.

Masyarakat Barru biasanya membaca kisah Meong Palo dalam sure’ Lontara di acara mappadendang, dan maddoja bine (penyemaian bibit padi). Dipercaya bahwa, jika si pencerita kisah ini merasakan kegembiraan saat membacanya, maka menjadi pertanda bakal baiknya hasil panen, pun sebaliknya. Kisah Meong Palo ini mengajarkan kita untuk menyayangi kucing, tidak membuang-buang nasi, menghargai petani, menjaga kelangkaan hewan, memberi makan bagi yang lapar dan memberi minum bagi yang kehausan. 

Hingga saat ini, ada kalangan masyarakat yang percaya bahwa keturunan Meong Palo masih ada. Ciri-ciri nya yang unik dengan cara berjalan yang tidak seperti kucing biasanya, memakan sayuran rebus jika kehabisan ikan, dan memiliki warna hitam pekat selain putih dan orange. Dari cerita Meong Palo Karellae ini, kita juga bisa belajar banyak hal tentang kesetiaan, keberanian, dan nilai-nilai luhur lainnya. 

Nah, setelah membaca ciri-ciri di atas, coba deh perhatikan kucing peliharaan, mungkin saja dia menyimpan rahasia keturunan yang istimewa. Siapa tahu dia adalah keturunan langsung dari Meong Palo Karellae yang melegenda.

Watansoppeng, 27 November 2024

(Visited 256 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *