“Di mana ada pertemuan, di situ ada perpisahan. Diawali dengan sapaan ‘selamat datang’ dan diakhiri dengan kata ‘selamat tinggal’.” Semua akan terjadi seiring berjalannya waktu. Tidak ada yang abadi, kecuali kisah hidup yang dituangkan ke dalam sebuah tulisan.

Diawali dengan menyandang status sebagai siswa baru dan diakhiri dengan status sebagai alumni. Segala candaan akan diakhiri dengan kesedihan di akhir perpisahan. Berat yang tak berwujud.

Terima kasih SMPN SATAP 10 Kolaka Utara. Senang menjadi salah satu siswamu, senang sekali. Terima kasih karena telah menjadi tempat saya menempuh pendidikan. Terima kasih atas ruang dan waktunya yang selalu memberi banyak manfaat. tiga tahun bersama akan menjadi sejarah yang terbaik.

Terima kasih bapak dan ibu guru yang selalu mendidik saya di setiap waktu, selalu mengajarkan saya banyak hal hal penting, selalu memberikan banyak ilmu dengan tulus, terus menjadi pahlawan tanpa tanda jasa dalam dunia pendidikan.

Jasa kalian terlalu sayang untuk di kenang. Karena itu, saya akan abadikan jasa bapak dan ibu guru ke dalam sebuah tulisan. Sejatinya, kisah para pahlawan akan diabadikan ke dalam sebuah tulisan. Selamat menjadi tokoh utama yang abadi: pahlawan tanpa tanda jasa.

Terima kasih juga kepada teman-teman Kelas IX yang selalu menjadi manusia-manusia penghibur. Perjuangan kita selama tiga tahun telah berakhir sampai di titik ini. Sukses di jenjang selanjutnya, ya? Sampai bertemu di titik terbaik versi diri kita sendiri.

Selamat menjadi kisah yang abadi 022. []

(Visited 49 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Jusnia Paseba

Jusnia Paseba tinggal di Kolaka Utara. Anak terakhir dari empat bersaudara ini memang cemerlang sejak kecil. Jusnia terkenal sebagai juara umum sejak di taman kanak-kanak, SD hingga SMP. Tidak hanya itu, dia pun pernah menjadi juara pertama lomba dai cilik dan juara pertama cerdas cermat Al-Qur'an. Jusnia mulai suka menulis sejak duduk di bangku SD. Dia sangat terinspirasi setiap kali membaca profil para penulis di halaman belakang buku paket sekolah. Mencoba mengembangkan kemampuannya menulis, Jusnia pernah ikut lomba menulis cerpen nasional dan berhasil meraih posisi top 50 cerpen terbaik dan kemudian dibukukan. Novelnya yang berjudul "Pesan Terakhir untuk Sang Fajar" sudah launching pada bulan Agustus 2021. Selain menulis, Jusnia pun hobi membaca cerita, baik yang bertema fantasi maupun yang bertema fiksi remaja. Moto hidupnya, "Jangan pernah ingin merasakan manis jika tidak ingin melewati pahitnya. Tidak ada sesuatu yang bisa instan, sekalipun itu mi instan."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *