Oleh: Muthia Fadhilah Qalbi*

Sejak aku kecil, satu impian yang tak pernah berubah aku ingin ke Disneyland.
Aku tidak tahu sejak kapan tepatnya keinginan itu muncul. Mungkin sejak pertama kali aku melihat tayangan di televisi tentang taman bermain paling bahagia di dunia itu. Di sana ada kastil yang menjulang tinggi, parade penuh warna, dan tokoh-tokoh Disney yang berjalan sambil melambaikan tangan kepada anak-anak yang tersenyum lebar.

Setiap kali menontonnya, aku langsung berkhayal. Dalam khayalanku, aku mengenakan bando telinga Mickey Mouse, memegang balon warna-warni, dan berlari di taman yang luas sambil tertawa bahagia. Aku juga membayangkan bertemu Elsa dan Anna dari Frozen, berfoto bersama mereka, lalu menonton kembang api yang indah di atas kastil Cinderella.

Suatu sore, aku bercerita pada Mama tentang impianku itu.
“Mama, aku pengin banget ke Disneyland,” kataku sambil menunjukkan gambar kastil di buku majalah.
Mama tersenyum lembut, “Wah, impian yang bagus, Nak. Tapi Disneyland itu jauh, dan perlu biaya besar. Kalau kamu sungguh-sungguh ingin ke sana, kamu harus rajin belajar dan menabung.”

Sejak hari itu, aku mulai menabung dari uang jajanku. Setiap kali mendapat uang lebih, aku masukkan ke celengan berbentuk Mickey Mouse yang kubeli di toko dekat sekolah. Setiap malam sebelum tidur, aku mengguncang celenganku, mendengar bunyi uang logam di dalamnya, dan merasa sedikit lebih dekat dengan mimpiku.

Aku juga mulai mencari tahu tentang Disneyland dari internet. Ternyata, ada banyak Disneyland di dunia. Ada di Amerika, Jepang, Paris, Hongkong, dan bahkan di Shanghai. Aku belum tahu mau ke yang mana, tapi semuanya terlihat luar biasa. Yang di Jepang kelihatannya seru, karena banyak wahana lucu dan makanan berbentuk karakter Disney.

Kadang, kalau aku lagi bosan belajar, aku suka membuka YouTube dan menonton video orang yang sedang berada di Disneyland. Aku ikut tersenyum ketika melihat mereka menaiki wahana It’s a Small World, menonton parade malam, atau berfoto dengan Mickey dan Minnie. Rasanya seperti aku juga ada di sana, walaupun hanya lewat layar kecil.

Mama sering memergokiku menonton video itu dan tertawa. “Kamu ini, tiap hari Disneyland terus yang ditonton.”
Aku nyengir. “Biar semangat, Ma! Kan katanya kalau sering membayangkan impian, nanti bisa jadi kenyataan.” Mama mengangguk sambil tersenyum, “Iya, asal kamu juga berusaha dan berdoa.”

Waktu berjalan cepat. Tabunganku mulai bertambah banyak. Kadang aku hitung bersama Mama, dan kami mencatat jumlahnya di buku kecil. Meski masih jauh dari cukup, aku senang karena setidaknya aku sudah melangkah. Aku belajar bahwa impian besar memang butuh waktu, kesabaran, dan kerja keras.

Suatu malam, saat listrik padam, aku menatap langit dari jendela kamar. Bintang-bintang bersinar terang. Aku membayangkan sedang duduk di taman Disneyland, menonton kembang api meledak di langit malam. Aku bisa merasakan angin sepoi-sepoi dan suara tawa orang-orang di sekitarku. Hatiku hangat.

“Mama,” panggilku pelan, “kira-kira kapan ya aku bisa ke Disneyland?
Mama menatapku dan berkata, “Kalau kamu terus berusaha, terus bermimpi, dan tidak menyerah, pasti akan ada jalan. Kadang mimpi besar datang di waktu yang tepat, bukan waktu yang cepat.”

Kata-kata itu menempel di hatiku. Sejak malam itu, aku semakin semangat belajar. Aku ingin bisa pergi ke Disneyland bukan hanya karena taman bermainnya indah, tapi juga karena itu simbol dari kerja keras dan doa yang terkabul.

Aku tahu, mungkin perjalananku ke Disneyland masih panjang. Tapi setiap kali aku melihat foto kastil Cinderella di dinding kamarku, aku selalu tersenyum dan berkata dalam hati:

Tunggu aku, Disneyland. Suatu hari nanti aku akan datang, dan aku akan membawa mimpiku bersamaku.

Watansoppeng, 20 Oktober 2025

*Penulis adalah Siswi SMPN 1 Watansoppeng kelas 8.4

(Visited 29 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *