Oleh: Andi Annisa*

Malam ini begitu indah. Bintang-bintang cantik bertaburan di langit yang gelap, ditambah dengan cahaya sang malam, membuat langit itu semakin sempurna.

Sampai suatu ketika, hujan deras pun tiba. Bintang dan bulan yang tadinya bersama-sama memancarkan pesonanya, kini perlahan menghilang akibat hujan yang begitu deras. Aku memutuskan berkeliling sejenak sambil mengenakan payung agar tidak terkena hujan deras.

Di pertengahan langkahku, aku melihat seorang yang sedang menggigil dengan badan yang basah kuyup akibat kehujanan. Seketika hatiku tergerak untuk menghampirinya, lalu memberikannya jaket yang sedang kukenakan agar ia tidak kedinginan lagi.

Meskipun aku telah memberikannya jaket, tetap saja orang itu masih kedinginan akibat badannya yang masih saja tertimpa hujan yang begitu deras. Aku sangat kasihan padanya. Jadi aku memutuskan untuk memberikannya payung agar tidak kena hujan lagi. Keputusanku itu berhasil, akhirnya dia tidak kehujanan lagi. Tapi, aku baru menyadari bahwa aku telah bertukar posisi dengan orang itu.

Sekarang, aku yang menggigil karena kedinginan. Tapi aku tidak peduli akan hal itu. Yang penting bagiku orang itu sudah tak lagi kehujanan. Karena aku sudah tak tahan dengan dinginnya sang hujan, akhirnya aku bergegas pulang tanpa pamit ke orang itu. Aku berusaha berlari agar cepat sampai di rumah. Namun, di pertengahan aku berlari, sandalku terlepas akibat jalanan yang begitu licin.

Aku berbalik badan untuk mengambil sandal yang lepas itu. Tapi apakah kalian bisa menebaknya? Sewaktu aku berbalik badan untuk mengambil sandalku, dari kejauhan aku melihat orang yang telah kuberi payung tadi sedang bermain-main hujan bersama orang lain. Jaket dan payung yang tadi kuberikan padanya, dibuang. Seolah-olah memang dari awal ia tidak membutuhkan semua itu. Seketika aku terdiam sambil berkata dalam hati, “kenapa aku bisa sebodoh ini yaa? Aku rela kedinginan seperti ini hanya karena aku kasihan terhadap orang itu, yang belum pernah sama sekali aku kenal!!!”

“Andai saja dari awal aku tidak memberikan payungku padanya, aku tidak akan mungkin sakit seperti ini. Dia terlihat sangat asyik bermain hujan bersama orang lain, sedangkan aku? Aku hanya bisa menatap keasyikan mereka.”

Jangan pernah menjadi payung untuk orang yang ingin bermain hujan.

*Penulis adalah Siswi SMPN 1 Watansoppeng, Kelas 8.2

(Visited 62 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *