Hai teman-teman!
Berjumpa lagi dengan saya Arga Ayu Kumala.
Saya ingin bercerita tentang kucing kesayanganku.
Suatu hari, ada kucing liar membawa anak-anaknya ke rumah dan disembunyikan di bawah lemari.Ada 4 anak kucing yang dibawanya kemudian bertambah 2 anak kucing dari tetangga karena ingin dibuang dan saya memintanya untuk dirawat bersama anak kucing tadi. Jadi semua ada 6 anak kucing.
Hari demi hari, bulan demi bulan, kucing-kucing itu sudah beranjak dewasa. Tetapi, hari demi hari juga dari 6 kucing hanya tersisa 3 kucing lagi di rumah, dan 3 kucing yang lainnya tidak tahu pergi ke mana. Tidak pulang-pulang karena biasanya kalau keluar, tidak lama kucing-kucing itu pulang, tapi tidak pada hari itu entah diambil orang atau memang sengaja ada orang yang membuang kucing itu, karena kami cari ke mana-mana tidak ada. Di situ saya merasa sedih dan selalu bertanya di mana kucing-kucing itu berada.
Pada bulan-bulan berikutnya, kucing itu hilang lagi satu, padahal baru saja selesai makan terus kucing itu keluar dan akhirnya tidak pulang lagi. Dari 6 kucing tersisa 3 kucing. Saya memanggil kucing itu dengan nama Pi,Po,Pu. Pi si kucing berwarna orange dan putih, Po si kucing berwarna orange, dan Pu si kucing berwarna putih, dan kucing yang hilang bernama Pi. Karena hilangnya si kucing Pi, aku sedih untuk yang kedua kalinya karena tidak berhasil menemukannya kembali.
Di rumah tersisa si Po dan si Pu , Po si kucing yang tidak terlalu rewel, Pu si kucing yang senang rewel bila sudah mengeong lama diamnya bila sudah dirasa capek baru diam dan tidur. PO dan Pu memiliki perbedaan layaknya manusia. Po takut pada motor dan suara-suara yang keras (mungkin trauma karena si Po pernah hampir ketabrak motor), setelah kejadian itu Po jarang sekali main keluar hanya dari pintu saja jika ingin melihat-lihat suasana luar. Kalau Pu si kucing yang suka main keluar(mungkin jenuh di rumah kali) kata aku dalam hati hehehe....)
PO dan Pu si kucing yang sangat lucu dan menggemaskan. Mereka bisa menjadi teman dan menemaniku di rumah.
Entah apa yang membuat Po waktu itu keluar rumah dan tidak tahu apa yang dimakan, paginya Po baik-baik saja tapi menjelang sore Po muntah-muntah karena keracunan. Saya dan mama berusaha menolong Po, tapi saya dan Mama gagal menyelamatkannya. Akhirnya Po mati di pangkuan Mama. Sakit sekali rasanya pada waktu itu kalau saja tahu akan seperti itu saya larang Po untuk keluar .
Tapi semuanya sudah terlambat bahkan sampai sekarang pun kalau teringat Po pasti menangis. Menangislah saya dan mama pada waktu itu, dari bayi dirawat malah keracunan, sedih dan sakit rasanya hati ini kenapa tidak bisa menolong.
“Maafkan saya Po”kata-kata itu yang selalu saya ucapkan. Hingga akhirnya Po dimandikan, dipakaikan kain masih baru lalu dikubur. Jika kangen sama Po, saya pergi melihat kuburannya. Seolah-olah Po masih hidup. Kehilangan kucing yang dirawat dari bayi seperti kehilangan seseorang, rasanya sedih……
Tinggal Pu yang menjadi teman di rumah, kalau mama sedang tak di rumah. Meskipun rewel, Pu juga lucu menggemaskan. Kalau Mama sedang pergi ada kepentingan, Pu pasti banyak rewel dibanding kalau Mama di rumah ( merasa nyaman kali ya gumam saya hehehe…) Sehat-sehat selalu Pu….
Sehat selalu kucing -kucing yang di luar sana.
Demikian cerita tentang kucing kesayanganku yang saya rawat dengan sepenuh hati.
Watansoppeng, 2 Oktober 2022
