Oleh: Adit Anugrah Pratama

Hujan turun tanpa aba-aba sore itu. Deras, seolah langit sedang melampiaskan rindu yang terlalu lama disimpan.Di tengah rinainya, dua orang berdiri di bawah satu payung. Saling diam, tapi diam mereka penuh cerita.

Ia memegang gagang payung itu dengan erat, sedikit memiringkannya agar orang di sebelahnya tidak kehujanan.Sementara orang itu menunduk, menatap ujung sepatu yang mulai basah.
Tak ada kata, hanya bunyi hujan yang memecah keheningan.

Dulu, mereka sering tertawa di bawah payung yang sama. Payung ini menjadi saksi obrolan ringan, gurauan kecil, bahkan pertengkaran yang akhirnya berujung tawa. Tapi hari ini berbeda. Payung yang sama, namun rasanya tidak lagi hangat.

Mereka tahu, setelah hujan berhenti, segalanya juga akan berakhir. Tidak ada lagi alasan untuk tetap berdiri berdampingan. Payung ini hanya pertemuan singkat, pengingat bahwa beberapa kebersamaan diciptakan bukan untuk selamanya, tapi untuk dikenang sesaat sebelum pergi.

“Jangan lupa bawa payungmu sendiri lain kali,” ucapnya pelan. Suara itu nyaris tenggelam oleh hujan, tapi cukup untuk membuat hati yang satu lagi bergetar.
Ia mengangguk, meski dalam hati berkata, andai kamu tahu, aku ingin hujan ini tak pernah berhenti.

“Beberapa orang hanya singgah sebentar, seperti hujan, datang membawa teduh, lalu pergi meninggalkan dingin yang tak mudah hilang.

Watansoppeng, 7 Oktober 2025

(Visited 14 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *