Meira bukanlah anak yang serba kecukupan. Meira bukanlah anak yang lengkap. Meira hanya anak yang ingin hidup di atas kesempurnaan.
Sejak dini dia sudah ditinggal oleh kedua orang tuanya lalu dirawat oleh sang nenek, tepat di umur 11 tahun nenek juga ikut meninggalkannya. Papa anak tunggal, Mama masih memiliki satu saudara yang hidupnya bisa dikatakan serba kecukupan. Namun, sudah satu tahun kepergian Nenek menyusul Mama dan Papa, saudara Mama tak pernah datang menghampirinya.
Untuk memenuhi kehidupan Meira setiap harinya dia selalu ke sawah membantu para petani, lalu nanti dia akan memperoleh upah yang cukup untuk dia makan.
Fani anak Tante Della atau saudara Mama,merupakan teman satu kelas Meira di bangku SMP. Terbilang sudah hampir satu tahun mereka satu kelas, Fani tak pernah mengajak Meira untuk sekadar bermain bahkan saat pulang pun dia enggan untuk memanggil Meira agar ikut bersamanya.
“Fani, hari ini pulang sama siapa?” Tanya Meira sembari memberhentikan sepedanya di depan Fani.
“Kamu temanan sama anak ini Fan?” Tanya Putri bersuara melihat Meira yang berbicara pada Fani.
“Ya enggaklah! Mana ada teman aku kucel kayak dia. Mana sepatunya udah ketawa lagi,” kata Fani menatap Meira dengan tatapan merendahkannya.
“Eh Meira,sepatu kamu tuh minta diganti. Udah ketawa begitu masih ajah dipakai,” kata Putri dengan sambil tertawa remeh.
Meira menatap sepatunya dengan sendu. Ganti sepatu? Bahkan, makan sehari-harinya saja sangat susah apalagi mau beli sepatu.
“Loh Fani sama Putri dari tadi baliknya?” Lamunan Meira teralihkan saat mendengar suara yang begitu familier di pendengarannya.
“Tante Della,” batin Meira saat melihat Tantenya itu.
“Tante Della apa kabar? Meira rindu banget sama Tante. Kenapa ga pernah main ke rumah semenjak nenek udah meninggal,” kata Meira segera memeluk Tante Della usai memarkirkan sepedanya.
“Ih lepasin,apa-apaan sih main peluk-peluk ajah,” Tante Della berusaha memberontak agar terlepas dari pelukan Meira.
Tersirat rasa kecewa yang kian menghampiri Meira. Meira kira setelah kepergian Nenek, Tante Della akan merawatnya, nyatanya tidak sama sekali.
“Loh Tante Della kenal dia?” Putri kembali bersuara melihat kelakuan Meira terhadap Tante Della.
“Nggak kok,Tante ga kenal. Ini siapa sih?” Tanya Tante Della begitu dengan suara paniknya.
“Tante Della ga kenal aku? Ini aku Meira ponakan Tante,” kata Meira bersikeras.
“Saya ga punya ponakan yah. Sana kamu jauh-jauh. Fani,Putri ayo naik mobil cepat,” kata Tante Della terburu-buru segera meninggalkan Meira.
Meira menatap sendu kepergian Tantenya itu. Apa dia seburuk ini?
“Tuhan,kenapa orang-orang di sekeliling Meira pergi menjauh dari Meira? Kenapa Meira tidak bisa dekat dengan mereka. Meira punya salah apa?” Batin Meira lalu berjalan menuju di mana sepedanya di parkir.
Dengan pikirannya yang campur aduk Meira tetap senantiasa mengayuh sepedanya,dalam hati dia selalu bertanya-tanya kenapa Tante Della dan Fani sangat enggan dengannya. Dahulu saat Nenek sakit Tante Della selalu datang menjenguk Nenek bahkan kadang membawa Nenek ke rumahnya tetapi, Meira tidak pernah diikutkan alasannya tinggal jaga rumah.
“Meira salah apa sama Tante Della? Apa karena Meira ga punya orang tua lagi sampai Tante Della ga mau anggap Meira. Apa karena kasta Meira yang sangat jauh berbeda dengan Tante Della?” Dalam hati Meira kembali bertanya-tanya.
Tempat yang selalu Meira kunjungi ketika habis sekolah adalah sawah, yah sawah apalagi kalau tidak mencari nafkah.
“Assalamualaikum Pak, Bu, apa hari ini ada yang bisa Meira bantu?” Tanya Meira pada salah pembajak sawah.
“Aduh mohon maaf neng udah nggak ada lagi, cari di tempat yang lain ajah yah,” jawabnya dengan lembut.
“Em ya udah kalau begitu terima kasih banyak Pak,Bu,” jawab Meira lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Meira kembali berada di ladang sawah yang tak jauh dari tempat dia mampir tadi.
“Assalamualaikum Bu, apa ada yang bisa Meira bantu?”
“ Mohon maaf Dek, udah nggak ada,” jawab Ibu-ibu itu.
Meira mengembuskan nafasnya secara kasar,kini dia akan kembali mencari lagi di tempat yang lain.
Meira terus mengunjungi para pembajak sawah satu persatu,dan bahkan sekarang ini Meira sudah di sawah yang berbeda,sampai saat ini dia belum mendapatkan upah. Orang-orang sawah sudah menanam dan belum ada lagi yang panen hal inilah membuat dia sulit untuk mendapatkan pekerjaan di sawah.
Sudah menunjukkan pukul Lima sore hari,dan Meira belum mendapatkan apa-apa dengan lemas Meira berjalan kembali menuju rumah sederhananya. Ini sudah hampir malam para pembajak sawah bahkan sudah ada yang pulang.
“Assalamualaikum,” ucap Meira saat memasuki rumah nya.
Meira berjalan menuju dapur berharap hari ini dia masih mempunyai makanan yang cukup untuk membuatnya kenyang.
“Yah, udah pada habis semua,” katanya dengan kecewa.
“Meira udah ga punya makanan lagi, Meira juga udah lapar terakhir tadi pagi makan sepotong roti,” katanya dengan nada pelan.
“Gimana yah caranya biar bisa makan?”
“Apa aku ke rumah Tante Della? Pasti Tante Della punya banyak makanan! Yah iya aku ke rumah tante Della,” katanya dengan penuh semangat berlari keluar.
Jarak tempat Meira dan Tante Della cukup jauh,tapi Meira pergi menggunakan sepeda kunonya membuatnya tidak memakan banyak waktu.
“Alhamdulillah sampai juga,” kata Meira lalu memarkirkan sepedanya.
Tok… Tok…
“Assalamualaikum.”
Tok..tok..
“Tante Della, Fani, assalamualaikum,” Teriak Meira sembari mengetuk-ngetuk pintu.
“Waalaikumsalam siapa sih bris—LOH MEIRA? Kamu ngapain ke rumah Tante?”
“Meira mau makan Tante,dari pagi Meira cuman makan roti doang.”
“Yah terus apa hubungannya sama saya?”
“Me—meira minta makanan Tante.”
“Minta, minta. Kalau mau makan yah kerja sono, jangan kerjanya cuman minta-minta doang.”
“Hari ini Meira ga dapat penghasilan dari sawah Tante.”
“Ya itu bukan urusan saya.Sudah sana kamu kembali nanti suami saya lihat kamu.”
“Tapi Tante Meira lapar,” cegah Meira memegang lengan Tante Della namun,sayangnya langsung di tepis secara kasar.
“Udah yah sana pergi! Jangan datang-datang lagi.”
Brak!
Meira di buat kaget dengan bantingan pintu yang begitu cukup keras. Meira menatap nanar ke arah pintu Tante Della berharap kembali terbuka namun,lima menit berlalu belum ada tanda-tanda untuk terbuka, Meira segera membalikkan badannya meninggalkan rumah itu.
“Meira lapar,” kata Meira tak henti-hentinya sembari terus berjalan.
Di tengah perjalanan hujan turun bersamaan kilat yang begitu keras. Meira ingin bertedu namun, sepertinya tempatnya tidak ada rumah hanya ada banyak pohon.
Kilat terus saja berbunyi dan hujan kini kian deras Meira semakin takut dibuatnya, penglihatan Meira juga perlahan memudar.
“Pusing, Meira lapar,” kali ini Meira sudah tidak dapat mengayuh sepedanya akibat kelelahan.
Mata sayu Meira bergerak mencari tempat di mana dia akan berteduh hingga saatnya dia menemukan sebuah gubuk yang berada di seberang jalan.
“Ada gubuk,” gumam Meira lalu perlahan menyebrang dan
Brak!
Tubuh Meira serasa mati rasa saat itu,langkahnya seketika berhenti,bahkan penglihatannya tambah buram dan Meira hanya mendengar orang yang mengatakan ‘Astagfirullah’
Lima menit tanpa gerakan,hingga sesak di dada kini menyerang Meira, penglihatan Meira yang tadi nya buram kini gelap gulita bagaikan rumah yang tak bercahaya.
Di bawah guyuran hujan yang deras gadis malang bernama Meira terpaksa mundur dari indahnya kehidupan di dunia.
