Oleh: Khusnul Maqsurah Sukri*

Halo semuanya, kenalin aku Anindya Senja biasa dipanggil Senja. Di sini aku mau menceritakan pengalaman saat pergi ke salah satu Museum Lukisan yang ada di dekat kota kami.

Pada Sore hari sekitar pukul 14.50 aku dan keluarga ingin pergi ke sebuah museum lukisan yang letaknya tak jauh dari kota. Waktu itu kami pergi pada hari Kamis karena kami sekeluarga tak melakukan apa-apa dan juga sekolah sedang libur akhir semester. Sekitar pukul 15.20 kami sekeluarga tiba di museum itu. Kami memang sudah sering ke museum ini, karena tiap bulannya museum ini mengadakan sebuah acara besar-besaran.

Kami pun masuk ke museum. Ayah dan Ibuku bertemu dengan teman lamanya dan mereka berbincang. Aku dan Kedua kakakku memutuskan untuk pergi meninggalkan Ayah dan Ibu untuk pergi melihat lukisan-lukisan terbaru dan kami akan berkumpul di mobil nantinya. Kakak keduaku memilih lorong yang berbeda dengan aku dan Kakak pertamaku. Kami bertiga sempat berdebat kecil karena takut salah satu dari kita akan tersesat di museum itu, dan juga di rumah kami sempat berjanji untuk tidak berpisah saat di museum. Tapi apalah daya, kakak keduaku tidak mempedulikan janji itu. Ia tetap melakukan apa yang ingin ia lakukan.

Aku dan kakak pertamaku melanjutkan perjalanan ke ruangan yang menjadi tujuan pertama kami. Aku dan kakak berpencar di dalam ruangan itu. Ruangan itu tidak terlalu besar, hanya ada beberapa lukisan dan beberapa lokasi untuk tempat beristirahat. Tibalah aku di depan salah satu lukisan yang menurutku lukisan itu lumayan besar dan cukup aneh. Gambar lukisan itu adalah sebuah rumah yang berisikan beberapa anggota keluarga dan juga sebuah lubang kuburan yang berisi sampah dan banyak orang-orang yang mengelilingi kuburan tersebut.

Aku merasa aneh pada lukisan tersebut. Mengapa sebuah lukisan seperti ini bisa masuk ke dalam museum? Mengapa lukisan ini dipajang paling tengah? Bukankah hanya lukisan bersejarah yang dapat masuk ke museum ini? Entahlah. Aku bingung memikirkan itu. Lama waktu yang kuhabiskan untuk memperhatikan lukisan itu. Apakah lukisan itu memiliki sejarah? Pikirku. Aku pun melamun sambil memikirkan makna lukisan itu. Tiba-tiba entah mengapa saat aku melamun, beberapa orang di lukisan itu seperti mengedipkan mata ke arahku dengan wajah sedih. Entahlah, apakah itu hanya perasaanku saja?

Aku berpikir seperti itu, tapi mengapa semakin lama aku berada di ruangan itu aku merasa seperti diperhatikan oleh seseorang. Meski di ruangan itu hanya aku dan kakakku, tapi aku merasa seperti banyak yang memperhatikan diriku. Aku pun membuang pikiran buruk itu dan bergegas menuju ke kakak ku. Aku pun meminta untuk meninggalkan ruangan dan segera pergi ke Ayah dan Ibu, karena jujur saja, aku merasa mataku sangat berat.

Aku merasa ingin tiba di rumah dan tidur di kasur yang empuk. Sampailah aku dan kakak pertamaku ke dalam mobil. Di dalam mobil sudah ada Ayah, Ibu dan kakak keduaku. Kami pulang ke rumah, karena Ayah dan Ibu juga sudah merasa lelah. Selama perjalanan pulang aku tak berhenti memikirkan lukisan tadi. Aku ingin menceritakan kejadian itu ke keluarga tetapi aku tak berani. Aku pun menyimpan cerita itu sendiri dan tak pernah menceritakan kejadian itu. Pertanyaanku cuma 1 untuk lukisan itu, “Apakah Lukisan Itu Hidup?”

TAMAT
*Penulis adalah Siswi SMPN 1 Watansoppeng, Kelas 7.4

(Visited 54 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *