Oleh: Aisyah Nur Adhayani*

Berjalan di antara sisa cahaya,
menyusuri lorong waktu yang basah oleh diam.
Udara menggigil, menahan gugur dari kata,
sementara pikirannya bergetar di tepi nadi yang terlupa.

Ia mencari arti di balik bayangan,
di mana doa menjelma reranting bisu.
Hari, seperti tubuh asing,
terus hidup tanpa mengerti sebabnya.

“Apakah arti menunggu, bila tak ada yang pulang?”
gumamnya pada pagi yang kehilangan arah.
Langit menatap dengan mata kosong,
dan angin hanya membawa debu jawaban.

Rana menampung sunyi dalam genggam,
mengukur rindu dari denyut yang tertinggal.
Ia tahu, tidak setiap luka bernama duka,
kadang hanya nama lain dari ingatan yang tak mau mati.

Lalu ia berhenti.
Pagi merapat padanya, perlahan seperti pengakuan.
Dan dari kesepian itu,
Rana tersenyum pada kehampaan,
seolah baru mengerti:
bahwa yang disebut hidup
barangkali hanyalah percakapan
antara diri dan sesuatu yang tak pernah menjawab.

Watansoppeng, 1 November 2025

*Penulis adalah Siswi SMAN 1 Soppeng

(Visited 29 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *