Oleh: Madeline Cinta Fitriadi

Akan kubuktikan bahwa aku bisa tanpamu,” menyatakan bahwa lirik adalah bukti dari perasaan sang penyanyi. Sebuah sajak yang kuciptakan menggambarkan isi dari keseluruhan hati dan penjiwaan diri. Sajak perpisahan. Hal yang kubenci, teralihkan ketika ia berubah menjadi puisi yang indah. Sajak mengubah segalanya, antara terang dan gelap, antara siang dan malam, dan antara matahari dan bulan. Bersiaplah, kata pasaran yang pasti pernah kau dengar akan menjadi kenyataan.

Dalam hidup, tentu kita harus memilih. Kita sedih, lalu tertawa. Kita terluka, lalu tersenyum, dan kita bertemu lalu berpisah. Balikkan keadaan, jangan biarkan ia mengontrol dirimu lagi. Tertawalah sepuasmu, sebelum tawa itu menjadi tangis. Tersenyumlah sebisamu, sebelum senyum itu menjadi duka yang membuatmu terluka.

Silakan pergi, tak ada yang melarangmu. Hanya perasaan takut kehilangan yang mengikat jiwamu di sini. Masa depan menghimbaumu dari kejauhan. Pergilah, jangan lupakan masa lalu sebagai rumah bagi kesedihanmu. Hari demi hari telah kita habiskan bersama. Di sini, di sekolah ini, takdir telah mempertemukan kita. Tak ada rasa yang berubah, tak ada senyum yang pudar, aku masih berharap kelak kita bertemu lagi dengan rasa yang sama.

Bukti tak perlu kata-kata, ia hanya menunggu peristiwa nyata yang dilihat langsung oleh pupil mata. Mata ini takkan pernah berhenti melihat gambaran fiksi yang telah pergi. Aku masih di sini, mengenal orang baru tak membuatku melupakan kalian. Kalian adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan untukku.

Rasa gengsi memang membuat kita sedikit menjauh. Tetapi dengan takdir kata, “berpisah” rasa itu hilang dibawa angin hujan yang menusuk ke dalam badan. Akan kuselimuti dirimu sebagai balasan atas pelukanmu kemarin. Akan ada saatnya kita saling terbiasa. Saling melepaskan. Terbiasa bukan berarti lupa. Lepas bukan berarti meninggalkan. Hanya bentuk pengaplikasian sebagai bukti bahwa “aku bisa tanpamu”.

Jika memang kita tercipta bukan untuk selamanya, percayalah itu yang terbaik.

Jenjang SMA memisahkan kita, jangan membencinya. Pertemuan kita memang indah, tetapi mungkin lebih baik berpisah. Bukan soal melupakan, tetapi tentang masa depan. Sang pencipta garis kehidupan ingin memberikan hadiah untuk masing-masing kita. Kawan, kelak kuharap kalian sukses menggapai masa depan yang kalian inginkan. Kuharap itu hadiah Tuhan, sebagai tanda terima kasih telah berhasil melewati masa-masa sulit dalam berjuang.

Perjuangan kita bersama telah selesai. Ini puncaknya, perpisahan. Selamat tinggal. Hitungan tahun telah berlalu, perjalanan waktu berhenti di sini. Terkadang aku ingin memutar waktu. 3 tahun adalah waktu singkat untuk pertemuan kita. Aku ingin lebih lama melihatmu. Aku masih ingin tertawa bersamamu. Tak apa, lupakan itu. Fokuslah pada pendidikanmu. Suatu saat, kau akan melihatku menyapamu dengan panggilan konyol kita. Aku akan banyak bertanya padamu. Setelah perpisahan ini, aku tak ingin melihatmu menangis, dan tertawalah setidaknya untukku.

Aku tau kita bisa. Untuk itu, terima kasihku telah tersampaikan lewat lirik di tiap bait yang kuucapkan. Terima kasih telah menghiburku di kala aku menangis. Terima kasih telah mendengar semua keluh kesahku. Terima kasih sudah menjagaku. Prediksiku, takkan kutemukan sisi bahagia ini lagi. Hiperbola panjang yang membosankan, tetapi harus kusampaikan. Aku meminta maaf bila pernah melukai hatimu.

(Visited 26 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *