Oleh: Adit Anugrah Pratama

Taman kota mulai sepi sore itu. Matahari perlahan merunduk, sinarnya temaram menembus celah pepohonan. Seorang pria duduk diam di bangku putih yang mulai pudar catnya. Ia mengenakan jas sederhana, menatap jauh ke depan tanpa tujuan yang jelas.

Bukan karena menunggu siapa pun. Ia hanya butuh tempat untuk berpikir. Seharian penuh kepalanya dipenuhi suara, suara kantor, suara kota, suara orang-orang yang meminta jawaban darinya. Tapi di sini, hanya ada suara angin dan daun bergesekan.

Bangku taman ini sudah lama menjadi “tempat pelarian” baginya. Dulu, saat masih sekolah, ia sering datang ke sini setelah dimarahi guru. Saat kuliah, tempat ini jadi lokasi favorit untuk menenangkan diri sebelum ujian. Dan sekarang, di tengah kesibukan hidup dewasa, bangku ini tetap setia menemaninya diam.

Ia menarik napas panjang. Ada perasaan aneh setiap kali duduk di sini — seperti berbicara dengan diri sendiri yang lebih jujur. Semua topeng yang biasa ia kenakan seolah terlepas perlahan. Tak ada peran yang harus dimainkan, tak ada jawaban yang harus diberikan. Hanya dirinya, dan pikirannya.

Dari kejauhan terdengar suara anak-anak tertawa, mungkin sedang bermain sebelum matahari benar-benar tenggelam. Pria itu tersenyum kecil. Hidup terus berjalan, meski kadang kita perlu berhenti sejenak.

Ia menatap langit yang mulai berwarna jingga keabu-abuan, lalu berdiri pelan. Waktunya kembali ke dunia yang ramai. Tapi ia tahu, bangku ini akan selalu menunggunya, memberi sepotong waktu yang tenang, kapan pun ia membutuhkannya.

✨ “Kadang, ketenangan bukanlah tempat yang kita temukan… tapi waktu singkat di mana kita benar-benar mendengarkan hati sendiri.”

Watansoppeng, 10 Oktober 2025

(Visited 14 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *