Oleh: Reisya Alfi
Hujan malam mengalir seperti air mata yang turun dari langit yang muram, menciptakan suasana duka yang menyelimuti malam, merangkai cerita kesedihan dalam gelapnya semesta. Bayang dari cahaya malam seperti saksi bisu, menyaksikan pertarungan antara dua jiwa yang terluka di bawah bayang-bayang gelap kehidupan.
Terdengar suara pecahan kaca dari balik tirai pintu kamar. Gadis berusia 14 tahun itu terisak sambil memeluk bantalnya. Sesak dadanya ketika mendengar suara-suara yang menyayat hatinya. Ia melempar bantal ke arah lemari meluapkan semua kegundahan di hatinya. Ia ingin suatu malam yang tenang tanpa ada teriakan dan suara kaca yang pecah.
Bruk….
Terdengar suara gebrakan pintu yang keras menandakan peperangan telah usai, yang diiringi dengan suara tangis wanita paruh baya yang mengiris tipis hatinya. Ia kembali memejamkan matanya sembari memeluk boneka kesayangan di pangkuannya. Ia menarik selimut dan membisikkan cerita kesedihannya.
Malam semakin larut, setelah kejadian itu Aci belum juga memejamkan matanya. Ia masih terisak di kamarnya seorang diri. Hujan di luar sana telah berhenti, pertengkaran sudah usai, namun tidak dengan tangisan Aci. Aci terus memikirkan kejadian tadi sehingga membuatnya tidak bisa tidur
Dengan hati yang terbebani oleh beban kesedihan, mereka mengubur diri dalam tidur yang gelap, berharap akan menemukan pelarian dari derita yang menyelimuti mereka.
Aci seperti seekor burung hantu yang terjebak dalam lingkaran pikirannya sendiri, membuatnya tidak dapat terbang ke dunia mimpi.”.
Ya, pagi ini begitu cerah seperti wajah yang sedang tersenyum. Aci segera melangkahkan kaki berjalan menuju sekolah tempat ia menuntut ilmu. Seperti kapal yang terombang-ambing di lautan gelap, siswi itu tampak mengantuk di sekolah, dihantui oleh ombak kelelahan yang tak berkesudahan. yang membuat ia ketiduran di kelas.
Waktu berjalan seperti kuda pacu yang melaju dengan kecepatan yang membingungkan, meninggalkan kita terengah-engah di belakang, terkejar oleh detik-detik yang tak terduga.
Bagaikan burung-burung yang hinggap di sumber air segar setelah terbang jauh, Aci dan teman-temannya menuju ke kantin sekolah untuk menyegarkan pikiran setelah melewati ujian Matematika yang cukup menguras tenaga.
Ia berbincang dan tertawa keras seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa, sehingga temannya merasa bahwa tidak terjadi sesuatu pada Aci dan mereka melanjutkan belajarnya. Waktu
yang tunggu-tunggu semua murid pun merangkak datang menghampiri, Aci dan teman-temannya bergegas untuk pulang.
Aci pulang dengan perasaan yang amburadul. Bahkan ketika di rumah ia merasa sangat sedih karena ia juga sendiri di rumah . Aci berusaha membuang jauh-jauh perasaan sedihnya. Ia mencoba mendengarkan lagu hanya sekadar menghilangkan kegundahan di hatinya. Sampai di rumah, Aci melakukan hal yang biasa dia lakukan karena ia hanya sendiri di rumah.
Bagai bintang yang bersinar sendirian di langit malam gelap, mencari teman-teman bersamaan, tetapi hanya menemukan keheningan yang menyelimuti. Setiap hari karena Ayah dan ibu Aci sibuk dengan pekerjaannya hingga ia melupakan bahwa ada seorang yang selalu menunggu kedatangannya. Mereka selalu pulang larut malam sehingga ketika pulang Aci sudah tidur nyenyak dengan mimpi yang terasa hampa.
